Jadi Relawan Vaksin Nusantara, Siti Fadila: Menurut Saya Si Peneliti Logis & Inovatif

Tim Okezone, Okezone · Kamis 15 April 2021 20:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 15 337 2395408 jadi-relawan-vaksin-nusantara-siti-fadila-menurut-saya-si-peneliti-logis-inovatif-IxiVcvdW4o.jpg Foto: Istimewa

JAKARTA - Mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadila Supari menjadi salah satu relawan uji klinis vaksin Nusantara di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

Dia mengatakan bahwa vaksinasi Covid-19 dari vaksin Nusantara dipilihnya lantaran menilai peniliti mengembangkan vaksin jenis ini secara logis. Dia juga kaget dengan polemik vaksin yang digagas mantan Menkes Terawan Agus Putranto itu.

"Menurut saya si peneliti berpikir logis, dan inovatif. Memang, inovasi selalu mengagetkan kemapanan, bahkan bisa mengganggu yang sudah mapan," kata Siti dalam keterangannya, Kamis (15/4/2021).

Siti menilai, dalam ilmu pengetahuan langkah logis saja tidak cukup, namun semua inovasi tersebut memerlukan pembuktian. Sehingga, ia pun bersedia menjadi relawan uji klinis fase 2 vaksin Nusantara.

Baca juga: Miliki Komorbid, Mantan Menkes Siti Fadilah Disuntik Vaksin Nusantara

"Saya bersedia menjadi relawan karena saya menghargai seorang peneliti yang berpikiran beda dengan yang lainnya. Dia membuat hipotesis dan hipotesis itu boleh saja salah, tetapi harus di buktikan dulu. Maka perlu penelitian," ujarnya.

Dia berharap, uji klinis vaksin Nusantara mendapatkan hasil positif. Menurut dia, jika metode yang dikembangkan Terawan berhasil, maka dirinya cocok mendapatkan vaksinasi jenis vaksin ini lantaran berada di kelompok Lansia.

Baca juga: Benarkah Vaksin Nusantara Bikin Kebal Covid-19 Seumur Hidup?

"Saya sangat bahagia karena kondisi saya saat ini sangat cocok dengan metode ini," imbuhnya.

Ia menerangkan, langkah BPOM yang tidak menerbitkan izin uji klinis vaksin Nusantara merupakan kewenangan dari lembaga tersebut sebagai pihak yang berwenang dalam izin edarnya.

Dia juga tak mempersoalkan adanya pernyataan dari Satgas Covid-19 yang menyebut vaksin Nusantara dikembangkan di Amerika dan diuji klinis di Indonesia.

"Tapi kita kan negara yg berdaulat, dengan politik bebas dan aktif, maka boleh saja bekerja sama dengan negara manapun dengan prinsip kemitraan yang transparan, setara dan adil (duduk sama rendah berdiri sama tinggi). Yang penting produk ini menjadi produk Indonesia untuk kemaslahatan bangsa yang membutuhkan. Terutama untuk Lansia seperti saya," tuturnya.

(fkh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini