Hilangnya Nama KH Hasyim Asy'ari dan Ayah Prabowo di Draf Kamus Sejarah, Gerindra: Nadiem Stop Sampai di Sini

Rakhmatulloh, Sindonews · Kamis 22 April 2021 07:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 22 337 2398799 hilangnya-nama-kh-hasyim-asy-ari-dan-ayah-prabowo-di-draf-kamus-sejarah-gerindra-nadiem-stop-sampai-di-sini-DnlfQETGny.jpg Ilustrasi (Foto:Dok Okezone)

JAKARTA - Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Ali Zamroni menyatakan, ada semacam itikad yang kurang baik dari Kemendikbud di bawah Menteri Nadiem Makarim terkait hilangnya sejumlah tokoh bangsa dari Kamus Sejarah Indonesia, dari mulai pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari, ayahnya Prabowo Subianto, Sumitro hingga Presiden Keempat RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Menurut Ali, apa yang dilakukan Nadiem secara beruntun mulai dari peta jalan pendidikan yang ketika ditegor masyarakat, ia mengaku baru tahap prakonsep.

Baca Juga: Selain KH Hasyim Asy'ari, MPR Sebut Gus Dur dan Ayah Prabowo Hilang di Kamus Sejarah

Selain itu, beruntun yang selanjutnya adalah terkait PP 57 tentang sistem pendidikan nasional yang tak memasukkan Pancasila dan Agama dalam kurikulum pendidikan.

Baca Juga: Kamus Sejarah Indonesia Kemendikbud Disebut Tak Layak Jadi Rujukan

"Kemudian yang paling terakhir ini sedang cukup heboh tidak masuknya beberapa tokoh yang notabene sudah memberikan kontribusi yang cukup jelas kepada indonesia yaitu kh hasyim asyari, ada bapaknya pak prabowo ada kemudian gusdur yang tidak masuk dalam kamus sejarah kita," ujarnya saat dihubungi, Kamis (22/4/2021).

Ali mengatakan, dari kesalah beruntun tersebut, Nadiem dan lembaganya hanya meminta maaf dan menganggap seolah-olah kesalahan itu sebagai yang sepele.

"Saya melihatnya ini sudah cukup fatal loh, karena jangan kemudian sesuatu yang kebijakan yang seharusnya luar biasa membahsnya di dalam ketika terjadi sesuatu mereka hanya dengan entengnya meminta maaf bla, bla, bla dan seterusnya," ungkap Ali.

"Saya rasa ini, kok kalo keteledoran berkali-kali ini ada apa? Ya menurut saya di tengah situasi pandemi seprti ini janganlah buat gaduh seperti itu," imbuh dia.

Lebih lanjut Ali mengatakan, jika dicermati lebih jauh, Kemendikbud belakangan ini kerap bikin gaduh. Sebelum gaduh soal kamus sejarah Indonesia, lembaga yang dipimpin Nadiem juga bikin gaduh soal POP dan organisasi penggerak.

"Nah dari hal-hal semacam itu, saya melihat dan berkesimpulan fraksi gerindra, nadiem ini sudah cukup, stop sampai di sini saja, kalo menurut saya ya. Udah (cukup), banyak kok kader atau orang-orang yang mungkin lebih mampu dari dia gitu loh," ujarnya.

Ali menegaskan, jika kesalahan itu dilakukan sekali atau dua kali lalu dengan mudahnya meminta maaf karena keteledoran maka hal itu dianggapnya tak masalah. Namun jika hal itu dilakukan berkali-kali, Ali mengaku sanksi bahwa itu adalah keteledoran.

"Saya yakin ini ada upaya yang terselubung, ada sesuatu yang terselubung, saya melihatnya di situ karena vital semua, peta jalan pendidikan agama tidak masuk iya kan, kemudian di PP, Pancasila tidak masuk, malah tokoh-tokoh PKI pada masuk (kamus sejarah) gimana, iya gak? Ini kan kontradiktif loh, udah salah kemudian kontradiktif pula yang seharusnya tidak masuk jadi masuk, ini kan, udahlah. Menurut saya nadiem udah cukup," pungkas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini