6 Juta Bulk Vaksin Sinovac Tiba, Menkes: Alhamdulillah Masih Cukup Lancar

Binti Mufarida, Sindonews · Minggu 18 April 2021 15:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 18 337 2396693 6-juta-bulk-vaksin-sinovac-tiba-menkes-alhamdulillah-masih-cukup-lancar-YTvzwFgJsJ.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Sebanyak 6 juta bulk atau bahan baku vaksin Covid-19 dari Sinovac China kembali tiba di Indonesia pada hari ini, Minggu 18 April 2021. Kedatangan ini merupakan tahap kedelapan dari pengiriman 140 juta bulk vaksin Sinovac yang akan diterima Indonesia.

Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin (BGS) pun mengatakan, bahwa pengiriman dari China ini masih cukup lancar masuk ke Indonesia di tengah embargo vaksin dari sejumlah negara.

“Saya tadi baru kembali dari penerimaan 6 juta bulk vaksin dari Sinovac. Alhamdulillah memang produksi yang dari China ini masih cukup lancar masuknya ke Indonesia,” ungkap BGS dalam Webinar PB IDI Upaya Akselerasi Pencapaian Target Vaksinasi Covid-19, Kendala & Solusi, Minggu (18/4/2021).

 Baca juga: Menkes: Perebutan Vaksin Covid-19 di Dunia Semakin Keras

Dalam kesempatan itu, BGS mengatakan bahwa sebanyak 181,5 juta masyarakat Indonesia di atas 18 tahun akan divaksin Covid-19.

“Teman-teman pasti sudah Saya share, kita diamanahkan untuk bisa memvaksinasi 181,5 juta rakyat Indonesia usia diatas 18 tahun. Itu memang 100 persen dari target populasi di atas 18 tahun akan kita vaksinasi,” katanya.

Baca juga: Menkes: Suntikan Vaksinasi Covid-19 Tembus 16,5 Juta Dosis

“Waktu itu kenapa kita pilih pilih 100 persen? Karena memang kita menggunakan asumsi efektifitasnya efikasi ratenya rata-rata di 60 persen. Tapi kenyataannya sekarang mungkin bisa 70 sampai 80 persen, karena yang paling rendah juga Sinovac sudah 65 persen,” papar BGS.

BGS mengatakan, untuk bisa memvaksinasi 181,5 juta jiwa membutuhkan sebanyak 313 juta dosis vaksin.

“Nah, dari 181,5 juta kita butuh sekitar 313 juta dosis vaksin. Kita kasih cadangan 15 persen. Jadi kita memang merencanakan untuk mengorder 426 juta,” katanya.

“Dari 426 juta dosis ini kita bagi menjadi 4. Dari Sinovac China, Astrazeneca dari London, kemudian Novavax itu perusahaan Amerika-Kanada, dan Bio Emtec Pfizer itu Start Up di Jerman yang kemudian didukung oleh Pfizer,” kata BGS.

Lalu, BGS pun menjelaskan kenapa hanya memiliki empat vaksin untuk digunakan di Indonesia. “Kenapa empat? Ya maksudnya supaya kalau terjadi masalah dengan satu, yang lainnya masih bisa kita terima. Dan itu yang kejadian sekarang juga," pungkasnya.

(wal)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini