Kisah Kesaktian Sunan Kudus Keluarkan Ribuan Tawon dan Meninggal saat Sujud

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 30 April 2021 06:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 30 337 2403198 kisah-kesaktian-sunan-kudus-keluarkan-ribuan-tawon-dan-meninggal-saat-sujud-yWerinz999.jpeg Sunan Kudus. (Foto: Sondonews)

BABAD Tanah Jawi adalah terjemahan dari Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegiing Taoen 1647 yang disusun oleh W. L. Olthof di Leiden, Belanda, pada tahun 1941.

Di dalam Babad Tanah Jawi itu diceritakan tentang riwayat Sunan Kudus. Ia adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad. 

Nama lengkapnya adalah nama Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan. Ia lahir pada 9 September 1400M/ 808 Hijriah. 

Baca juga: Kisah Saridin dan Sunan Kudus, Kelapa Berisi Ikan

Ayahnya adalah senopati atau panglima Kerajaan Demak. Ja'far Shadiq menggantikan jabatan ayahnya untuk memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Demak. Melalui posisi senopati itulah, Ja'far Shadiq menyebarkan Islam di wilayah Demak. 

Selain menjabat sebagai senopati, ia juga diangkat menjadi imam besar Masjid Agung Demak, serta menjadi qadhi atau hakim di Kerajaan Demak.

Pada waktu Sunan Kudus sebagai senopati kerajaan Demak Bintoro berhasil mengembangkan wilayah kerajaan demak ke arah timur hingga mencapai Madura, dan arah barat hingga Cirebon.

Baca juga: Kisah Putri Kaisar Tiongkok Berlayar ke Cirebon, Jatuh Cinta pada Sunan Gunung Jati

Banyak cerita tentang kesaktiannya. Sebelum perang, ia diberi badong, semacam rompi, oleh Sunan Gunung Jati. Badong itu dibawanya berkeliling arena perang.

Dari badong sakti itu, keluarlah jutaan tikus yang juga sakti. Kalau dipukul maka tikus itu tidak mati, namun mereka semakin mengamuk sejadi-jadinya. Pasukan Majapahit ketakutan sehingga mereka lari tunggang langgang. 

Ia juga mempunyai sebuah peti, yang bisa mengeluarkan ribuan tawon. Banyak prajurit Majapahit yang tewas disengat tawon itu. Pada akhirnya, pemimpin pasukan Majapahit, yaitu Adipati Terung menyerah padanya. 

Ia meninggalkan Demak karena ingin membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama islam. Ia pergi menuju ke Kudus. 

Dahulu kota Kudus masih bernama Tajug. Dalam cerita tutu, dikisahkan, awalnya ada Kyai Telingsing yang mengembangkan kota ini. Telingsing sendiri adalah panggilan sederhana kepada The Ling Sing, seorang Muslim Cina asal Yunnan, Tiongkok. 

Ia sudah ada sejak abad ke-15 Masehi dan menjadi cikal bakal Tionghoa muslim di Kudus. Kyai Telingsing seorang ahli seni lukis dari Dinasti Sung yang terkenal dengan motif lukisan Dinasti Sung, juga sebagai pedagang dan mubaligh Islam terkemuka. 

Setelah datang ke Kudus untuk menyebarkan Islam, didirikannya sebuah masjid dan pesantren di kampung Nganguk.

Raden Undung yang kemudian bernama Ja’far Thalib atau lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus adalah salah satu santrinya yang ditunjuk sebagai penggantinya kelak.

Awalnya, Ja’far Shodiq hidup di tengah jamaah dalam kelompok kecil di Tajug. Jamaah itu merupakan para santri yang dibawanya dari Demak. Setelah jamaahnya semakin banyak, kemudian membangun masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyabaran agama. 

Tempat ibadah itu adalah masjid Menara Kudus yang masih berdiri hingga kini. Masjid ini didirikan pada 956 H yang bertepatan dengan 1549 M.

Kota Tajug mendapat nama baru, yakni Quds, yang kemudian berubah menjadi Kudus. Kemudian pada akhirnya Ja’far Shodiq sendiri dikenal dengan sebutan Sunan Kudus.

Sunan Kudus banyak berguru kepada Sunan Kalijaga, gaya berdakwahnya sangat toleran pada budaya setempat serta cara penyampaian yang halus. Didekatinya masyarakat dengan memakai simbol-simbol Hindu-Budha seperti yang tampak pada gaya arsitektur Masjid Kudus.

Untuk menarik simpati masyarakat untuk mendatangi masjid guna mendengarkan tabligh akbarnya, ia tambatkan Kebo Gumarang (sapi) di halaman masjid. Masyarakat yang saat itu memeluk agama Hindu pun bersimpati, dan semakin bersimpati selepas mendengarkan ceramahnya mengenai “sapi betina” atau Al-Baqarah.

Pada tahun 1550, Sunan Kudus meninggal dunia saat menjadi Imam sholat Subuh di masjid Menara Kudus, dalam posisi sujud, dimakamkan di lingkungan Masjid Menara Kudus. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini