Menyingkap Hubungan Pangeran Diponegoro dan Santri

Doddy Handoko , Okezone · Kamis 22 April 2021 07:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 22 337 2398786 menyingkap-hubungan-pangeran-diponegoro-dan-santri-q2EQETaoqg.jpeg Pangeran Diponegoro. (Foto: Istimewa)

DALAM buku "Kuasa Ramalan", sejarawan Peter Carey menuliskan pertaannya, mengapa gerangan para santri mendukung Diponegoro pada 1825?

"Pertanyaan ini penting karena jika dilihat jalannya sejarah Jawa hingga ke Perang Jawa, hubungan antara keraton dan kelompok keagamaan di Jawa tengah-selatan lebih banyak ditandai dengan permusuhan daripada dengan kerja sama," tulis Carey. 

Dalam hal ini orang bisa mengingat kejadian ber­darah selama kekuasaan Sunan Amangkurat I (bertakhta 1646–1677) tatkala ribuan “pemuka agama” dan keluarga mereka dibunuh dengan pedang di alun-alun utara keraton Plered sekitar 1650.

Baca juga: Kisah Pangeran Diponegoro Bertemu Ratu Kidul di Gua Langse, Menolak Bantuannya

Yang disebut “Perang Suksesi” Jawa akhir abad ketujuh belas dan awal abad kedelapan belas juga sudah menunjukkan ketegangan yang mendasar antara keraton dan kauman. 

Sejarah Jawa menyaksikan para ahli agama dan “orang suci”, seperti Panembahan Rama dari keluarga pembesar agama di Kajoran dekat Tembayat, ikut serta dalam pemberontakan besar-besaran melawan kekuasaan raja, seperti yang dipimpin oleh bangsawan muda Madura, Raden Trunojoyo, seorang tokoh dengan keyakinan agama yang kuat, 1676–1680 (De Graaf 1940:273–328; Ricklefs 1993:30–57).

Baca juga: Kisah Pangeran Diponegoro di Bulan Puasa dan Ditangkap saat Lebaran

"Mengapa Perang Jawa lain daripada yang lain? Pengasuhan Diponegoro di Tegalrejo mungkin sedikit banyak berpengaruh dalam hal ini,"ungkapnya.

"Pastilah kesetiaan pribadinya terhadap Islam dan pergaulannya yang luas dengan kelompok-kelompok santri di Jawa Tengah selatan menjadikannya seorang bangsawan yang tak lazim," tambahnya.

Namun semua ini bukan tanpa masalah. Sebenarnya ke mana ia menujukan kesetiaannya? Apakah dalam batinnya ia tetap seorang ningrat yang telah mengalami masa kanak-kanak yang luar biasa dan terbuka terhadap ajaran-ajaran Islam?

Jika benar demikian, apakah ia tidak lebih dari Pangeran Buminoto yang menjadi pertapa, seorang bangsawan Surakarta yang saleh dan terkenal sebagai pelindung para guru agama di ibu kota kesunanan (hlm. 108-9)?

"Atau apakah ia sama sekali telah membuang kehormatan yang layak baginya sebagai seorang kesatria (pangeran-prajurit, anggota keluarga kerajaan Yogya) guna mengadu nasib bersama santri?” tanya Carey. 

Bagi penulis Babad Diponegoro versi Surakarta jawabannya tidak ragu-ragu: dengan kata-kata yang konon diucapkan oleh Residen Yogyakarta, Anthonie Hendrik Smissaert (menjabat 1823–1825), Diponegoro adalah seorang “wali gadungan”, santri munafik, luarnya putih tapi dalamnya sama sekali kuning (Carey 1981a:19 yang mengutip LOr 2114: 7):

Suatu sumber Jawa lain pada masa yang sama, Buku Kedung Kebo (1842/43) merumuskannya dengan sedikit berbeda. Masalahnya bagi penulis naskah ini, Raden Adipati Cokronegoro I, Bupati Purworejo (1779-1862; menjabat 1831–1856), bukanlah terutama kesungguhan Diponegoro dalam mengabdikan diri pada Islam, tapi patut-tidaknya keputusannya menyerahkan kekuasaan politik ke tangan para santri. Lagi-lagi jawabannya jelas (Carey 1981a:249 catatan 54, yang mengutip KITLV Or 13: 150):

“Santri tidak dapat memerintah negara karena begitulah tabiat santri. Mereka mencari mereka sendiri. Mereka tidak dapat mengurus kerajaan. Lain sekali dengan perbawa seorang raja,” tulisnya.

Diponegoro sendiri tampaknya mengalami pertentangan yang mendalam. Di satu sisi, ia melancarkan perang suci dan untuk ini ia perlu dukungan santri, tidak kurang penting untuk menjamin agar ia menafsirkan dengan tepat mandatnya berdasarkan Alquran.

Di sisi lain, ia seorang Jawa tradisional, benar-benar murni seperti sudah ditegaskan oleh Nicolaus Engelhard (1761-1831), bekas pejabat kawakan VOC.

Sebagai seorang anggota keluarga kerajaan Yogya yang terkemuka, tentunya ia berpikir dalam kerangka pembentukan suatu keraton dengan segala pernak-pernik kerajaannya, sekalipun dengan langgam Islam Jawa yang khas.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini