Kisah Jenazah Syekh Siti Jenar Berbau Wangi dan Wajahnya Bercahaya

Doddy Handoko , Okezone · Senin 03 Mei 2021 06:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 03 337 2404534 kisah-jenazah-syekh-siti-jenar-berbau-wangi-dan-wajahnya-bercahaya-AsIhySTVTl.jpg Syekh Siti Jenar (foto: istimewa)

Sudirman Tebba, penulis buku "Syekh Siti Jenar Pengaruh Tasawuf" menceritakan, bahwa setelah Syekh Siti Jenar dipenggal lehernya oleh Sunan Kalijaga, mengucur darah berwarna merah, lalu berubah menjadi putih. Syekh Siti Jenar kemudian berkata, “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya”.

Seiring dengan itu, tubuh Syekh Siti Jenar naik ke surga. Dia pun berkata, ”Jika ada seorang manusia yang percaya kepada kesatuan selain dari Allah Yang Mahakuasa, dia akan kecewa, karena dia tidak akan memperoleh apa yang dia inginkan."

Baca juga:  Misteri Makam Syekh Siti Jenar, Jadi Bunga Melati, Moksa atau di Bawah Masjid Demak

Dalam Babad Tanah Jawa disebutkan, Syekh Siti Jenar terbang ke surga, tetapi badannya kembali ke masjid. Para ulama takjub karena dia dapat terbang ke surga, namun kemudian marah karena badannya kembali ke masjid.

Melihat hal yang demikian, Sunan Giri kemudian mengatakan, bahwa tubuhnya harus ditikam dengan sebuah pedang, kemudian dibakar. Dalam sekejap mata, tubuh Syekh Siti Jenar hilang dan darahnya sirna.

Baca juga:  Syekh Siti Jenar Dihukum Mati oleh Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati atau Sunan Giri?

Di Suluk Syekh Siti Jenar, diceritakan bahwa ketika jenazah Siti Jenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya kilau kemilau memancar dari jenazah Siti Jenar. Para santri berdatangan ke masjid mencium bau yang sangat harum, seperti bau bunga Kasturi.

Karena bau itu sangat menyengat, Syekh Malaya membuka peti jenazah Syekh Siti Jenar. Alangkah terkejutnya dia, saat melihat wajah dan jenazah Syekh Siti Jenar memancarkan cahaya yang sangat indah, lalu muncul warna pelangi memenuhi ruangan masjid. Sedangkan dari bawah peti memancarkan sinar yang amat terang, bagaikan siang hari.

Para ulama yang ada di masjid lalu mendudukkan jenazah dan kemudian bersembah sujud sambil menciumi tubuh Syekh Siti Jenar bergantian hingga ujung jari. Lalu jenazah Siti Jenar dikembalikan ke peti.

Syekh Maulana kemudian membuat muslihat dengan membunuh seekor anjing, membungkusnya dengan kail putih dan mengumumkan kepada masyarakat bahwa mayat Syekh Siti Jenar telah berubah menjadi seekor anjing.

Bangkai inilah yang kemudian dipertontonkan oleh para ulama keesokan harinya kepada masyarakat luas, untuk mengisyaratkan bahwa ajaran Syekh Siti Jenar adalah sesat.

Terdapat juga cerita yang beredar, bahwa Siti Jenar tak tewas di tangan para wali, melainkan dia memilih sendiri cara kematiannya.

Menurut Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuh dirinya. Karena dia bisa memilih sendiri kematiannya dengan cara meminum tirtamarta (air kehidupan).

Siti Jenar memilih cara kematian bukan karena ancaman yang ada, tetapi karena kehendak diri sendiri. Syekh Siti Jenar kemudian berkonsentrasi, menutup jalan hidupnya dan kemudian meninggal dunia.

Ketika jenazah Siti Jenar terbujur kaku di hadapan kelima wali, keempat murid Siti Jenar yang benar-benar pandai yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo dan Ki Pringgoboyo mengakhiri "kematian"-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya dihadapan para wali. Jenazah Syekh Siti Jenar dimakamkan di tempat yang dirahasiakan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini