Atas Perintah Hitler, Kapal Selam Nazi Jerman Beroperasi di Perairan Indonesia

Doddy Handoko , Okezone · Senin 26 April 2021 06:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 26 337 2400666 atas-perintah-hitler-kapal-selam-nazi-jerman-beroperasi-di-perairan-indonesia-aVc7CNmOK8.jpeg Adolf Hitler. (Foto: Reuters)

DALAM buku ‘Hitler’s Asian Adventure’ karya Horst Geerken, kapal selam Jerman U-510 yang dikomandoi Letnan Kapten Alfred Eick, pernah singgah di Jakarta pada akhir Desember 1944. U-510 kemudian pulang ke Eropa.

Kapal selam U-861 milik Jerman pernah beroperasi di sekitar Indonesia, sempat singgah di Surabaya. Selain U-861 yang merapat pada bulan November, juga disinggahi kapal selam U-537 pada 9 November 1944 dan kapal selam U-195 pada 17 Maret 1945. 

Batavia menjadi pangkalan laut penting bagi kapal selam Jerman di wilayah bumi bagian selatan setelah Penang terganggu oleh sekutu. 

Kapal U-195, U-219, U-537 dan U-843 diperintahkan ke Batavia. Namun, sepanjang tahun 1944 hanya kapal U-168, U-837, dan U-862 yang beroperasi di Lautan Hindia. Sisanya kembali ke Eropa dengan membawa beberapa barang.

Kapal selam U-196 juga pernah berada di Indonesia sebelum hilang pada November 1944.

Kehadiran pasukan Nazi Jerman di Indonesia, secara umum melalui aksi sejumlah kapal selam u-boat di Samudra Hindia, Laut Jawa, Selat Sunda, Selat Malaka.

Pada kurun waktu tahun 1943-1945. Sebanyak 23 u-boat mondar-mandir di perairan Indonesia, Malaysia, dan Australia, dengan pangkalan bersama Jepang, di Jakarta, Sabang, dan Penang, yang diberangkatkan dari daerah pendudukan di Brest dan Bordeaux (Prancis) Januari-Juni 1943. 

Beroperasinya sejumlah u-boat di kawasan Timur Jauh, merupakan perintah Fuehrer Adolf Hitler kepada Panglima Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine), Admiral Karl Doenitz. 

Tujuannya, membuka blokade lawan, juga membawa mesin presisi, mesin pesawat terbang, serta berbagai peralatan industri lainnya, yang dibutuhkan ”kawan sejawatnya”, Jepang yang sedang menduduki Indonesia dan Malaysia.

Baca juga: Vila Ini Diklaim Sebagai "Tempat Operasi Plastik" Adolf Hitler dan Digunakan oleh Nazi

Pada awalnya, kapal selam Jerman yang ditugaskan ke Samudra Hindia dengan tujuan awal ke Penang berjumlah 15 buah, terdiri U-177, U-196, U-198, U-852, U-859, U-860, U-861, U-863, dan U-871 (semuanya dari Type IXD2), U-510, U-537, U-843 (Type IXC), U-1059 dan U-1062 (Type VIIF). Jumlahnya kemudian bertambah dengan kehadiran U-862 (Type IXD2), yang pindah pangkalan ke Jakarta.

Ini disusul U-195 (Type IXD1) dan U-219 (Type XB), yang mulai menggunakan Jakarta sebagai pangkalan pada Januari 1945. Sejak itu kapal selam Jerman lainnya yang masih berpangkalan di Penang dan Sabang ikut pindah pangkalan ke Jakarta, sehingga Jepang kemudian memindahkan kapal selamnya ke Surabaya. 

Baca juga: Terungkap, 31 Surat dari Ayah Adolf Hitler

Adalah U-862 yang dikomandani Heinrich Timm, yang tercatat paling sukses beraksi di wilayah Indonesia. Berangkat dari Jakarta dan kemudian selamat pulang ke tempat asal, untuk menenggelamkan kapal Sekutu di Samudra Hindia, Laut Jawa, sampai Pantai Australia.

U-862 saat bertugas di permukaan wilayah Samudra Hindia nyaris mengalami ”senjata makan tuan”, dari sebuah torpedo jenis homming akustik T5/G7 Zaunkving yang diluncurkannya. Untungnya, U-862 buru-buru menyelam secara darurat, sehingga torpedo itu kemudian meleset.

Usai Jerman menyerah kepada pasukan Sekutu, 6 Mei 1945, U-862 pindah pangkalan dari Jakarta ke Singapura. 

Pada Juli 1945, U-862 dihibahkan kepada AL Jepang, dan berganti kode menjadi I-502. Jepang kemudian menyerah kepada Sekutu, Agustus tahun yang sama. 

Riwayat U-862 berakhir 13 Februari 1946 karena dihancurkan pasukan Sekutu di Singapura. Para awak U-862 sendiri semuanya selamat dan kembali ke tanah air mereka beberapa tahun usai perang.

Usai Jerman menyerah kepada Sekutu di Eropa pada 8 Mei 1945, berbagai kapal selam yang masih berfungsi, kemudian dihibahkan kepada AL Jepang untuk kemudian dipergunakan lagi, sampai akhirnya Jepang takluk pada 15 Agustus 1945 usai dibom nuklir oleh Amerika.

Sejumlah tentara Jerman yang ada di Indonesia yang tadinya berpangkalan di Jakarta dan Surabaya, pindah bermukim ke Perkebunan Cikopo, Kecamatan Megamendung, Kab. Bogor. Mereka semua kemudian menanggalkan seragam mereka dan hidup sebagai ”warga sipil”.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini