Bareskrim Tetapkan 6 Tersangka Kasus Investasi Ilegal Kripto EDCCash

Puteranegara Batubara, Okezone · Kamis 22 April 2021 16:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 22 337 2399115 bareskrim-tetapkan-6-tersangka-kasus-investasi-ilegal-kripto-edccash-90VBCx0c0A.jpg Bareskrim Polri rilis kasus investasi ilegal dengan modus kripto EDCCash, Jakarta, Kamis (22/4/2021). (Foto : Puteranegara Batubara)

JAKARTA - Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dit Tipideksus) menetapkan enam tersangka dalam kasus penipuan atau investasi ilegal dengan modus kripto EDCCash. Keenam tersangka itu berinisial AY, S, JBA, ED, AWH, dan MRS.

"Dalam kasus penipuan EDCCash kami menetapkan enam orang sebagai tersangka," kata Dir Tipideksus Bareskrim Polri Brigjen Helmy Santika dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta Selatan, Kamis (22/4/2021).

Helmy menjelaskan, modus para pelaku menggunakan investasi illegal seolah-olah memperdagangkan kripto yang dilaunching pada Agustus 2018, memiliki izin dan terhubung dengan market kripto internasional dengan menggunakan aplikasi EDCCash.

"Yang menjanjikan keuntungan mining 0,5% per hari sesuai saldo yang dimiliki dan hasil mining yang pasti ada yang beli yakni antar komunitas dan member, market internasional. Bila tidak ada yang beli maka Founder EDCCash yang akan beli," ujar Helmy.

Dalam perkara ini, korban dijanjikan mendapatkan keuntungan dari mining atau tambang sebesar 0,5% per hari atau 15% per bulan. Dari hasil tambang berupa koin tersebut dapat ditukarkan setiap saat ke Exchanger (JBA) dalam bentuk rupiah dan dijanjikan oleh tersangka AY untuk menarik member-member baru dengan membuat arisan pembelian kendaraan bermotor dan membuat program Umrah.

Selanjutnya melakukan Top Up dengan uang hasil dari arisan dan uang jamaah umrah tersebut, yang akan menghasilkan keuntungan dari mining untuk membeli kendaraan bermotor dan dapat berangkat umrah dari keuntungan EDCCash.

Baca Juga : Bareskrim Sita 21 Mobil Mewah Terkait Kasus EDCCash, Termasuk Ferrari dan McLaren

"Dengan janji-janji yakni koin yang beli pasti ada, market sampai ke luar negeri, harga pasti, setiap hari mining bertambah 0,5%. Bila tidak ada yang beli maka AY yang akan beli. Para peserta arisan dan jamaah umrah dianjurkan menjadi member-member baru EDCCash dan melakukan Top Up agar setiap hari bisa melakukan mining," ujar Helmy.

Kemudian korban diarahkan oleh AY untuk melakukan top up dengan cara transfer uang ke S. Secara bertahap sejak Juli 2019 korban M dengan dana pribadinya dan dana yang bersumber dari anggota arisan dan jamaah umrah melakukan top up sebanyak 338 kali dengan total keseluruhan sebanyak Rp27.832.099.000, dengan saldo akhir pada wallet EDCCash sebesar 878.017,081 koin.

"Hingga saat ini saldo pada wallet EDCCash tidak bisa ditukarkan ke exchanger dan juga tidak dibeli oleh AY. Sehingga korban M berikut anggota arisan dan jamaah umrahnya merasa tertipu dan mengalami kerugian Rp27.832.099.000," ucap Helmy.

Akibat penipuannya tersebut, setidaknya ada sekitar 57 ribu member yang menjadi korban, dengan nilai kerugian mencapai Rp 500.000.000.000.

Baca Juga : Bareskrim Sita Rp1 Triliun Mata Uang Zimbabwe Terkait Kasus Penipuan EDCCash

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 105 dan/atau Pasal 106 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan, Pasal 28 Ayat (1) Jo Pasal 45A Ayat (1) dan Pasal 36 Jo Pasal 50 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik, tindak pidana penipuan/perbuatan curang Pasal 378 KUHP Jo penggelapan Pasal 372 KUHP, tindak pidana pencucian uang (TPPU/Money Laundering) Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 dan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini