Kisah Perempuan Hebat Bertaruh Nyawa di Tambang Emas

Khafid Mardiyansyah, Okezone · Jum'at 23 April 2021 00:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 22 337 2399303 kisah-perempuan-hebat-bertaruh-nyawa-di-tambang-emas-G92htOvflf.JPG Aktivitas tambang emas di Poboya (Foto: Antara)

JAKARTA - Fitri Handayani, salah satu Pengurus Koperasi Tambang BCS Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) harus bertaruh nyawa berhadapan dengan bahan berbahaya merkuri setiap harinya.

Ia yang bekerja di tambang emas berskala kecil mengaku sudah enam tahun bekerja bertaruh nyawa menambang emas.

Selama ini, dampak yang sering dirasakan adalah gatal-gatal di badan. Ia pun mengaku khawatir dampak jangka panjang akibat merkuri tersebut.

Selain itu, narasumber lain dari Desa Logas, Kabupaten Kuantan Singingi, Sugiyanti juga menambahkan tentang dampak merkuri yang beliau rasakan. Ia mengaku ikan di sungai lokasi tempat mendulangnya jadi berkurang

"Padahal kami sehari-hari mengambil ikan untuk makan, air sungai juga menjadi keruh. Perasaan takut juga, ternyata pengaruhnya seram juga ya buat Kesehatan," jelasnya.

Perempuan yang bertaruh nyawa demi mendulang emas tak luput dari perhatian pemerintah. Dirjen Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, saat ini jumlah perempuan yang terlibat di sektor Pertambangan Emas Skala Kecil hampir 30 persen dari total jumlah tenaga kerja di PESK yang ada di Indonesia.

“Fakta lainnya, perempuan yang ada di sektor PESK itu bukan hanya di sektor pelayanan tetapi juga terlibat sebagai pelaku usaha di lapangan. Dalam praktiknya, beban berat yang dipikul perempuan di sektor PESK sama beratnya dengan pekerja laki-laki. Karena itu, KLHK Bersama BPPT dan juga UNDP mendukung agar terciptanya kesetaraan gender di sektor Pertambangan Emas Skala Kecil,” kata Rosa dalam kata sambutan di acara webinar “Perempuan Berdaya, Kunci Kesejahteraan Komunitas Penambang”.

Rosa Vivien menambahkan, Indonesia sudah meratifikasi Konvensi Minamata yang salah satu tujuannya mengurangi pemakaian merkuri di sektor PESK. Namun, konvensi tersebut juga membahas tentang isu gender di sektor PESK.

“KLHK mendukung pengarusutamaan gender, strategi serta pemberdayaan perempuan di sektor PESK. Ini perlu agar semua lapisan masyarakat terlibat dalam proses pembangunan dan juga pemberdayaan. Hari ini adalah Hari Kartini dan saya ingin semangat Ibu Kartini dapat mendorong kemajuan kelompok perempuan yang tangguh, seperti ibu-ibu penambang disini” kata Rosa.

National Project Manager GOLD-ISMIA, Baiq Dewi Krisnayanti menjelaskan, masalah utama perempuan yang terlibat dalam pertambangan emas skala kecil adalah masih rendahnya akses perempuan kepada sumber daya dan risiko terpapar langsung merkuri. Kata Dewi, perempuan termasuk kelompok paling rentan terpapar merkuri dibandingkan penambang laki-laki.

“Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk penambang perempuan? Mari kita kembangkan potensi perempuan sebagai sumber daya produktif untuk berkontribusi di sektor PESK. Akses perempuan terhadap informasi, keterampilan dan teknologi menjadi salah satu penyebab kurangnya kesadaran kritis perempuan terhadap kondisi termasuk ketimpangan yang terjadi pada diri dan sekitarnya,” kata Dewi.

Senior Management Advisor for the Environment Unit UNDP Indonesia, Agus Prabowo mengungkapkan, UNDP Indonesia berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta BPPT untuk meningkatkan kesetaraan gender di sektor PESK.

“Kolaborasi itu terjadi di proyek GOLD-ISMIA di segala aspek. Contohnya pembentukan koperasi yang di dalamnya banyak perempuan, pengenalan alat baru yang lebih ramah lingkungan yang tidak menggunakan merkuri serta akses terhadap jasa layanan keuangan juga harus sensitif gender,” ujar Agus.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini