Kisah Pembimbing Umroh dan Haji, Jamaah Bisa Jalan Lagi Tak Pakai Kursi Roda

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 17 April 2021 06:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 17 337 2396143 kisah-pembimbing-umroh-dan-haji-jamaah-bisa-jalan-lagi-tak-pakai-kursi-roda-ZyW93OUqrK.jpeg Salim Ashar, pembimbing haji dan umroh. (Ist)

BISA sering umroh? Ini impian hampir semua umat Islam. Ada yang beruntung merasakan itu yakni pembimbing haji dan umroh di biro perjalanan. Mereka dapat sering melaksanakan umroh dan beberapa kali haji.

"Banyak travel yang pernah saya ikutin, pindah-pindah terus. Gonta-ganti juragan. Waduh, tidak bisa menghitung kalau umroh. Kalau haji reguler hanya sekali, yang lain haji plus," ujar Salim Ashar, Pembimbing Umroh dan Haji di Aliston Travel, Surabaya.

Menurutnya yang berat saat melaksanakan haji reguler karena harus mempunyai sertifikat pembimbing. Sedang tugasnya tiap hari ke Daker mondar-mandir dengan jumlah banyak jamaah.

"Apalagi jika ada Kyai yang ditokohkan, biasanya mintanya macem-macem, kita harus selalu siap, tubuh ini kayak "disampirno "kalau capek, solusinya tiap 2 hari suntik vitamin, baru fit," kata alumni IAIN Sunan Ampel, Surabaya ini.

Baca Juga: Meski Kuota Dibatasi, Kemenag Optimis Penyelanggaran Ibadah Haji Tahun Ini Terbuka

Ia tahun 2009-2014 masih aktif di DPRD Kab Mojokerto, jadi sanggat terbatas waktunya untuk mengantar jamaah. Setelah 2015 baru sering mengantar jamaah sampai sekarang.

"Setiap mengantar jamaah kita ajak berdoa di depan Kabah Baitulloh dan semua menangis, itu selalu jadi kesan luar biasa," ucapnya.

Baca Juga: Kemenag Tengah Mengkaji Cara Manasik Haji di Tengah Pandemi Covid-19

Ada juga pengalaman yang menakjubkan. Saat itu ada jamaah yang lagi sakit, diantar-antar dengan kursi roda. Kemudian oleh Salim, diminumkan air dari miqot di Bir Ali. Ternyata ketika menunggu di Masjidil Haram tak terasa bisa berjalan lagi.

Dikatakannya, rute perjalanan yang ditempuh, ada yang dari bandara Juanda, Surabaya selama 7 jam langsung ke bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Ada juga yang transit dulu ke Malaysia, Abu Abu Dhabi baru ke Jeddah.

Mata uang yang berlaku adalah Real. Dapat menukarkan rupiah di tanah air. Di Bandara Sukarno Hatta juga ada loket penukaran uang. Di tanah suci juga banyak loket penukaran uang. Selain rupiah juga menyediakan dolar untuk ditukar.

Baca Juga : Hanya dengan Rp10.000 per Hari! Wujudkan Umroh Bersama MNC Life, Ionet dan Abhinaya

Di bandara melewati beberapa pos imigrasi. Sampai di bandara King Abdul Aziz Jeddah akan ada pemeriksaan isi bagasi. Mereka akan memeriksa isi tas, membuka dan kadang membongkarnya. Mereka juga menanyakan mahrom dari wanita-wanita yang ada dalam rombongan.

Perjalanan dari bandara ke Madinah memakan waktu kira-kira 7 jam sejauh 700 km dengan bus. Sepanjang jalan pemandangan batu dan pasir.

Perjalanan ini adalah perjalanan menuju masjid Nabi, menuju rumah Nabi, menuju tempat di mana perjuangan Nabi digulirkan ke penjuru dunia.

Hotel di Madinah biasanya cukup baik. Kalau beruntung mendapatkan yang dekat dengan Masjid Nabawi.

"Biasanya catering menyiapkan selera makanan lidah Indonesia. Namun jika sesekali ingin merasakan makanan Arab dapat membeli disekitar hotel untuk dinikmati sendiri. Waktu makan adalah waktu berharga karena dapat berkumpul dengan jamaah," ucapnya.

Perjalanan ke dari Madinah ke Makkah cukup lama. Kendaraan biasanya berhenti sejenak untuk istirahat mengisi bensin dan jamaah dapat membeli makanan atau minuman dekat pom bensin. "Biasanya dipakai kesempatan untuk ke toilet," tuturnya. (erh)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini