Sepenggal Kisah Prajurit Kopassus Bertaruh Nyawa di Sarang GAM

Fahmi Firdaus , Okezone · Jum'at 16 April 2021 07:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 16 337 2395505 sepenggal-kisah-prajurit-kopassus-bertaruh-nyawa-di-sarang-gam-SZMCpdFVQe.jpg Foto: Okezone

SATUAN intelijen Kopassus atau Grup 3/ Sandhi Yudha (Sandha) Kopassus saat pencabutan status daerah operasi militer (DOM) pada akhir tahun 1998, berhasil masuk berulangkali ke lingkaran kekuasaan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

(Baca juga: Mengingat Janji Serda Ucok Berantas Preman di Kota Keraton Usai Bebas)

Salah satu anggota intelijen Kopassus yang berhasil memasuki kekuasaan GAM bahkan menjadi orang kepercayaan Muzakir Manaf ialah Sersan Badri (nama samaran), anggota Sandi Yudha Kopassus. Hal ini mengingatkan kita pada peran Surapati dan Sentot Alibasjah yang menjadi perwira kolonial Belanda lalu berbalik melawan saat kesempatan tiba.

(Baca juga: Viral! Begini Penampilan Serda Ucok Sekarang, Eksekutor 4 Napi Lapas Cebongan)

"Saya pernah menyamar jadi tukang durian yang mengirim dagangan dari Medan ke Lhokseumawe. Saya pernah ditempeleng aparat saat melewati pos penjagaan karena diminta jatah durian," kata Sersan Badri seperti dikutip Okezone dalam buku Kopassus untuk Indonesia, karangan Iwan Santosa dan EA Natanegara, Jumat (16/4/2021).

Saat itu kata Badri, untuk menyusup ke sarang GAM sangatlah sulit. Ia pun memutuskan menyamar menjadi seorang pedagang buah Aceh di perantauan. Pekerjaan itulah yang kemudian mengantarkanya masuk sarang GAM.

Badri dan rekan-rekannya juga harus mengecoh patroli TNI agar tidak bisa menyergap GAM dengan memberi bocoran tentang gerakan TNI supaya GAM bisa menghindar. Penyamaran yang dilakukan Badri begitu tertutup, hanya unsur pimpinan yang mengetahuinya.

Kala itu, berulang kali Badri diuji kesetiaannya oleh petinggi GAM dengan memintanya menyembunyikan sanak keluarga mereka. Selama tiga bulan lebih ia diuji kesetiaanya oleh petinggi GAM.

Kepercayaan yang akhirnya timbul tidak disia-siakan Badri. Dalam suatu kesempatan, tim intelijen Kopassus berhasil menemukan bongkar muat sebanyak 125 pucuk senapan milik GAM yang berhasil diselundupkan dari Thailand dan Malaysia.

Pasukan Kopassus juga berhasil menemukan sumber keuangan GAM. Salah satunya adalah perdagangan ganja kering yang berasal dari Aceh Timur dan Aceh Utara. Ganja tersebut dikirim melalui laut dengan kapal-kapal kecil ke Malaysia.

Selain perdagangan ganja, sumber keuangan GAM berasal dari perusahaan besar yang beroperasi di negeri Tanah Rencong dan warga setempat. Mereka diwajibkan memberi dana perjuangan GAM mulai dari hewan ternak, sawah dan kebun tak luput dari pajak Nangroe.

Selepas Hari Raya Idul Fitri 2004, turun perintah untuk menangkap hidup atau mati tiga tokoh kunci GAM. Yaitu Muzakir Manaf, Sofyan Dawood dan Said Adnan. Sebelumnya Badri mendapat perintah pulang ke Jakarta. Dia pun berpamitan ke sarang GAM sehari sebelum serangan di kawasan Cot Girek.

Setelah Markas GAM di rawa-rawa Cot Girek diserbu Kopassus dari semua arah. Ternyata Muzakir Manaf dan Sofyan Dawood telah menyingkir malam sebelumnya. Sementara Gubernur GAM Said Adnan dan ajudannya seorang desersi TNI meninggal akibat luka tembakan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini