Menkes: Perebutan Vaksin Covid-19 di Dunia Semakin Keras

Binti Mufarida, Sindonews · Minggu 18 April 2021 14:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 18 337 2396668 menkes-perebutan-vaksin-covid-19-di-dunia-semakin-keras-f6iH6Ad3HH.jpg Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi (foto: istimewa)

JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin (BGS) mengungkapkan vaksin Covid-19 saat ini menjadi komoditas yang paling diperebutkan oleh negara-negara. Apalagi hanya beberapa negara saja yang memproduksi vaksin.

“Dan untuk pengetahuan, kita ketahui bahwa saat ini rebutan di Dunia ya, makin lama makin keras rebutannya,” ungkap BGS dalam Webinar PB IDI Upaya Akselerasi Pencapaian Target Vaksinasi Covid-19, Kendala & Solusi, Minggu (18/4/2021).

Baca juga: Menkes: Vaksinasi Covid-19 Harian Pernah Tembus 500.000 Suntikan Per Hari

Apalagi saat ini, India sebagai negara yang memproduksi vaksin AstraZeneca dari perusahaan London Inggris melakukan embargo vaksin. Pasalnya, terjadi lonjakan kasus disana. Sehingga, hal ini berdampak pada stok vaksin di Indonesia.

“Akhir-akhir ini, karena ada lonjakan kasus di India, India ingin memastikan dan pastinya vaksin yang diproduksi di dalam negeri yang lebih diprioritaskan ke India dulu. Dan itu sama yang terjadi di Amerika dan Inggris juga,” kata BGS.

Baca juga: Pemprov Kepri: Varian Corona B1525 Sudah Masuk Batam

Kemudian, BGS mengatakan selain India, Amerika dan Inggris saat ini juga sedang melakukan embargo vaksin. Dimana vaksin yang mereka produksi hanya bisa dipakai di negaranya saja.

“Jadi semua pabrik di Amerika produksi pastinya hanya bisa dipakai di Amerika. Semua pabrik di Inggris hanya bisa dipakai di Inggris,” kata BGS.

Sehingga, BGS mengungkapkan kini hanya ada tiga negara yakni India, China, dan Rusia. Namun, India kemudian mencoba untuk menahan agar vaksin AstraZeneca tidak bisa keluar dari negaranya.

“Jadi yang mengekspor vaksin sekarang itu hanya India, China, dan Rusia. Dan India merasa bahwa mengapa saya tidak boleh, sehingga kemudian mencoba menahan produknya bisa dipakai di India dulu,” kata BGS.

Akibatnya, kata BGS, beberapa negara di luar India yang memproduksi bahan baku vaksin membuat balasan untuk tidak memberikan bahan bakunya ke India.

“Nah, ini akibatnya juga membuat ramai dan membuat ramai, dan membuat balasan dari negara-negara di luar India, terutama yang menguasai bahan baku yang dipakai oleh India. Jadi agak complicated ya," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini