Berikut Penampakan KRI Spica-934 yang Dikerahkan Mencari KRI Nanggala 402

Tim Okezone, Okezone · Rabu 21 April 2021 19:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 21 337 2398613 berikut-penampakan-kri-spica-934-yang-dikerahkan-mencari-kri-nanggala-402-Oq3ByAV961.jfif KRI Spica 934 (foto: istimewa)

JAKARTA - KRI Spica-934 dikerahkan untuk melakukan pencarian terhadap KRI Nanggala-402 hilang kontak sekitar 60 mil atau 95 kilometer di perairan utara Bali, pada Rabu (21/4/2021) sekira pukul 04.30 WIB.

Perlu diketahui, KRI Spica-934 adalah Kapal Bantu Hidro Oseanografi (BHO) kedua milik TNI AL yang dibuat di galangan OCEA, Les Sables-d'Olonne, Perancis, setelah KRI Rigel-933 selesai dibuat. Spica sendiri diambil dari nama bintang yang paling terang pada rasi bintang Virgo.

KRI Spica memiliki nomor lambung 934 dan resmi meluncur pada 3 Agustus 2015 lalu dari Les Sables-d'Olonne, Perancis. Kapal ini resmi bertugas pada 17 Oktober 2015.

 KRI Spica

KRI Spica-934 memiliki panjang 60 meter dengan tenaga 2 mesin diesel 8V 4000 M53 untuk 2 propeller. Kapal tersebut dapat melaju hingga kecepatan maksimum 14 knot. Sementara untuk jarak jelajahnya mencapai 4.400 nautical mile pada kecepatan 12 knot. Kapal ini mampu menghadapi gelombang laut sampai level Sea State Six.

KRI Spica-934 dapat menampung 30 awak dan 16 personel tambahan. Kapal BHO terbaru TNI AL ini mampu berlayar terus-menerus selama 20 hari. Secara asasi, KRI Spica-934 berfungsi sebagai kapal riset dan survei, namun demikian juga dapat menjalankan peran sebagai kapal patroli, sebab KRI Spica-934 dibekali meriam PSU Rheinmetall kaliber 20 mm pada haluan, serta 2 pucuk Senapan Mesin Berat (SMB) M2HB kaliber 12,7 mm di geladak buritan.

 KRI Spica

Sebagai elemen inti dari fitur kapal ini adalah perlengkapan penunjang misi oseanografi. Seperti KRI Rigel-933, KRI Spica-934 dilengkapi perangkat Single Beam Echo Sounder jenis Kongsberg’s EA600 dan Multibeam Systems EM2040 dan EM302.

Lebih canggih lagi, setiap Offshore Support Vessel (OSV) dibekali Autonomous Underwater Vehicle (AUV) tipe Kongsberg Maritime’s Hugin 1000. Perangkat yang kerap disebut Remotely Operated Vehicle (ROV) ini sanggup mengemban misi survei bawah air hingga kedalaman 1.000 meter.

Saat ini, KRI Spica-934 menjadi bagian dari armada Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Pushidrosal).

 KRI Spica

Diketahui, KRI Spica-934 merupakan penemu Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat Lion Air JT-610 PK-LQP yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, Senin 29 Oktober 2018 lalu.

Penemuan tersebut dilakukan prajurit TNI AL dari Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambar) Komando Armada (Koarmada) I pada hari Senin (14/1/2019) sekitar pukul 09.10 WIB dengan menggunakan KRI Spica-934.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini