Karomah Syekh Nawawi Al Bantani, Melihat Kakbah dari Masjid di Jakarta

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 28 April 2021 07:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 28 337 2401938 karomah-syekh-nawawi-al-bantani-melihat-kakbah-dari-masjid-di-jakarta-8eFiF13TFE.jpg Syekh Nawawi Al-Bantani (foto: ist)

Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani atau Syekh Nawawi al-Bantani (lahir di Tanara, Serang, 1230 H/1813 M - wafat di Mekkah, Hijaz 1314 H/1897 M).

Ia seorang ulama dari Banten Indonesia yang menjadi Imam Masjidil Haram. Sayid ’Ulamail Hijaz adalah gelar yang disandangnya. Sayid adalah penghulu, sedangkan Hijaz wilayah Saudi sekarang, yang di dalamnya termasuk Makkah dan Madinah.

Baca juga: Haul Syekh Nawawi Al Bantani, Banten Akan Dijadikan Destinasi Wisata Religi

Syekh Nawawi memiliki beberapa karomah. Karomah Syekh Nawawi diperlihatkannya di saat ia mengunjungi Masjid Pekojan, Jakarta. Masjid yang dibangun oleh Sayyid Utsman bin 'Agil bin Yahya al-'Alawi (mufti Betawi keturunan Rasulullah) itu ternyata memiliki kiblat yang salah. Padahal yang menentukan kiblat bagi masjid itu adalah Sayyid Utsman sendiri.

Ketika Syekh Nawawi yang dianggapnya hanya seorang anak remaja tak dikenal menyalahkan penentuan kiblat, Sayyid Utsman sangat terkejut.

Sayyid Utsman tetap berpendirian bahwa kiblat Masjid Pekojan tersebut sudah benar, sementara Syekh Nawawi remaja berpendapat arah kiblat haruslah dibetulkan. Masing-masing mempertahankan pendapatnya, tidak ada titik temu, Syekh Nawawi remaja menarik lengan baju Sayyid Utsman dan dirapatkan tubuhnya agar bisa saling mendekat. Lalu Syekh Nawawi mengarahkan telunjuk tangannya ke kiblat.

“Lihatlah Sayyid!, itulah Ka'bah tempat Kiblat kita. Lihat dan perhatikanlah! Tidakkah Ka'bah itu terlihat amat jelas? Sementara Kiblat masjid ini agak ke kiri. Maka perlulah kiblatnya digeser ke kanan agar tepat menghadap ke arah Ka'bah,"

Sayyid Utsman termangu. Kakbah yang ia lihat dengan mengikuti telunjuk Syekh Nawawi remaja memang terlihat jelas. Sayyid Utsman merasa takjub dan menyadari bahwa remaja yang bertubuh kecil di hadapannya itu telah dikaruniai kemuliaan, yakni terbukanya nur basyariyyah.

Dengan penuh hormat, Sayyid Utsman langsung memeluk tubuh kecil Syekh Nawawi. Sampai saat ini di Masjid Pekojan akan terlihat kiblat digeser dan tidak sesuai aslinya.

Suatu hari ketika dalam perjalanan, Syekh Nawawi istirahat di sebuah tempat untuk azan kemudian salat. Setelah ia azan ternyata tidak ada orang yang datang, akhirnya ia qamat lalu salat sendirian.

Usai shalat Syekh Nawawi kembali melanjutkan perjalanan, tapi ketika menengok ke belakang, ternyata ada seekor ular raksasa dan mulutnya sedang menganga. Akhirnya ia tersadar bahwa ternyata ia salat di dalam mulut ular yang sangat besar itu.

Pada suatu waktu di sebuah perjalanan dalam syuqduf (rumah-rumahan di punggung unta), Syekh Nawawi pernah mengarang kitab dengan menggunakan telunjuknya sebagai lampu. Hal tersebut terjadi karena tidak ada cahaya dalam syuqduf yang ia tumpangi, sementara aspirasi untuk menulis kitab tengah kencang mengisi kepalanya.

Syekh Nawawi kemudian berdoa kepada Allah agar telunjuk kirinya dapat menjadi lampu, menerangi jari kanan yang akan digunakannya untuk menulis.

Kitab yang kemudian lahir dengan nama Maraqi al-'Ubudiyyah syarah Matan Bidayah al-Hidayah itu harus dibayarnya dengan cacat pada jari telunjuk kiri, karena cahaya yang diberikan Allah pada telunjuk kirinya itu membawa bekas yang tidak hilang.

Sementara itu, pada saat Pemerintah Arab Saudi mempunyai kebijakan bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya.

Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota dan lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakan tersebut dijalankan tanpa pandang bulu hingga menimpa pula pada makam Syekh Nawawi.

Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya, yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet dan tidak ada tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain kafan penutup jasad Syekh Nawawi tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.

Kejadian tersebut mengejutkan para petugas. Mereka mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan.

Langkah strategis lalu diambil, yaitu larangan dari pemerintah untuk membongkar makam Syekh Nawawi. Jasadnya lalu dikuburkan kembali seperti sediakala, dan hingga sekarang makam Syekh Nawawi tetap berada di Ma'la, Makkah.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini