Lempeng Indo-Australia Mulai Aktif, BMKG Ingatkan Selatan Lombok Waspada

Binti Mufarida, Sindonews · Jum'at 16 April 2021 19:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 16 337 2396020 lempeng-indo-australia-mulai-aktif-bmkg-ingatkan-selatan-lombok-waspada-KvnPzqINIU.jpg Ilustrasi (Shutterstock)

JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat dalam dua hari ini Kamis dan Jumat 15-16 April 2021 telah terjadi 6 kali gempa tektonik di zona Megathrust Sumba di selatan Lombok dan Sumbawa.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan rentetan gempa di zona ini akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.

“Gempa ini merupakan gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia tepatnya di bidak kontak antar lempeng atau biasa kita kenal sebagai zona megathrust,” ungkap Daryono dalam media sosial pribadi miliknya, Jumat (16/4/2021).

Daryono juga mengatakan bahwa rentetan gempa selatan Lombok-Sumbawa ini menarik untuk dicermati mengingat segmen Megathrust Sumba termasuk relatif sepi terjadi gempa besar jika dibandingkan dengan Segmen Megathrust Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Catatan BMKG, kata Daryono, menunjukkan bahwa gempa kuat yang dipicu oleh aktivitas zona subduksi selatan Lombok Sumbawa tidaklah banyak, salah satunya adalah Gempa Bali yang merusak pada 21 Januari 1917. Gempa yang berpusat di sebelah tenggara Pulau Bali ini berdampak guncangan sangat dahsyat mencapai skala intensitas VIII-IX MMI.

“Gempa ini populer disebut sebagai ‘gejer Bali’ atau ‘Bali berguncang’ karena gempa ini menelan korban jiwa sangat besar, menunjukkan bahwa gempa kuat yang dipicu oleh aktivitas zona subduksi selatan Lombok-Sumbawa tidaklah banyak, salah satunya adalah Gempa Bali yang merusak pada 21 Januari 1917,” ungkap Daryono.

Gempa ini, kata Daryono juga menelan korban jiwa sangat besar, sebanyak 1.500 orang meninggal, 64.000 rumah rusak, termasuk beberapa istana, 10.000 lumbung beras rusak, dan 2.431 Pura rusak, termasuk Pura Besakih juga mengalami kerusakan.

Daryono mengungkapkan menurut laporan Soloviev and Go (1974), guncangan gempa Bali 1917 ini telah memicu terjadinya tsunami yang teramati di pantai sebelah tenggara Pulau Bali, seperti Klungkung, dan Benoa. “Tinggi run up tsunami yang terjadi mencapai 2 meter,” katanya.

“Terkait rentetan gempa selatan Lombok-Sumbawa yang saat ini sudah tercatat 6 kali, tentu kita patut waspada. Harapan kita gempa ini aktivitasnya tidak terus berlanjut, tetapi segera meluruh dan berhenti aktivitasnya, meskipun BMKG akan terus fokus memonitor aktivitas gempa ini,” papar Daryono.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini