Kisah Prajurit Pangeran Diponegoro Dirikan Pesantren di Beberapa Wilayah di Jatim

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 05 Mei 2021 06:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 05 337 2405757 kisah-prajurit-pangeran-diponegoro-dirikan-pesantren-di-beberapa-wilayah-di-jatim-eoPY9DNApk.jpg Pangeran Diponegoro.(Foto:Dok Okezone)

DALAM jurnal ilmiah berjudul "Menelusuri Jejak Laskar Diponegoro di Pesantren" diterbitkan di FALASIFA : Jurnal Studi Keislaman karya Rizal Mumazziq Z STAI Al-Falah As-Sunniyyah Kencong Jember, ditulis penyebaran prajurut Pangeran Diponegoro di wilayah Jawa Timur, pasca-perang jawa.

Di Jawa Timur jejak perjuangan laskar Diponegoro bisa dilacak melalui teritorial Magetan. Di kota ini, ada Pesantren Takeran, yang didirikan oleh Kiai Kasan Ngulama (Kiai Hasan Ulama), seorang guru Tarekat Syattariyah, yang juga merupakan putera Kiai Khalifah, pengikut setia Pangeran Diponegoro.

Kiai Khalifah alias Pangeran Kertopati usai perang mengungsi ke arah timur Gunung Lawu, Magetan, dan membangun sebuah padepokan agama di Bogem, Sampung, Ponorogo.

Baca Juga: Kisah 7 Wali Betawi dan Makam Wali yang Berubah Jadi Bong Tionghoa

Sezaman dengan Kiai Khalifah, seorang sahabatnya saat berperang, Kiai Abdurrahman, juga mendirikan sebuah masjid di Dusun Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi, Magetan. Di kemudian hari, salah seorang putera Kiai Khalifah, yaitu Kiai Hasan Ulama, mendirikan pesantren di Takeran Magetan.

Di pondok yang merupakan cikal bakal Pesantren Sabilil Muttaqin (PSM), Kiai Hasan melakukan kaderisasi para santri yang kelak juga banyak mendirikan pesantren lain di berbagai daerah.

Berasal dari Bagelen, Purworejo, trio veteran Perang Jawa: Kiai Nur Qoiman, Nuriman dan Ya’qub, memutuskan mbabat alas di Desa Gondang, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek. Di desa ini, tiga bersaudara tersebut mendirikan sebuah masjid.

Keberadaan masjid sederhana ini kemudian berkembang menjadi sebuah pesantren salaf di era kepemimpinan Kiai Murdiyah alias Kiai Muhammad Asrori, yang merupakan murid Kiai Kholil Bangkalan.

Di era Kiai Asrori, banyak santri yang datang berguru. Kebanyakan berasal dari wilayah Mataraman dan Jawa Tengah. Pesantren berusia tua ini sekarang menggunakan nama PP. Qomarul Hidayah.

Di Kediri, seorang saudara tiri Diponegoro, Sabar Iman alias Kiai Bariman bin Hamengkubowono III, menyingkir dari keratonnya dan memilih tinggal di kota ini. Dari silsilah Kiai Sabar Iman ini lahir Abdul Ghofur.

Di kemudian hari salah satu putra Abdul Ghofur, Mukhtar Syafa’at, menjadi salah seorang ulama terkemuka di Banyuwangi. Pesantren yang dirintis, Darussalam, berkembang dengan ribuan santri. Saat ini, pesantren yang didirikan oleh Kiai Mukhtar Syafaat diasuh oleh putranya, KH. Ahmad Hisyam Syafaat.

Di Kediri juga terdapat Pesantren Kapurejo yang didirikan oleh Kiai Hasan Muhyi. Setelah bergerilya di lereng Gunung Lawu, Wilis, dan Kelud, Kiai Hasan Muhyi (Raden Mas Ronowidjoyo), seorang perwira tinggi dalam Detasemen Sentot Alibasah Prawirodirdjo, akhirnya mendirikan Pesantren Kapurejo, di Kecamatan Pagu.

Pesantren tua ini banyak menelurkan alumni yang kemudian mendirikan pesantren di wilayah Nganjuk dan Kediri. Kiai Ahmad Sangi mendirikan Pesantren Jarak di Plosoklaten, Kiai Nawawi merintis Pesantren Ringinagung, Kiai Sirojuddin merintis pendirian Pesantren Jombangan, dan beberapa kiai lain juga mendirikan masjid di berbagai tempat tinggal masing-masing.

Selain itu, ada juga Pesantren Miftahul Ulum, Jombangan, Tertek, Pare, Kediri, yang didirikan oleh Kiai Sirojuddin, kurang lebih limabelas tahun setelah penangkapan Pangeran Diponegoro.

Kiai Sirojuddin kelahiran Kudus, bergabung dengan pasukan gerilya Diponegoro beberapa saat menjelang Perang Jawa pecah. Hingga saat ini, Pesantren Miftahul Ulum dilanjutkan oleh keturunannya dan fokus pada pengembangan kajian al-Qur’an dan kitab kuning.

Di Nganjuk, terdapat Pesantren Miftahul Ula, Nglawak, Kertosono. Pendirinya adalah Kiai Abdul Fattah Djalalain. Ayahnya,

Kiai Arif, adalah cucu Pangeran Diponegoro, karena Kiai Arif adalah putera Kiai Hasan Alwi, yang merupakan putera Diponegoro dari selirnya. Kiai Arif semasa hidupnya diburu serdadu Belanda dan sering berpindah tempat. Terakhir, ia menetap di desa Banyakan, Grogol, Kediri.

Di kemudian hari, Kiai Arif menikah dengan Sriyatun binti Kiai Hasan Muhyi, pengasuh Pesantren Kapurejo. Dari pasangan ini, Kiai Fattah lahir.

Pada era revolusi fisik, Kiai Fattah yang juga santri Kiai Hasyim Asyari ini menjadi magnet para laskar rakyat, termasuk Hizbullah dan Sabilillah. Sebab, beliau banyak memberikan wirid, amalan keselamatan, serta kekebalan bagi para pasukan yang mau terjun ke medan perang. Kiai kelahiran 9 April 1909 ini juga menjadikan pesantren asuhannya sebagai markas Hizbullah dan Sabilillah.

Di Jombang, terdapat nama Kiai Abdussalam, salah seorang pasukan Diponegoro, yang merintis pondok di Desa Tambakberas. Ketika mbabat alas, ia bersama pengikutnya mendirikan sebuah langgar kecil dan pemondokan di sampingnya untuk 25 pengikutnya.

Kelak, karena jumlah santrinya dibatasi 25 orang, pondok ini dikenal dengan nama pondok selawe alias “pesantren dua puluh lima” atau disebut pondok telu karena hanya ada tiga unit bangunan.

Di kemudian hari, Bani Abdussalam mendominasi jaringan ulama di wilayah Jombang, Kediri, dan sekitarnya. Hal ini dikarenakan mayoritas silsilah para kiai di wilayah ini mengerucut pada namanya.

Salah seorang puterinya, Layyinah, dipersunting Kiai Usman yang kemudian menurunkan Kiai Asy’ari, ayah dari KH. M. Hasyim Asy’ari. Adik Layyinah yang bernama Fatimah menikah dengan Kiai Said.

Pasangan ini dikaruniai putera bernama Chasbullah Said. Nama terakhir ini adalah ayah dari KH. A. Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU.

Sedangkan adik Kiai Wahab menikah dengan KH. Bisri Syansuri, ulama yang berasal dari Pati. Kiai Bisri kemudian berbesanan dengan gurunya, Kiai Hasyim Asy’ari.

Di kemudian hari, pesantren ini menjadi cikal bakal pesantren besar lain di wilayah Jombang, seperti Tebuireng, Rejoso, Denanyar, Seblak, dan sebagainya.

Sedangkan Kiai Abdul Wahid, veteran lainnya, merintis pesantren di Desa Ngroto. Adapun anaknya, Asy’ari, di kemudian hari mendirikan pesantren di Desa Keras. Nama terakhir ini adalah ayah dari KH. M. Hasyim Asy’ari.

Di Pacitan, ada Pondok Tremas yang banyak melahirkan ulama besar , dari Syaikh Mahfudz Attarmasi , Mbah Hamid Pasuruan , Kiai Ali Maksum Krapyak , Kiai Zubair Umar , Rektor IAIN Walisongo Semarang ; hingga Menteri Agama era 1970-an , Prof. Mukti Ali.

Pondok tua ini berdiri tepat ketika Perang Jawa berakhir , 1830 . Pendirinya , Kiai Abdul Manan Dipomenggolo , adalah menantu perwira laskar Diponegoro yang bernama Raden Ngabehi Honggo Widjoyo .

Kiai Manan ini adalah salah satu perintis hubungan intelektual Nusantara dan Mesir , sebab beliau pernah menunut ilmu di Al-Azhar dan mendirikan sebuah ruwaq Jawi alias semacam asrama tempat tinggal para penuntut ilmu asal Nusantara .

Di Banyuwangi, keberadaan laskar Diponegoro bisa dilacak melalui jaringan intelektual - spiritual yang dibina oleh Kiai Sabar Iman bin Sultan Diponegoro II ( Raden Mas Alip alias Raden Mas Sadewo) yang cucunya , Kiai Mukhtar Syafaat , kelak mendirikan pesantren terbesar di Banyuwangi , Darussalam , yang terletak di Desa Blokagung .

Beberapa nama pesantren di atas adalah sebagian kecil dari lembaga pendidikan yang dirintis oleh para veteran Perang Jawa ini, khususnya di Jawa Timur.

Selain itu masih ada banyak pesantren di Jawa Tengah yang didirikan oleh mereka. Belum terhitung lagi jumlah masjid kuno dan langgar yang nama pendirinya tidak terlacak.

Peralihan strategi dari perjuangan bersenjata ke perjuangan pencerdasan masyarakat di bidang pendidikan ini di kemudian hari menampakkan hasilnya .

Usai perang , beberapa pesantren yang didirikan oleh anak - cucu laskar Diponegoro maupun muridnya semakin bertumbuh kembang . Misalnya Pesantren Maskumambang Gresik ( 1859 ) , Pesantren Berjan Purworejo ( 1870 ) , Pesantren Arjawinangun Cirebon , Pesantren al-Amin Prenduan Sumenep , Pesantren Kedunglo Kediri , Pesantren Genggong Probolinggo ( 1839 ) , Pesantren Langitan Tuban ( 1852 ) , Pesantren Rejoso Jombang (1885 ) , Pesantren Guluk-Guluk Sumenep ( 1887 ) dan sebagainya.

Hingga saat ini pesantren - pesantren di atas masih bertahan dan berkembang pesat . Perjuangan Laskar Diponegoro , sungguhpun secara kasat mata berakhir manakala sang pangeran ditangkap Belanda , namun secara faktual justru dimulai manakala strategi perjuangan diubah : dari medan perang ke arena pendidikan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini