Pangeran Diponegoro Dibantu Kesultanan Turki Utsmani?

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 02 Mei 2021 05:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 02 337 2404138 pangeran-diponegoro-dibantu-kesultanan-turki-utsmani-db36IHT0Jy.jpg Foto: Istimewa

JAKARTA - Banyak orang Jawa - termasuk Pangeran Diponegoro - yang mengagumi Kesultanan Turki Utsmaniyah pada abad ke 18 dan awal ke-19. Demikian menurut Sejarawan Peter Carey yang juga penulis buku "Kuasa Ramalan; Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 "

Menurutnya, penggunaan nama Turki Utsmani oleh Diponegoro yang inovatif dan radikal (Bulkio berasal dari bahasa Turki bölük = regu) untuk pasukan elit paswal-nya, dan penggunaan pangkat Turki - Ali Pasha ("Pasha Agung") untuk panglimanya, Sentot Ali Basah, Pasha (Basah / Komandan Senior) dan Dullah (Komandan Junior) untuk perwira lapangannya - adalah pertanda dari pengaruh yang kemungkinan didapatkan dari orang-orang Jawa yang naik Haji dan lama tinggal di Haramain untuk berguru kepada Ustadz di Mekkah dan Madinah yang ahli dalam bidang hukum dan teologi Islami.

"Seringkali juga ikut mengabdi secara sementara kepada pasukan pertahanan Utsmaniyah yang menguasai haramain setelah mengusir kaum Wahabbi pada tahun 1812, untuk mendapat uang demi melakukan perjalanan pulang ke Jawa. Maka mereka pun kembali dengan membawa pengalaman dari dunia militer Utsmaniyah,"katanya.

Diponegoro mengambil nama Ngabdulhamid dari seorang Sultan Utsmaniyah, Abdulhamid I (bertakhta 1774-89), seorang sultan yang pertama kali membangkitkan kembali klaim Utsmaniyah atas peran sebagai Khilafah atau pelindung Ummat Muslim di seluruh dunia, peran yang kemudian diperluas oleh penerus namanya, Abdulhamid II (bertakhta 1875-1906).

"Semua pengaruh ini memang benar dan tidak dapat disangkal, dan jelas-jelas dirujuk dalam sumber-sumber berbahasa Jawa dan Belanda, misalnya seperti dalam "perang budaya" ketika pihak Belanda mencoba untuk menghasut Sentot, ketika ia membelot ke pihak Belanda pada bulan Oktober 1829, untuk menanggalkan turbannya dan kembali mengenakan blangkon Jawa dll,"paparnya.

Dikatakannya,meski semua pengaruh ini jelas dan tidak salah lagi. Tapi apa yang sekarang menjadi bahwa meskipun mungkin ada kekaguman dan kemauan untuk meniru praktik Ottoman dari sisi Jawa, sama sekali tidak ada di arsip Turki Ottoman yang menunjukkan bahwa penguasa dan pemerintah Turki sadar akan hal itu. apa yang terjadi di Jawa atau atas nama Diponegoro, atau memberikan dukungan materil atau moral apapun pada perjuangannya.

Hal ini juga berlaku untuk semua tuduhan lain dari pihak keraton Yogyakarta tentang Kiai Tunggul Wulung, Raden Patah, Demak atau posisi sultan Yogyakarta sebagai 'wakil' atau 'Wakil' penguasa Ottoman di Jawa.

Memang, Belanda bahkan menganggap serius kekaguman orang Jawa terhadap Kesultanan Utsmaniah ini sampai-sampai mereka memastikan agar para negosiator dari pihak Diponegoro ketika menyiapkan perundingan damai dengan Diponegoro pada bulan Desember 1829 selalu diberitahu tentang perkembangan terbaru dalam perang Russia-Turki yang ketiga (1829-30) yang berakhir dengan rusia mencaplok benteng pertahanan agung di Edirne/Adrianople, di mana perjanjian damai antara Turki dan Russia ditandatangani pada awal 1830.

"Namun yang sekarang terlihat sangat jelas adalah bahwa walaupun di pihak Jawa terdapat rasa kekaguman dan kemauan untuk mengikuti praktik Utsmaniyah, di dalam arsip Turki Utsmaniyah sama sekali tidak ada catatan yang menandakan kalau para penguasa Turki dan pemerintah di sana mengetahui tentang apa yang terjadi di Jawa ataupun bahkan tentang nama Diponegoro, apalagi mengirimkan bantuan material ataupun moril untuk mendukung perjuangannya,"bebernya.

Demikian juga halnya dengan semua dugaan dari Keraton Yogyakarta mengenai Kiai Tunggul Wulung, Raden Patah, Demak, dan peran para sultan di Yogyakarta sebagai Wakil Kesultanan Utsmaniyah di Jawa.

Pernyataan ini juga dikeluarkan oleh seorang sejarawan Turki yang sangat mengenal arsip Turki Utsmaniyah dengan sangat seksama, yaitu Dr Ismail Hakki Kadi dari Medeniyet University, Istanbul.

"Sebagai sejarawan, kami tidak mengarang hal-hal yang tidak terdapat dalam arsip sejarah, namun kami mengikuti apa kata sumber sejarah. Kami mengutarakan apa yang kami temukan dalam sumber-sumber sejarah tersebut, tidak lebih, tidak kurang,"ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini