KH Hasyim Asyari Hilang dari Kamus Sejarah, Pesantren Tebuireng: Kemendikbud Harus Minta Maaf

Muhammad Refi Sandi, MNC Media · Kamis 22 April 2021 08:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 22 337 2398823 kh-hasyim-asyari-hilang-dari-kamus-sejarah-pesantren-tebuireng-kemendikbud-harus-minta-maaf-mArbKU3vE8.jpg KH Hasyim Asyari. (Foto: Istimewa/Dok Pesantren Tebuireng)

JAKARTA - Pesantren Tebuireng, Jombang ikut mengeluarkan memberi sikap menyusul hilangnya nama KH Hasyim Asyari dari draf kamus sejarah. Diketahui kamus tersebut merupakan buatan Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).  

"Naskah draf tersebut tidak layak dijadikan rujukan, sebab banyak berisi materi dan framing sejarah secara terstruktur dan sistematis dengan menghilangkan peran Nahdlatul Ulama (NU) serta para tokoh, terutama peran KH Hasyim Asy'ari," demikian dikutip dari laman resmi Pesantren Tebuireng pada Kamis (22/4/2021).

Sementara itu, dalam draf tersebut juga tidak adanya lema atau kata KH Hasyim Asyari. Hal itu dibuktikan pada jilid I maupun jilid II kamus sejarah tersebut tidak ada tokoh Nahdliyin tersebut. 

Baca juga: Kisah KH Hasyim Asyari Memelopori Resolusi Jihad

Pesantren Tebuireng mengatakan, narasi yang dibangun dalam kedua jilid kamus tersebut tidak sesuai dengan kenyataan sejarah. Oleh sebab itu, naskah tersebut dianggap tidak layak jadi rujukan para praktisi pendidikan dan pelajar Indonesia. 

"Kamus ini cenderung mengunggulkan organisasi tertentu dan mendiskreditkan organisasi lain. Selain itu banyak kelemahan substansial dan redaksional yang harus dikoreksi dari konten kamus tersebut," jelasnya. 

Pesantren Tebuireng menuturkan sejarah sebuah bangsa sangat penting guna membangun peradaban di masa mendatang. Sebab, tidak ada suatu bangsa yang menjadi besar tanpa memahami dan mempelajari sejarah leluhurnya.  

Baca juga: Nama KH Hasyim Asy'ari Hilang dari Kamus Sejarah, Nadiem Makarim: Itu Disusun Sebelum Saya Jadi Menteri

"Penulisan sejarah yang jujur merupakan tanggung jawab semua elemen bangsa," tambah pihak pesantren.

Pesantren Tebuireng menuntut Kemendikbud untuk menarik kembali naskah tersebut. Selanjutnya, meminta Kemendikbud meminta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia.  

"Kemendikbud meminta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia atas kecerobohan dan kelalaian dalam penulisan kamus tersebut,” pungkasnya. 

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini