3 Hal Menarik Warnai Reshuffle Kabinet Kali Ini

Rakhmatulloh, Sindonews · Kamis 29 April 2021 07:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 29 337 2402577 3-hal-menarik-warnai-reshuffle-kabinet-kali-ini-eOJZ25pVkk.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

JAKARTA - Direktur Eksekutif Indonesian Presidential Studies (IPS), Nyarwi Ahmad menyatakan ada tiga hal menarik dari Reshuffle Kabinet yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kali ini. Pertama, reshuffle yang dilakukan oleh Presiden Jokowi kali ini berbeda dengan reshuffle yang dilakukan sebelumnya.

"Jika Reshuflle akhir tahun lalu dilakukan dengan mengganti sejumlah Menteri. Reshuffle kali ini tampaknya fokus pada restrukturisasi organisasi kementerian dan lembaga negara," ujarnya, Kamis (29/4/2021).

Sebagaimana yang kita ketahui, ada dua nomenklatur kementerian baru sebagaimana yang juga sudah disepakati oleh DPR beberapa waktu lalu, yaitu Kemendikbudristek dan Kementerian Investasi yang diisi oleh Nadiem Makarim dan Bahlil Lahadalia.

"Reshuflle ini menunjukkan kepercayaan Presiden Jokowi pada Nadiem dan Bahlil makin meningkat," ungkapnya.

Dia menuturkan, terkait dengan Nadiem Makarim, perombakan kabinet kali ini sebenarnya cukup mengejutkan, khususnya bagi kelompok-kelompok yang melihat Nadiem sebagai sosok yang masih kurang kompeten dan kontroversial karena sejumlah kebijakan seperti terkait dengan keluarnya PP No.57 tahun 2021 yang terkait dengan pendidikan Pancasila dan juga sejumlah isu lainnya.

Nadiem Makarim (Foto: Okezone.com)

Dengan reshuffle kali ini, kata Nyarwi, Nadiem memiliki peluang lebih untuk mengelola kebijakan publik dan komunikasi publik di lembaga kementerian yang dipimpinannya secara lebih baik dan tidak dipenuhi dengan kebijakan yang bisa mengundang kontroversi. Reshuffle kali ini menunjukkan tingkat kepercayaan Presiden Jokowi masih bagus dan bahkan menguat. Terbukti dengan memberikan tambahan beben tugas melalui postur kementerian baru tersebut (Kemendikbudristek).

Melalui reshuffle kali ini, lanjut dia, Nadiem perlu menunjukkan kepada publik seperti apa inovasi-inovasi yang dilakukannya ke depan dalam memperkuat bidang riset dan teknologi di Indonesia. Ini tidak mudah tentunya, karena dia dituntut lebih mampu menumbuhkan mentalitas dan budaya riset yang produktif dan kolaboratif di kalangan para akademia dan peneliti, dia juga dituntut lebih mampu meyakinkan komunitas akademia dan peneliti agar bisa menghasilkan produk-produk riset yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di tengah bencana pandemi, membuka beragam jenis lapangan kerja, dan memiliki kemanfaatan sosial dan ekonomi bagi masyarakat luas.

"Ia juga dituntut lebih mampu untuk mendorong beragam jenis kolaborasi antara mereka dengan kalangan industry dan juga masyarakat. Di sini Nadiem perlu menunjukkan kepada publik inovasi paradigma apa saja yang dia miliki dalam mengelola bidang pendidikan dan kebudayaan dan juga bidang riset dan teknologi khususnya di kalangan para pimpinan dan pengajar di perguruan tinggi di Indonesia," paparnya.

"Di sini, Nadiem, bisa menunjuk sejumlah staf ahli dan staf khusus yang memang memiliki kompetensi bagus untuk memaksimalkan capaian-capaian tersebut," sambung dia.

Sementara terkait dengan Bahlil, reshuffle ini memberikan peluang bagi Bahlil untuk menunjukkan kompetensi/kemampuannya dalam mengelola investasi domestic dan luar negeri lebih maksimal agar bisa menggerakkan kembali pertumbuhan ekonomi masyarakat di tengah bencana Pandemi.

Kendati demikian, Bahlil juga memiliki sejumlah tantangan. Tantang pertama terkait dengan koordinasi dengan Kementerian lain yang menangani sector-sektor pembangunan lainnya yang capaiannya bisa menjadi indicator tingkat daya Tarik investasi ke Indonesia/ bisa memotivasi investor asing untuk berinvestasi di Indonesia. Contohnya terkait dengan hal tersebut misalnya sector ketenagakerjaan yang ditangani oleh Kemenakertrans dan juga sector pariwisata dan industry kreatif yang ditangani oleh Kemenparekraf.

"Kemampuan Bahli dalam berkolaborasi dengan bidang-bidang kementerian terkait semacam itu sangat menentukan tingkat capainnya dalam mendorong investor asing untuk berinvestasi di Indonesia," ulas Nyarwi.

Lebih laniut Nyarwi mengatakan, tantangan yang kedua ada pada sektor-sektor lain yang berperan penting dalam mendukung kelancaran dan daya tarik investasi yang selama ini kewenangannya ada di kementerian lain seperti Kementerian Keuangan. Langkah-langkah strategis perlu dilakukan oleh Bahlil dalam mengelola tantangan ini agar Global Competitive Index Indonesia terus meningkat dan persepsi positif dari para investor asing tentang kemudahan berinvestasi di Indonesia juga terus menguat.

Bahlil Lahadalia (Foto : Okezone.com)

"Tantangan ketiga terkait dengan bagaimana mengelola peran dan kewenangan Pemerintah Daerah/Kepala Daerah di dalam pengelolaan investasi di sector-sektor tertentu di berbagai daerah di Indonesia. Pola komunikasi yang baik dan alternative kebijakan yang lebih baik perlu dirumuskan oleh Bahlil untuk mengatasi tantangan tersebut," ungkap Nyarwi.

"Di sini Bahlil dituntut untuk memiliki kemampuan lebih dan perlu memiliki sumber daya yang memadai untuk mengelola ketiga jenis tantangan di atas," sambun Pengamat Komunikasi Publik UGM itu.

Kedua, kata Nyarwi, dalam reshuffle kali ini, nama-nama lain yang dianggap sebagai sosok kontroversial, seperti Kepala KSP Jenderal (Purn) Moeldoko tidak masuk dalam daftar reshuffle. Ini menunjukkan kepercayaan Presiden Jokowi pada Moeldoko masih cukup besar dan diandalkan untuk mengawal agenda-agenda penting dalam Pemerintahan Presiden Jokowi tiga tahun mendatang.

"Hal ini juga menandakan bahwa dalam menjalankan reshuffle, Presiden Jokowi menggunakan hak prerogratifnya sebagai presiden, sehingga mampu otonom dan tidak mudah untuk diintervensi dengan pihak-pihak manapun, khususnya kelompok-kelompok yang cukup keras mengkritisi keterlibatan Moeldoko dalam KLB Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumut 5 Maret 2021 lalu," ujarnya.

Ketiga, sambung dia, nama-nama lainnya yang sempat santer diisukan akan masuk dalam reshuffle kali ini, seperti Witjaksono dan Rafsel Ali tidak masuk dalam reshuffle kali ini. Terkait dengan sosok Rafsel Ali, sebagaimana yang publik ketahui merupakan Menantu Wapres Makruf Amien, tampaknya Presiden Jokowi sangat mengingingkan agar para Menteri anggota Kabinet bisa bekerja secara maksimal dan professional, tanpa terganggu oleh adanya potensi ‘conflict of interest’, khususnya yang bersumber dari jalinan kekerabatan/keluarga.

"Hal ini juga menunjukkan bahwa dalam menjalankan agenda reshuffle kali ini Presiden Jokowi tetap professional dan tidak berbasis pada relasi personal dan nepotisme sama sekali," beber dia.

Di sisi lain, Reshuflle kali ini lebih menunjukkan sebagai ‘reshuffle nomenklatur kementerian/lembaga negara’. Ini merupakan tradisi reshuffle yang cukup baru dan bagus juga. Model reshuffle seperti juga positif untuk menjaga ristme dan kekompakan kinerja para Menteri Kabinet yang membantu Presiden Jokowi Saat ini.

"Model reshuffle nomenklatur kali ini dapat diharapkan untuk memaksimalkan capaian kinerja kementerian-kementerian yang membidangi sector-sektor tertentu, khususnya sector/bidang investasi, pendidikan, riset dan teknologi, agar lebih maksimal dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional dan daya beli masyarakat di tengah wabah Pandemi seperti ini," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini