Ziarah ke Makam-Makam Habib di Dalam Masjid Tua di Jakarta

Doddy Handoko , Okezone · Senin 19 April 2021 06:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 19 337 2396839 ziarah-ke-makam-makam-habib-di-dalam-masjid-tua-di-jakarta-AkeqNvgTjU.jpg Masjid Luar Batang (Foto: Okezone)

JAKARTA - Di Jakarta terdapat masjid –masjid tua peninggalan ulama-ulama terdahulu. Masjid itu antara lain masjid Luar Batang, kampung Bandan, Mangga Dua, dan masjid Hadramaut. Di sekitar masjid itu terdapat makam ulama jaman itu yang menyebarkan islam di Jayakarta.

Di Pasar Ikan, Jakarta Utara, terletak Masjid Luar Batang. Masjid itu hingga kini masih berdiri megah letaknya hanya beberapa ratus meter di belakang benteng yang dibangun oleh JP Coen. Seperti masjid-masjid tua lainnya, mula-mula masjid ini hanya sebuah mushala, di tempat pemukiman para nelayan.

Masjid yang sudah berusia ratusan tahun, banyak didatangi para peziarah dari berbagai tempat di tanah air. Di masjid ini terdapat makam Habib Husin Bin Abubakar Alaydrus, yang meninggal dunia pada 17 Ramadhan 1169 H atau 24 Juni 1756. Dia adalah pendiri masjid tersebut.

Menurut keterangan warga sekitar, sebelum datang ke Indonesia, habib Husin terlebih dulu tinggal di Gujarat (India). Sejak dulu pada malam Jumat, para peziarah bisa mencapai ribuan orang, sambil membaca surah Yasin.

Kawasan Luar Batang yang merupakan salah satu pemukiman tertua di Jakarta, sejak dulu merupakan daerah penyebaran Islam. Setidak-tidaknya para ulama dan da'i di sini telah mengimbangi kegiatan Kristenisasi yang dilakukan oleh VOC di benteng (kastil) Batavia. Masjid ini juga banyak didatangi pada saat acara haul pendirinya.

Tak jauh dari Pasar Ikan --tempat Belanda pertama kali menjejakkan kaki di Jakarta-- antara pelabuhan Sunda Kelapa dan Taman Impian Jaya Ancol, terletak Kampung Bandan. Berdekatan dengan jalan tol Tanjung Priok- Cengkareng, terdapat sebuah Masjid Kampung Bandan. Di masjid ini terdapat makan tiga habib dari Hadramaut, yakni Habib Muhammad bin Umar Alqudsi (117 H atau 1705), Habib Ali bin Alwi Shatri (1710 M), dan Habib Abdurahman Shatri.

Kampung Bandan juga merupakan kampung tua di Jakarta. Ketika JP Coen melakukan pembunuhan massal terhadap penentangnya, ia pun membawa sebagian penduduknya ke Jakarta. Orang-orang Banda ini ditempatkan di Kampung Banda(n) sebagai budak belian.

Jika menelusuri Jl Pangeran Jayakarta berbelok ke arah kiri dari stasion kereta api Jakarta Kota, akan terdapat Masjid Mangga Dua. Sampai abad ke-18, sebelum Gubernur Jenderal Daendels memindahkan kota ke Weltevreden, Jl Pangeran Jayakarta merupakan kawasan elite. Bahkan Gubernur Jenderal Van den Parra membangun rumah peristirahatan megah di sini.

Di masjid ini terdapat beberapa makam ulama yang berasal dari Hadramaut. Termasuk makam pendirinya, habib dari keluarga Jamalullail. Di Malaysia, Yang Dipertuan Agung sekarang ini berasal dari keluarga Jamalullail.

Di masjid ini juga terdapat makam kerabat keraton dari Jawa Tengah. Seperti Raden Tumenggung Anggakusumah Dalam. Kampung ini dulu dihuni orang Jawa, ketika Belanda menempatkan penduduknya berdasarkan suku atau etnis.

Orang Arab dari Hadramaut mulai banyak berdatangan ke Nusantara pada abad ke-18. Sebelumnya, mereka pernah mendarat lebih dulu di Pantai Malabar (India). Prof LWC van den Berg, ahli hukum dan masalah Arab yang mengadakan penelitian pada 1864-1868, menyebutkan di Batavia koloni Arab begitu besar, hingga pemerintah Belanda pada 1844 mengharuskan adanya kapiten Arab.

Mereka mula-mula tinggal di Pekojan, Jakarta Barat, yang kala itu merupakan pemukiman orang Koja (India). Lama-kelamaan etnis India ini meninggalkan Pekojan yang letaknya berdekatan dengan Glodok. Keberadaan orang India ini digantikan oleh orang Arab.

Sejumlah masjid yang dibangun oleh para imigran India hingga saat ini masih berdiri di sekitar Pekojan. Seperti Masjid Al-Anshor yang terletak di Jl Pengukiran II, yang oleh warga setempat hingga kini disebut Gang Koja. Masjid ini dibangun pada 1648 oleh para Muslim dari Malabar.

Para imigran India yang datang belakangan juga membangun sebuah masjid yang letaknya tidak terlalu jauh dari masjid pertama mereka. Masjid yang terletak di Jl Bandengan Selatan 34, Jakarta Barat ini oleh masyarakat setempat disebut Masjid Kampung Baru.

Masjid yang didirikan pada 1748 itu kini hanya tersisa beberapa bagian dari bangunan aslinya, seperti empat tiang penyangga dan beberapa pilar kecil pada jendela. Tiap tahun pada saat Idul Fitri banyak warga India Muslim berkumpul di masjid ini. Sambil berlebaran mereka bernostalgia terhadap kampung nenek dan kakek mereka.

Di Jalan Pekojan, yang hingga kini masih terdapat banyak bangunan tua bergaya Moor, terdapat sebuah masjid tua yang dibangun oleh orang Arab dari Hadramaut.

Masjid An-Nawier yang dibangun pada 1760, menurut Dinas Permuseuman dan Kebudayaan DKI Jakarta, di masa-masa lalu sangat erat hubungannya dengan masjid kuno di Keraton Surakarta dan Keraton Banten.

Konon, setiap ada tiap keluarga sultan atau para ulama yang meninggal di Solo, berita ini disampaikan ke Masjid Pekojan agar dilakukahn shalat gaib. Hal semacam ini juga dilakukan di masjid keraton bila ada tokoh ulama Jakarta meninggal dunia.

Masjid yang semula hanya sebuah langgar (surau), pada awal abad ke-20 telah diperluas oleh Habib Abdullah bin Husin Alaydrus, yang memiliki tanah sangat luas di Jakarta. Tempat tinggalnya hingga kini diabadikan di Jl Alaydrus, dekat Harmoni.

Pada masa Perang Aceh, ia banyak menyelundupkan senjata untuk para pejuang Aceh. Almarhum juga berjasa saat-saat berdirinya perguruan Islam 'Jamiatul Kheir,' awal abad ke-20. Masjid jami yang dapat menampung sekitar 2.000 jamaah, mimbarnya merupakan hadiah dari Sultan Pontianak Syarif Algadri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini