Covid-19 di Sumatera Naik, Satgas: Jangan Sampai Terjadi seperti di Jakarta Tahun Lalu

Binti Mufarida, Sindonews · Senin 03 Mei 2021 14:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 03 337 2404798 covid-19-di-sumatera-naik-satgas-jangan-sampai-terjadi-seperti-di-jakarta-tahun-lalu-gGHv0IKSbs.jpeg Doni Monardo. (Foto: Dok BNPB)

JAKARTA - Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo mengatakan kasus Covid-19 di hampir semua provinsi di Pulau Sumatera mengalami kenaikan. Ini terjadi akibat masyarakat yang tetap nekat pulang kampung, meski saat ini diberlakukan pelarangan mudik.

“Kita lihat hampir semua provinsi di pulau Sumatera mengalami kenaikan kasus, baik kasus aktif dan juga menurunkan angka kesembuhan, serta meningkat sejumlah provinsi angka kematiannya,” ungkap Doni secara virtual dari Istana Kepresidenan, Senin (3/5/2021). 

Doni pun meminta agar pemerintah di sana segera melakukan evaluasi secepat mungkin. Jangan sampai terlambat seperti yang pernah terjadi di DKI Jakarta pada bulan September dan Oktober tahun lalu.

Baca juga: Satgas: Tak Boleh Ada Pejabat Beda Narasi dengan Pusat soal Larangan Mudik!

“Oleh karenanya khususnya kepada seluruh pejabat di Sumatera, di Pulau Sumatera untuk betul-betul melakukan evaluasi secepat mungkin. Jangan sampai terlambat. Karena ketika terlambat melakukan pengetatan dan melakukan langkah-langkah untuk pencegahan, maka kasus explanation ini akan tidak terkontrol seperti yang pernah terjadi di Jakarta pada bulan September dan Oktober tahun lalu,” ungkap Doni.

Doni mengatakan, ketika DKI Jakarta melakukan pengendoran sejumlah aktivitas liburan, Rumah Sakit Covid-19 Wisma Atlet mengalami over capacity, bahkan terjadi antrean panjang ambulans.

Baca juga: Doni Monardo: Jangan Sampai Ada Klaster Baru dari Pusat Perbelanjaan

“Pengalaman-pengalaman ini diharapkan betul-betul menjadi pelajaran kita semua untuk tidak terulang kembali pada periode yang akan datang,” tegasnya.

Doni pun meminta agar belajar kenaikan kasus Covid-19 dari negara-negara seperti di India. “Kita belajar dari beberapa negara khususnya India, saat ada pelanggaran terhadap kegiatan keagamaan, ritual keagamaan dan juga kegiatan-kegiatan budaya, serta olahraga yang dikendorkan maka kasusnya tidak terkontrol. Hari ini rata-rata perhari India positif harian lebih dari 400.000 kasus ini harus menjadi catatan kita semua,” ucapnya.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini