Kisah Mbah Sambu Penyebar Islam di Lasem yang Berhasil Menumpas Bajak Laut

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 16 April 2021 07:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 16 337 2395552 kisah-mbah-sambu-penyebar-islam-di-lasem-yang-berhasil-menumpas-bajak-laut-fkES8kQo5u.jpg Makam Mbah Sambu (Foto: Doddy Handoko)

MBAH Sambu atau dikenal juga dengan Sayyid Abdurrahman merupakan tokoh legendaris di Kota Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

"Ia adalah salah satu penyebar ajaran Islam di daerah Lasem. Mbah sambu adalah walinegara (Guru Agama Islam) di Lasem yang merupakan pendatang dari Tuban. Ia dipanggil di Lasem oleh Adipati Tedjokusuma atau Mbah Srimpet untuk diangkat sebagai Walinegara Kadipaten Lasem dan dijadikan sebagai menantu," kata Abdullah Hamid, penggiat sejarah di Lasem.

Baca Juga: Kisah Tionghoa Peranakan Muslim di Lasem, Sehari-hari Pakai Bahasa Jawa

Oleh masyarakat sekarang yang akrab dikenal dengan sebutan Mbah Sambu yaitu berasal dari namanya Syech Maulana Sam Bwa Asmarakandhi. Ia merupakan salah satu ulama’ tersohor sampai sekarang. Kebanyakan para ulama’, kyai, dan orang-orang besar menisbatkan nasabnya pada Mbah Sambu.

"Bahkan, ada yang mengatakan bahwa hampir seluruh ulama’ di Jawa adalah keturunan dari Mbah Sambu," ucapnya.

Ada dua versi yang menceritakan silsilah Mbah Sambu. Versi pertama mengatakan bahwa beliau adalah Pangeran Sambudigdo Hadiningrat putra Pangeran Benawa, putra dari Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya, Raja dari Kerajaan Pajang yang merupakan cikal bakal Kerajaan Mataram Islam.

Versi kedua mengatakan bahwa beliau adalah putra dari Sayyid Muhammad Hasyim dan juga masih keturunan Sayyidah Fatimah az-Zahro’ al-Bathul binti Rasulullah Muhammad SAW. "Demikian silsilah Sayyid Abdurrahman al-Basyaiban (Mbah Sambu)," ungkapnya.

Kelahiran Mbah Sambu sampai sekarang belum diketahui, karena belum menemukan catatan sejarah. Dan sampai sekarang belum ada sejarah lengkap tentang Mbah Sambu. Sedangkan wafat beliau menurut sejarah singkat yaitu pada tanggal 1671 M. Sampai sekarang ada kegiatan tahunan di Lasem yaitu haul Mbah Sambu yang dilaksanakan pada tanggal 14, 15, 16 Dzulhijjah dan diisi dengan berbagai kegiatan, bukan hanya ritual keagamaan akan tetapi berbagai kegiatan berdimensi budaya seperti Karnaval dan Lomba Hadroh.

Awal Mbah Sambu di daerah Lasem yaitu karena undangan Adipati Tedjokusumo I atau Mbah Srimpet dan diangkat sebagai walinegara di Kadipaten Lasem untuk membantu syiar Islam.

Ia berjasa dalam meredam aksi perompak yang menimbulkan kekacauan yang berlarut-larut di pusat kota Lasem. Wilayah Lasem saat itu meliputi Sedayu Gresik, Tuban, Rembang, Pati sampai Jepara.

Atas jasanya itu Mbah Sambu yang juga menantu Adipati Lasem diberi tanah perdikan meliputi lokasi Masjid Jami’ Lasem sekarang di Kec. Lasem sampai ke selatan arah Kec. Pancur yang lebih jauh luas dari yang ada sekarang.

Baca Juga:  Ratusan Karyawan Otobus Terancam PHK Imbas Larangan Mudik

Kedatangan beliau di Lasem selain untuk meredam aksi perompak, ia juga berjuang untuk menyebarkan ajaran Islam.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini