Share

Hasil Tes Rekrutmen Oknum Penyidik KPK yang Terima Suap Ternyata di Atas Rata-Rata

Raka Dwi Novianto, Sindonews · Jum'at 23 April 2021 03:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 23 337 2399353 hasil-tes-rekrutmen-penyidik-kpk-yang-terima-suap-ternyata-di-atas-rata-rata-oej4C3BNrI.jpg Ketua KPK Firli Bahuri (Foto: Okezone)

JAKARTA - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri mengungkapkan bahwa hasil tes rekrutmen dari oknum penyidik penerima suap terkait penanganan perkara Wali Kota Tanjungbalai, yakni Stepanus Robin Pattuju (SRP) sangat baik. Bahkan, hasil tes rekrutmen Stepanus di atas rata-rata.

"Hasil tesnya menunjukkan sebagai berikut potensi diatas rata-rata diatas 100% yaitu diangka 111,41% Hasil tes kompetensi di atas 91,89%," ujar Firli dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (22/4/2021).

"Tidak ada keraguan bagi yang bersangkutan artinya sistem rekrutmen sangat bagus, kenapa saya katakan demikian menurut penjelasan biro SDM saudara SRP masuk KPK tanggal 1 April 2019," imbuhnya.

Baca Juga:  KPK Ungkap Peran Azis Syamsuddin di Balik Pertemuan Penyidik dan Wali Kota Tanjungbalai

Atas penilaian tersebut, Firli menilai proses rekrutmen dari Stepanus tidak ada masalah. Namun, dirinya meyakini ada faktor lain yang membuat Stepanus menerima suap dari Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial.

"Artinya secara persyaratan mekanis rekrutmen tidak masalah, tetapi kenapa terjadi saya pernah sampaikan kepada rekan-rekan semua bahwa korupsi terjadi karena rendahnya dan berkurangnya integritas. Itulah yang harus kita jaga bagaimana kita harus membuat integritas ada di hati," tegasnya.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka yakni penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju (SRP), Wali Kota Tanjung Balai periode 2016-2021 M Syahrial (MS), dan seorang pengacara bernama Maskur Husain (MH).

Dalam konstruksi perkara, Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin menjadi aktor dibalik pertemuan antara penyidik KPK bernama Stepanus dengan M Syahrial. Pertemuan antara Stepanus dan Syahrial di kediaman Azis Syamsuddin pada Oktober 2020 lalu.

Baca Juga:  KPK Lapor Dewas Terkait Penyidiknya Terima Suap dari Wali Kota Tanjungbalai

Dalam pertemuan tersebut, Azis Syamsuddin memperkenalkan Stepanus dengan Syahrial karena diduga Syahrial memiliki permasalahan terkait penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjung Balai yang sedang dilakukan KPK agar tidak naik ke tahap penyidikan.

Dan Azis meminta agar Stepanus dapat membantu supaya nanti permasalahan penyelidikan tersebut tidak ditindaklanjuti oleh KPK. Akhirnya dikenalkanlah Syahrial dengan Maskur Husain (MH) seorang pengacara.

Stepanus, bersama Maskur sepakat untuk membuat komitmen dengan Syahrial terkait penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjung Balai untuk tidak ditindaklanjuti oleh KPK dengan menyiapkan uang sebesar Rp1,5 Miliar.

"MS menyetujui permintaan SRP dan MH tersebut dengan mentransfer uang secara bertahap sebanyak 59 kali melalui rekening bank milik RA (Riefka Amalia) teman dari saudara SRP dan juga MS memberikan uang secara tunai kepada SRP hingga total uang yang telah diterima SRP sebesar Rp1,3 Miliar," ungkap Firli.

Setelah uang diterima, lanjut Firli, Stepanus kembali menegaskan kepada Maskur dengan jaminan kepastian bahwa penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjung Balai tidak akan ditindaklanjuti oleh KPK.

Atas perbuatan tersebut, SRP dan MH disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12B UU Nomor 31 Tahun 1999 UU Nomor 20 sebagaimana yang telah diubah dan ditambah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan MS disangkakan melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 UU Nomor 20 sebagaimana yang telah diubah dan ditambah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini