Penerbangan Jakarta-Wuhan Dibuka, Epidemiolog: Tidak Ada Negara yang Aman dari Covid-19

Binti Mufarida, Sindonews · Senin 03 Mei 2021 16:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 03 337 2404891 penerbangan-jakarta-wuhan-dibuka-epidemiolog-tidak-ada-negara-yang-aman-dari-covid-19-mOkJC037Mr.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Pemerintah telah membuka penerbangan Jakarta-Wuhan pulang-pergi (PP) setelah selama setahun ditutup lantaran adanya pandemi Covid-19. Rute tersebut dilayani oleh maskapai penerbangan Lion Air setiap Senin.

Kasus Covid-19 ditemukan pertama kali di Wuhan, meskipun di sana kini sudah mulai terkendali. Lalu, apakah masih berpotensi terjadi transmisi penularan Covid-19 dari Wuhan.

Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman meminta agar waspada terhadap risiko transmisi penularan Covid-19. Seharusnya, katanya, dalam situasi pandemi saat ini setiap negara seharusnya membatasi keluar masuknya masyarakat dari luar negeri.

“Dalam situasi saat ini sebetulnya setiap negara itu harus membatasi ya. Karena penerbangan situasi ini akan meningkatkan risiko transmisi penularan,” ungkap Dicky ketika dihubungi lewat pesan singkat, Senin (3/5/2021).

Baca juga: Pandemi Covid-19, Pesawat Charter Wuhan-Jakarta Angkut TKA China

Apalagi, kata Dicky, meskipun Covid-19 di China dinyatakan terkendali namun harus perlu ditunggu laporan informasi terkait hal ini. “China memang dikatakan ya, walaupun masih banyak hal yang masih perlu ditunggu datanya ya terkait informasi terkendali. Tetapi situasi saat ini sebetulnya tidaklah bisa menjadikan alasan yang kuat adanya pembukaan-pembukaan,” katanya.

Baca juga: Duh! Ada Penerbangan Wuhan-Jakarta Angkut TKA China, Begini Penjelasan Kemenhub

Selain itu, Dicky mengatakan bahwa saat ini kasus Covid-19 global juga semakin serius dan angka kematian global juga terus meningkat, sehingga tidak ada negara yang aman dari Covid-19

“Selain situasi angka kasus global makin serius ya, kasus global kematian global meningkat saat ini. Dan tidak ada negara yang aman (dari Covid-19),” ujarnya.

Seharusnya, kata Dicky, negara yang aman dari Covid-19 adalah negara yang membatasi ataupun menutup mobilitas antarnegara. “Dan negara yang aman, menutup diri itu seperti Australia, New Zealand menutup diri. Saya nggak keluar, kemana-mana saya nggak bisa keluar, nanti nggak bisa masuk lagi, jadi itu," imbuhnya.

Sehingga, jika ada penerbangan antarnegara harus menerapkan persyaratan yang ketat mencegah terjadinya transmisi Covid-19. “Jadi kalau bicara misalnya penerbangan ke sana ya pasti negara yang menerapkan persyaratan yang ketat. Kalau untuk dibangun dalam bentuk travel koridor untuk bisnis ya itu ya saja, dengan resiprokal namanya, harus sama, tidak membahayakan kita, tidak membahayakan mereka,” kata Dicky.

Bahkan, kata Dicky, di China pun kasus Covid-19 masih bisa berpotensi meledak lagi. Sehingga, pemerintah harus mewaspadai kemungkinan tersebut.

“Karena China itu bisa meledak lagi, tetap. Jadi sama harus dijaga seperti itu. Kalau mau saya kalau untuk aktivitas penduduk travel belumlah. Tapi kalau untuk bisnis kepentingan diplomasi bisa saja," tuturnya.

(fkh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini