Menag Minta Jajarannya Intensifkan Sosialisasi Panduan Ibadah di Tengah Pandemi Covid-19

Fahreza Rizky, Okezone · Jum'at 30 April 2021 14:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 30 337 2403461 menag-minta-jajarannya-intensifkan-sosialisasi-panduan-ibadah-di-tengah-pandemi-covid-19-z7PAO3Po6j.jpg Menag Yaqut Cholil Choumas (Foto: Ist)

JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas merespons adanya dua kluster baru Covid-19 yang diduga berasal dari kegiatan salat Tarawih di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Menurut pria yang akrab disapa Gus Yaqut, kluster ini muncul bisa jadi dipicu ketidaktaatan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan (prokes) sebagaimana yang telah diatur pemerintah.

Menurut dia, kasus di Banyumas tersebut menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk tidak pernah lengah dalam menjalankan prokes demi terjaganya keselamatan jiwa bersama. Sebab, potensi penyebaran virus bisa dari mana saja. Inilah yang harus diantisipasi bersama.

"Saya minta Kakanwil Kemenag Provinsi, Kepala Kankemenag Kab/Kota, hingga penyuluh KUA untuk mengintensifkan sosialisasi dan edukasi pelaksanaan panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 H/2021 M yang berlangsung dalam situasi pandemi,” kata Gus Yaqut melalui keterangan tertulisnya, Jumat (30/4/2021).

Ia menjelaskan, Kementerian Agama sejak awal telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 4 tahun 2021 tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 H/2021 M. Edaran tersebut antara lain mengatur pengurus masjid atau musala dapat menyelenggarakan kegiatan salat fardu lima waktu, salat Tarawih dan Witir, tadarus Alquran, serta iktikaf dengan pembatasan jumlah kehadiran paling banyak 50% dari kapasitas masjid atau musala.

Baca juga: Menag: Syarat Umrah Harus Sudah Divaksin Tersertifikasi WHO, Sinovac Belum

Itu pun, kata Gus Yaqut harus dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, menjaga jarak aman satu meter antarjamaah, dan setiap jamaah membawa sajadah atau mukena masing-masing.

Untuk kegiatan Pengajian/Ceramah/Taushiyah/Kultum Ramadan dan Kuliah Subuh, paling lama dengan durasi waktu 15 (lima belas) menit. Peringatan Nuzulul Quran di masjid/musala juga harus dilaksanakan dengan pembatasan jumlah audiens paling banyak 50% dari kapasitas ruangan dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat.

Gus Yaqut meminta pengurus atau pengelola masjid/musala wajib menunjuk petugas khusus untuk mengawal penerapan protokol kesehatan. Sehingga, jika ada petugas maka ketika diketahui ada jamaah yang sedang tidak sehat seperti halnya di Banyumas, jamaah tersebut tidak diizinkan masuk untuk menjaga jamaah lain.

Baca juga: Menag Ingatkan Sholat Tarawih di Masjid Hanya Diperbolehkan di Zona Hijau dan Kuning

Selain memastikan jamaah menerapkan prokes, katanya, petugas yang ditunjuk juga melakukan penyemprotan disinfektan secara teratur dan menyediakan sarana cuci tangan di pintu masuk masjid/mushala.

“Catatan pentingnya, kegiatan ibadah Ramadan di masjid/musala, seperti Salat Tarawih, Witir, tadarus Alquran, iktikaf, dan Peringatan Nuzulul Quran tidak boleh dilaksanakan di daerah yang termasuk kategori zona merah (risiko tinggi) dan zona oranye (risiko sedang) penyebaran Covid-19 berdasarkan penetapan pemerintah daerah setempat,” tegas Menag.

Menag menegaskan, SE ini sejalan dengan kebijakan pemerintah tentang pengendalian penyebaran Covid-19 pada masa Ramadan, termasuk nanti Salat Idul Fitri. “Untuk itu, saya minta jajaran Kemenag, pusat dan daerah untuk mengintensifkan sosialisasi, edukasi, dan pembinaan baik kepada pengurus masjid/musala maupun masyarakat umum. Patuhilah prokes serta berkoordinasi selalu dengan Satgas Percepatan Penanganan Covid-19,” tandasnya.

(fkh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini