Kisah Sunan Kudus Menusuk Siku Kebo Kenanga Murid Syeh Siti Jenar

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 05 Mei 2021 07:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 05 337 2405763 kisah-sunan-kudus-menusuk-siku-kebo-kenanga-murid-syeh-siti-jenar-DpJ9cLLB95.jpeg Sunan Kudus.(Foto:Dok Okezone)

DALAM Babad Tanah Jawi diceritakan tentang Kebo Kenanga. Kakaknya bernama Raden Kebo Kanigara, dan adiknya bernama Kebo Amiluhur. Ketiganya adalah putra pasangan Andayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh dan Retno Pembayun).

Nama asli Andayaningrat adalah Jaka Sengara. Ia diangkat menjadi Bupati Pengging, karena berjasa dalam menemukan Retno Pembayun, putri dari Brawijaya V, Raja Majapahit yang diculik Menak Daliputih, Raja Blambangan, putra Menak Jingga.

Jaka Sengara berhasil menemukan sang putri dan membunuh penculiknya.Jaka Sengara kemudian menjadi Raja Muda Pengging, bergelar Andayaningrat atau Ki Ageng Pengging I.

Serat Kanda mengisahkan, Andayaningrat tewas di tangan Sunan Ngudung panglima pasukan Demak yang juga anggota Walisanga. Kebo Kenanga kemudian menjadi penguasa Pengging menggantikan ayahnya. Kebo Kenanga adalah juga keponakan ,Sultan Demak, Raden Patah.

Baca Juga: Kisah Sunan Bonang Temukan Kitab Sultan Minangkabau yang Tenggelam di Laut

Kebo Kenanga kebingungan antara mempertahankan keyakinan warisan orang tuanya dengan tekanan dari kerajaan Demak, akhirnya mempertemukan dirinya dengan Syeh Siti Jenar.

Ajaran Syeh Siti Jenar dipandang bisa menjadi jalan tengah di antara dua keyakinan yang harus dipilihnya. Ia menjadi murid terbaik sebagai generasi penerus setelah Syeh Siti Jenar dihukum mati.

Nama Kebo Kenanga menjadi salah satu orang yang diburu di masa pemerintahan Raden Patah. Ia dicurigai Raden Patah hendak memberontak karena tidak mau menghadap ke Demak. Patih Wanapala dikirim ke Pengging untuk menyampaikan teguran. Waktu setahun berlalu dan Ki Ageng Pengging tetap menolak menghadap.

Kerajaan Demak juga menganggap ajaran yang disampaikan oleh Syeh Siti Jenar dipandang sesat. Agar kesesatan itu tidak sampai meluas, maka Syeh Siti Jenar harus dihukum mati. Hukuman yang sama juga diterapkan pada para pengikut sang wali, bila tidak segera bertobat.

Kebo Kenanga bidikan utama, posisinya sebagai seorang adipati di wilayah Pengging banyak mmeiliki pengikut. Kebo Kenanga kukuh dalam mempertahankan keyakinannya.

Akhirnya penguasa Demak yang didukung Wali Songo, memutuskan untuk memberikan hukuman mati kepada Kebo Kenanga. Sunan Kudus yang diutus sebagai eksekutornya.

Sunan Kudus disambut baik di Pengging. Hingga kemudian keduanya saling beradu pandangan terkait ajaran Islam.

Sebenarnya Sunan Kudus mengakui bahwa apa yang disampaikan Kebo Kebanga benar. Tapi sebagaimana ajaran Syeh Itu Jenar. Tentu dibutuhkan tingkatan spiritualitas tinggi untuk bisa memahami dengan baik.

Padahal saat itu masyarakat masih dalam tahap awal mengenal Islam. Sehingga justru dipandang membahayakan akidah mereka. Makanya Kebo Kenanga tetap harus dihukum mati. Di Babad Tanah Jawi diceritakan pertemuan Sunan Kudus dan Kebo Kenanga.

Suasana Kadipaten Pengging benar-benar lenggang. Penduduk pergi ke sawah dan ladang masing-masing. Pendapa atau istana Kadipaten tidak kelihatan.

Sunan Kudus memerintahkan tujuh orang pengikutnya menunggu di ujung desa. Dia sendiri berjalan menuju rumah Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging.

Di depan pintu rumah Ki Ageng Pengging ada seorang pelayan wanita setengah baya. Sunan Kudus memberi salam kemudian mengutarakan maksud kedatangannya untuk menemui Ki Ageng Pengging.

Ki Ageng bersedia menerima tamunya. Sunan Kudus dipersilahkan masuk ke dalam rumahnya. Istri Ki Ageng Pengging membuatkan minuman untuk menghormat tamu khusus itu. Tinggallah di ruang tamu itu Ki Ageng Pengging dan Sunan Kudus.

"Wahai Ki Ageng, saya diperintahnya oleh Sultan Demak Bintoro. Manakah yang kau pilih. Di luar atau di dalam? Di atas atau di bawah?" tanya Sunan Kudus.

Ki Ageng Pengging menghela nafas, tiga tahun yang lalu dia juga diberi pertanyaan serupa oleh Ki Wanasalam, Patih Demak Bintoro.

"Jawabanku tetap sama dengan tiga tahun yang lalu," kata Ki Ageng Pengging. "Atas-bawah, luar-dalam adalah milikku. Aku tak bisa memilihnya," tuturnya.

Jawaban itu bagi Sunan Kudus sudah sangat jelas. Berarti Ki Ageng Pengging punya maksud ganda. Ingin menjadi rakyat atau bawahan Demak Bintoro sekaligus ingin menjadi penguasa Demak Bintoro. Ia tidak mau mengakui Raden Patah sebagai raja Demak.

Ki Ageng Pengging murid Syekh Siti Jenar, gurunya yang sudah dihukum mati karena kesesatannya. Sunan Kudus ingin mengetahui apakah Ki Ageng Pengging masih meyakini ilmu dari Syekh Siti Jenar itu atau sudah meninggalkan sama sekali.

"Saya pernah mendengar bahwa Ki Ageng bisa hidup di dalam mati dan mati di dalam hidup," ujar Sunan Kudus. "Benarkah apa yang saya dengar itu? Saya ingin melihat buktinya."

"Memang begitu!" jawab Ki Ageng Pengging. "Kau anggap apa aku ini maka aku akan menurut apa yang kau sangka. Kau anggap aku santri memang aku santri, kau anggap aku ini raja, memang aku keturunan raja, kau anggap aku ini rakyat memang aku rakyat, dan kau anggap aku ini Allah aku memang Allah!" lanjut Ki Ageng

Maka jelas Ki Ageng Pengging adalah pengikut Syekh Siti Jenar yang berpaham Wihdatul Wujud atau berfilsafat serba Tuhan. Paham itu adalah bertentangan dengan Islam yang disiarkan para Wali, sehingga Syekh Siti Jenar dihukum mati.

Sunan Kudus tahu murid-murid Syekh Siti Jenar itu mempunyai ilmu-ilmu yang aneh, kadangkala mereka kebal. Maka Sunan Kudus mengorek kelemahan Ki Ageng Pengging dengan jalan diplomasi.

"Seperti pengakuan Ki Ageng bahwa Ki Ageng dapat mati di dalam hidup. Saya ingin melihat buktinya!" ujar Sunan Kudus lagi.

"Jadi itukah yang dikehendaki Sultan Demak?" ujar Ki Ageng dengan suara parau. "Baiklah, tidak ada orang mati tanpa sebab, maka kau harus membuat sebab kematianku. Tapi jangan melibatkan orang lain. Cukup aku saja yang mati," ujarnya.

Sunan Kudus menyanggupi permintaan Ki Ageng. "Tusuklah siku lenganku ini …!" ujar Ki Ageng membuka titik kelemahannya. Sunan Kudus pun melakukannya.

Siku Ki Ageng ditusuk dengan ujung keris, seketika matilah Ki Ageng Pengging. Sunan Kudus kemudian keluar rumah Ki Ageng Pengging dengan langkah tenang. Disambut oleh tujuh pengikutnya di ujung desa. Mereka berjalan menuju Demak Bintoro.

Sementara itu istri Ki Ageng Pengging yang hendak menghidangkan jamuan makan menjerit melihat suaminya mati di ruang tamu. Penduduk sekitar berdatangan ke rumahnya. Setelah tahu pemimpinnya dibunuh mereka memanggil penduduk lainnya dan bersama-sama mengejar Sunan Kudus.

Sekitar 200 orang bekas prajurit dan perwira dipimpin oleh bekas Senopati Kadipaten Pengging mencabut senjata dan berteriak-teriak memanggil Sunan Kudus dari kejauhan.

Sunan Kudus berhenti. Dibunyikannya Bende Kyai Sima. Tiba-tiba muncul ribuan prajurit Demak yang berlarian ke arah timur. Orang-orang Pengging mengejar ke arah timur, padahal Sunan Kudus dan pengikutnya berada di sebelah utara.

Tidak berapa lama kemudian 10 ribuan prajurit itu lenyap. Orang Pengging kebingungan, tak tahu harus berbuat apa. Akal mereka seperti hilang.

Sunan Kudus kasihan melihat keadaan mereka, akhirnya mereka dibuat sadar kembali. "Jangan turut campur urusan besar ini. Ki Ageng Pengging sudah diperingatkan selama tiga tahun. Tapi dia tetap tak mau menghadap ke Demak. Itu berarti dia sengaja hendak memberontak! Nah, kalian rakyat kecil, tak ada hubungannya dengan urusan ini. Pulanglah!" suara Sunan Kudus.

Penduduk Pengging baru sadar dan mengerti bahwa yang mereka hadapi adalah seorang Senopati Demak Bintoro. Mereka tak akan mampu menghadapinya.

"Ada tugas yang lebih penting daripada berbuat kesia-siaan ini," kata Sunan Kudus. "Segeralah kalian urus jenazah Ki Ageng. Itulah penghormatan kalian yang terakhir kepada pemimpin kalian."

Orang-orang Pengging itu tak menemukan pilihan lain. Akhirnya mereka kembali ke rumah Ki Ageng untuk menguburkan jenazah pemimpin mereka.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini