Kisah Sunan Kalijaga Mengubah Tanah Jadi Emas dan Beras Jadi Pasir

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 28 April 2021 06:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 28 337 2401932 kisah-sunan-kalijaga-merubah-tanah-jadi-emas-dan-beras-jadi-pasir-qpE2NSfZOQ.jpg Sunan Kalijaga (foto: ist)

Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan beberapa karomah Sunan Kalijaga. Terdapat kisah Sunan Kalijaga dan Ki Pandan Arang 1.

Alkisah, Ki Pandan Arang I, Adipati di Semarang sangat menderita karena putri kesayangan yang cantik jelita menderita sakit lumpuh. Segala iktiar telah dilakukan, malangnya semua usaha beliau gagal dan tidak ada kemajuan. Putrinya tetap lumpuh. Sehingga beliau mempunyai nadzar, barang siapa dapat menyembuhkan putrinya akan diambil sebagai menantu.

Baca juga:  Sumur Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak, Dipercaya Berkhasiat untuk Penyembuhan

Pada suatu hari Sunan Kalijaga memberitahu bahwa di Gunung Gede ada orang yang pandai bernama Ranawijaya berasal dari Majapahit. Atas permintaan Ki Pandan Arang I, Ranawijaya datang ke Kadipaten. Dengan doa khusus beliau mendoakan sang putri. Akhirnya sang Putri dapat di sembuhkan. Akhirnya Ranawijaya diambil sebagai menantu.

Pada saat Ki Pandan Arang I meninggal dunia, Ranawijaya menggantikan dengan gelar Ki Pandan Arang II. Daerahnya maju pesat, rakyatnya makmur termasuk perkembangan agama Islam cukup memuaskan.

Baca juga:  Kisah Sunan Kalijaga Pernah Jadi "Maling Budiman" dan Merampok Sunan Bonang

Namun kemakmuran dan keberhasilan dalam pemerintahannya membuat Ki Pandan Arang II lupa diri, ia jadi congkak, sombong dan kedekut. Ia selalu mengejar harta walaupun sudah melimpah ruah.

Mengetahui keadaan semacam itu, Sunan Kalijaga datang menyamar sebagai penjual rumput. Dalam kesempatan tawar menawar disisipkan peringatan terhadap perilaku Ki Pandan Arang II yang telah menyimpang dari ajaran agama Islam.

Berulang kali Sunan Kalijaga datang memperingatkan namun tak dihiraukan. Akhirnya Sunan Kalijaga menunjukkan kesaktiannya, setiap tanah yang dicangkulnya berubah menjadi sebongkah emas dan diberikan kepada Pandan Arang.

Pandan Arang sangat heran terhadap kesaktian penjual rumput. Setelah diketahui bahwa penjual rumput itu Sunan Kalijaga maka bersujud dan bertaubat.

Pandan Arang melepaskan kedudukannya sebagai Adipati ingin berguru kepada Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menyanggupi mengajarkan ilmu di Gunung Jabalkat dengan syarat perjalanan yang di tempuh tidak boleh membawa harta benda.

Baca juga:  Asal-Usul Sunan Kalijaga dan Kidung Penolak Bala Kejahatan

Setelah bulat tekadnya Pandan Arang bersama istrinya meninggalkan Semarang menuju Gunung Jabalkat.

Ada juga cerita yang lain. Pada saat Sunan Kalijaga tiba di sebuah dusun. Sunan Kalijaga merasa sedih karena rakyat di dusun itu banyak yang kelaparan, sementara kepala dusunnya hidup dalam kemewahan dari hasil jerih payah rakyatnya.

Kemudian Sunan Kalijaga melihat seorang miskin datang ke kepala dusun. Dia minta dipinjami beras seliter untuk makan anaknya yang belum makan. Namun semuanya tidak didengar kepala dusun, malahan dia berkata, bahwa karung-karung miliknya itu berisi pasir, bukan beras.

Mendengar kebohongan itu, Sunan Kalijaga lalu berdoa kepada Allah SWT agar mengubah semua beras dalam karung itu menjadi pasir. Doa itu dikabulkan Allah SWT.

Kepala dusun itu terperanjat kaget, “Aku rugi gara-gara kamu, tahu! Beras-berasku berubah semua menjadi pasir. Kata Juragan semua karung itu memang isinya pasir, bukan beras?” Kepala dusun itu segera minta tolong kepada Sunan Kalijaga.

“Kanjeng Sunan tolonglah saya. Kembalikan beras-beras saya yang akan saya jual ini,”

“bukannya engkau tadi mengatakan isi karung ini memang pasir?” Sunan Kalijaga menyindir kepala dusun yang kikir tersebut.

“Saya tadi hanya berbohong kepada orang miskin itu agar tidak meminjam beras yang saya miliki," Kepala dusun menyesal dan berjanji akan membagikan beras miliknya pada penduduk kampung.

Sunan Kalijaga berdoa semoga Allah SWT mengampuninya dan mengembalikan pasir itu menjadi beras kembali. Allah SWT mengabulkan doa Sunan Kalijaga. Maka pasir yang ada dalam karung-karung itu kembali menjadi beras. Kemudian kepala dusun itu membagikan berasnya kepada penduduk kampung, termasuk kepada orang miskin tadi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini