Kisah Pangeran Diponegoro Bertemu Ratu Kidul di Gua Langse, Menolak Bantuannya

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 21 April 2021 06:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 21 337 2398143 kisah-pangeran-diponegoro-bertemu-ratu-kidul-di-gua-langse-menolak-bantuannya-GMFvBSWKVZ.jpg Pangeran Diponegoro (Foto: Ist)

DALAM buku " Kuasa Ramalan", karya sejarawan Peter Carey hlm.161-73 diceritakan perjumpaan Pangeran Diponegoro dengan Ratu Kidul di Gua Langsé pada musim kemarau 1805, dan sesudahnya di Banyumeneng (Kulon Progo) pada malam bulan purnama 20/21 Juli 1826.

"Selanjutnya Pangeran melintasi kaki Gunung Kidul menuju Gua Langse yang menjorok ke arah Lautan Hindia yang gemuruh dan yang hanya bisa dicapai lewat jalan curam setapak menuruni tubir-tubir batu karang hingga ke lubang masuk yang nyaris menyentuh permukaan laut," ujar Peter Carey.

Gua tersebut, dan tempat-tempat terdekat di Pamancingan (Mancingan), Parangtritis, Parangkusumo, dan Parangwedang, suatu sumber air panas, merupakan tempat-tempat yang sangat penting dalam upacara pemujaan Ratu Kidul, pelindung rohani dan pasangan roh halus raja-raja keraton Jawa tengah.

 Baca Juga: Kisah Pangeran Diponegoro Bertemu Sunan Kalijaga, Diminta Mengubah Nama dan Diberi Panah Sarutomo

Mancingan, misalnya, dikenal sebagai satu di antara delapan permu­kiman utama roh halus (lelembut) Jawa dan rumah pertapa perempuan, Cemoro Tunggal, yang dianggap hampir sama dengan Ratu Kidul.

Tempat yang sama juga dikaitkan dengan Syekh Maulana Maghribi, seorang wali yang konon berasal dari masa kerajaan Demak, yang hidup dan dimakamkan di salah satu puncak di antara sejumlah bukit-bukit kecil yang menghadap ke laut.

"Parangtritis—disebut begitu karena air yang merembes dari batu-batu karang di gua-gua— merupakan tempat Senopati berangkat menemui Ratu Kidul di keraton bawah lautnya, dan saat kembali, di tempat itu pula ia bertemu dengan Sunan Kalijogo," ungkapnya.

Baca Juga:  Kisah Pangeran Diponegoro di Bulan Puasa dan Ditangkap saat Lebaran

Dari batu karang kembar di pantai Parangkusumo, suatu sajian persembahan—dikenal sebagai “labuhan” (dari kata Jawa labuh, “melemparkan ke air”)—dibuat setiap tahun oleh Sultan Yogya untuk pasangannya yang roh halus, yakni dewi laut selatan.

Dengan demikian, seluruh tempat tersebut punya kaitan yang kuat dengan dunia roh halus Jawa dan masih menarik ratusan pengunjung dari segala penjuru pulau itu.

Pada masa Diponegoro berkunjung ke sana sekitar 1805, tempat itu sudah menjadi tujuan ziarah yang penting, khususnya buat kalangan Keraton Yogya.

Sultan kedua secara teratur melakukan perjalanan ke tempat itu pada awal masa kekuasaannya dan biasanya ia tinggal di Mancingan selama beberapa hari. Paviliun kecil yang terbuka,yang dikenal di Jawa sebagai pondok, sudah didirikan di tepi laut di Parangkusumo, Parangwedang, dan Parangtritis untuk tempat samadi dan aneka upacara yang berkaitan dengan dewi pantai selatan, di samping bangunan kayu yang lebih besar, pesanggrahan atau tem­pat bermalam di Parangtritis, untuk keperluan Sultan dan para pengiringnya selama kunjungan yang dilakukan secara teratur itu.

Juga ada sebidang tanah yang diberikan kepada kalangan agama (wong putihan, arti harfiahnya “orang berpakaian putih”) yang menjaga makam Syekh Maulana dan merawat pondok-pondok. Pada 1812, seorang pengunjung Belanda melihat beberapa di antara wong putihan itu bersamadi dengan seorang muda Jawa “dalam sikap khusyuk” di Parangtritis, dan ia diberitahu bahwa orang-orang sering datang ke sana berdoa untuk mendapatkan hal-hal yang mereka inginkan atau ketika mereka berada dalam kesulitan.

Ia juga diberitahu tentang suatu gua di pegunungan, barangkali Gua Surocolo atau Gua Langsé, yang sering disinggahi dan di dinding batu karang gua itu terukir nama mereka yang pernah bersamadi di sana. "Karena itu Diponegoro tinggal mengikuti jalan yang sudah lama ada untuk tiba di pantai selatan sebagai seorang muda usia dua puluh,"ucapnya.

Tujuannya adalah mempersiapkan diri untuk menemukan sang Ratu Kidul, dan dalam babad karyanya ia menggambarkan bagaimana ia tinggal di Gua Langsé selama dua minggu, “bergulat menyucikan hasratha­sratnya”.

Setelah keadaan batin dan jasmaninya terasa makin tenang, ia mulai terserap ke dalam keheningan samadi, “suatu keadaan yang mustahil dilukiskan”.

Lalu ia didatangi oleh Ratu Kidul, yang kehadirannya ditandai dengan semburat cahaya. Namun, Diponegoro demikian terserap dalam samadinya hingga sang dewi sadar bahwa “pria itu tidak mempan digoda”, lalu ia mundur sambil berjanji bahwa bila saatnya tiba ia akan datang lagi kepadanya.

Dua puluh tahun akan berlalu sebelum tiba saat yang dijanjikan oleh Ratu Kidul. Ketika itu Perang Jawa sedang sengit-sengitnya dan Diponegoro tengah berkemah di Kamal pada satu cabang Kali Progo di daerah Kulon Progo. Tanggal pasti tidak jelas ada dalam ceritanya, tapi diperkirakan pada pertengahan Juli 1826, mungkin pada malam bulan purnama yang jatuh pada 20–21 Juli.

Berikut ini kisah perjumpaan keduanya seperti yang terdapat dalam Babad Diponegoro:

XXV. 63. "Lalu sang Sultan [Diponegoro] , sedang duduk kala malam di pondoknya, tiada pendampingnya, , karna mereka tidur lelap."

64. "Ia terserap dalam samadi bersandarkan tiang, karna hatinya sungguh berat. Itulah pertanda bahwa mendadak seseorang datang. Seolah-olah ada bintang turun ke pondok. Langsung saja bersila di hadapan Sultan sesosok perempuan.

65. " Ada dua pengiringnya, semua perempuan sama rupa , yang mustahil dilukiskan. Tapi, di antara tiga sosok itu, satu , agak lain dari dua pengiringnya. Lama Sultan tak menyapanya, terperangah menatap dia ."

66. "dan mengamatinya lebih dekat. Sosok itu duduk tapi tak menyentuh tanah. Sultan berucap lirih: “Aku bertanya [namamu] / sebab aku terperangah.” Ratu [Kidul] jawab: “Pernah aku , berjanji kepadamu.

67. bahwa nanti, bila saatnya tiba, [Aku] takkan gagal menemuimu.” Sultan itu paham di hatinya. Maka terpikirlah ia , barangkali namanya Ratu Kidul , karna ia sangat muda. Sultan itu berucap tenang:

68. “Sekarang aku ingat.” Ratu [Kidul] lalu berkata lembut: “Jika aku boleh menolongmu, aku minta janji setia , begitu mereka sirna semua , setan-setan kafir itu [Belanda]."

69. " Kamu akan menolongku , demi Allah Yang Maha Kuasa , agar aku dapat kembali , jadi manusia lagi. , Lebih daripada itu, semua balatentaramu, , tidak usah bertempur, , karna akulah yang berjanji.

70. " Untuk melenyapkan setan-setan itu.” . Sultan berkata lembut: “Aku tak minta bantuanmu melawan sesamaku [makhluk manusia], karna dalam agama pertolongan hanya dari Allah.” Ratu [Kidul] langsung gaib."

"Bisa dilihat dari cerita ini bahwa penampakan Ratu Kidul di hadapan Diponegoro di Gua Langsé dan kemudian semasa Perang Jawa punya satu tujuan khusus. Sebagai ratu dunia roh halus leluhur Jawa, Ratu Kidul menawarkan bantuan kepada Diponegoro dengan syarat Pangeran memohon kepada Allah agar Ratu Kidul kembali jadi manusia dan dengan demikian mewujudkan pembebasannya dari nasib. Permintaan ini diajukan oleh sang Dewi kepada semua raja yang merupakan kekasihnya itu,"paparnya.

Dalam Babad Tanah Jawi ia digambarkan memohon Sultan Agung agar membantunya dengan cara serupa.

Tapi, sebagaimana terdapat dalam naskah Diponegoro, tiada yang dapat mengubah nasib sang Dewi karena nasib itu telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa bahwa dirinya tidak akan lepas dari kerajaan roh halus sampai hari kiamat atau hari pengadilan akhirat ketika semua lapis kehidupan yang beragam disatukan. Begitulah kehendak Allah.

Namun demikian, hal itu tidak membuat Ratu Kidul berhenti memohon ke­pada para kekasihnya yang menjadi raja agar meminta kepada Allah pembebasan dari nasibnya. Memang, kendati kekuatan dan kecantikannya yang gaib, dewi laut selatan tersebut lebih merupakan tokoh tragis yang patut dikasihani daripada yang diketahui umum. Walaupun mam­pu menolong, ia juga amat membutuhkan pertolongan.

" Tentu saja de­mikian pulalah Diponegoro memandang dewi tersebut, dan dengan tegas ia menolak tawarannya untuk membantu, barangkali karena ia pikir waktu itu kemenangan militernya atas Belanda sudah berada di depan mata,"ucapnya.

"Lalu, apa tujuannya memasukkan bagian cerita ini dalam babad karyanya? Salah satu kemungkinan adalah bahwa Diponegoro ingin menem­pat­kan diri setara dengan Senopati dan Sultan Agung, dua-duanya raja yang telah menikmati hubungan istimewa dengan Ratu Kidul dan yang membawa kerajaan Mataram ke puncak kejayaannya,"tambahnya.

Kita telah melihat di atas bagaimana Diponegoro sangat berhasrat menunjukkan persamaan antara dirinya dan Sultan Agung dalam hal olah-rohani dan kekuasaan duniawi.

Pada sisi lain, sang Pangeran mungkin merasa harus merujuk pada perjumpaannya itu untuk menegaskan bahwa ia tidak memerlukan bantuan dari dunia roh halus atau kekuatan gaib yang tak lazim dalam peperangan melawan Belanda. Sebagai seorang muslim yang saleh, ia menaruh kepercayaan kepada Allah.

Lagipula, sebagaimana selalu ditegaskan dalam otobiografinya, tujuannya yang utama selama Perang Jawa adalah kemajuan agama, khususnya “meningkatkan keluhuran agama Islam di seluruh Jawa”, yang mencakup tidak sekadar ibadah Islam yang resmi tapi juga tatanan moral umum (Carey 1974b:285).

"Penolakan Pangeran terhadap pertolongan Ratu Kidul menegaskan keluhuran cita-citanya dan pengorbanannya yang begitu banyak untuk mewujudkannya. Namun demikian, ia tetap terpesona dengan kecantikan dewi yang tak pudar-pudar itu dan dengan ceritera rakyat yang melingkupinya. Seorang Jawa hingga ke sumsum tulang, Diponegoro menangguk ilham dari dunia roh halus leluhur kawasan inti Jawa sebanyak yang ia reguk dari pengabdiannya terhadap Islam dan ajaran-ajaran adiluhung Satariyah.

Sang Pangeran betul-betul jenis “sintesa mistik” yang oleh Ricklefs dikatakan mencapai puncak perkem­bangan­nya di Jawa awal abad kesembilan belas (Ricklefs 2006:195–220).

Dalam perjalanannya ke pengasingan, Diponegoro merujuk pada dewi itu secara panjang-lebar dalam percakapannya dengan Knoerle, dan kemudian putranya yang sulung, Pangeran Diponegoro II (1803-pasca-Maret 1856), akan menghasilkan cerita yang sangat mirip tentang perjumpaannya dengan Ratu Kidul dalam karya tulisnya berupa kisah keteladanan tentang Perang Jawa.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini