Jokowi Tanya Filosofi Ki Hajar Dewantara, Menteri Nadiem Jawab Merdeka Belajar

Kiswondari, Sindonews · Minggu 02 Mei 2021 21:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 02 337 2404426 jokowi-tanya-filosofi-ki-hajar-dewantara-menteri-nadiem-jawab-merdeka-belajar-j2xxVNwtjH.png Presiden Jokowi (Foto : BPMI)

JAKARTA - Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2021, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) menggelar podcast antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim.

Dalam pembukaannya, Nadiem menanyakan kepada Jokowi mengenai makna Hardiknas. Saat baru menjawab, Jokowi justru balik menanyakan kepada Mas Menteri mengenai filosofi Ki Hajar Dewantara.

"Coba saya ingin bertanya kepada mas menteri apa filosofi Ki Hajar Dewantara yang terkena di dunia pendidikan?" tanya Jokowi dalam podcast yang disiarkan di kanal Youtube Kemdikbud RI, Minggu (2/5/2021).

Nadiem menjawab, filosofinya sama dengan Merdeka Belajar sebagaimana yang baru saja dijelaskan presiden. Dan satu lagi dalam berbahasa Jawa, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tutwuri Handayani, yang artinya di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, dan di belakang memberi dorongan.

"Jadi esensinya, jiwa kepemimpinan dari pendidik itu luar biasa pentingnya. Konsep gotong royong yang sudah kita buahkan dalam profil pelajar Pancasila itu sebenarnya arah merdeka belajar pak presiden," terangnya.

Kemudian, Jokowi mengulang filosofi dari Ki Hajar Dewantara itu. Menurutnya, semua harus mengingat filosofi ini. Nadiem pun mengamini pernyataan Jokowi.

Nadiem Makarim (Foto : Okezone.com)

Baca Juga : Pantang Menyerah, Cara Belajar Jokowi yang Patut Ditiru

Ia pun menggunakan analogi sekolah, sekolah di depan yang sudah maju sebagai sekolah penggerak, mereka yang memimpin dan menjadi teladan. Sekolah di tengah, mereka membimbing kelasnya, melakukan transformasi di dalam, dan sekolah di belakang itu diberikan dorongan dan mereka harus meminta ke dinas ke pemerintah untuk meminta dibantu meng-upgrade.

"Jadi itu salah satu filsafat gotong royong, tetapi ekosistemnya yang dikuatkan. Jadi itu menurut saya pak yang terpenting. Tapi menurut saya, saya sangat setuju bahwa kemerdekaan berpikir, kemerdekaan berkarya, kemerdekaan bertanya, itu yang impian kami di kelas-kelas kita sehingga anak-anak bisa merdeka dalam jadi apapun sesuai minat dan bakat," kata Nadiem.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini