Kisah Menegangkan Operasi Intelijen Kopassus di Negeri Belanda

Fahmi Firdaus , Okezone · Jum'at 16 April 2021 07:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 15 337 2395370 kisah-menegangkan-operasi-intelijen-kopassus-di-negeri-belanda-mZ73GZBhno.jpg Foto: MNC Portal

TEPAT hari ini, 16 April pasukan elite TNI AD, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) merayakan hari jadinya yang ke-69. Banyak kisah menarik sepanjang perjalanan Korps Baret Merah ini yang luput dari publikasi media. Okezone akan mengulas beberapa pengalaman unik maupun operasi militer pasukan yang awalnya bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) ini.

(Baca juga: Mengingat Janji Serda Ucok Berantas Preman di Kota Keraton Usai Bebas)

Sebagai seorang prajurit komando, anggota Kopassus dibekali berbagai keahlian. Salah satunya kemampuan intelijen yang mumpuni.

Prajurit yang memiliki kualifikasi tersebut ditempatkan di Grup 3/Sandhi Yudha. Satuan Kopassus ini memiliki spesifikasi tugas perang rahasia ‘Clandestine Operation’, termasuk kemampuan dalam intelijen tempur atau combat intell,dan counter insurgency (kontra pemberontakan).

(Baca juga: 40 Tahun Operasi Woyla: Puja-puji Dunia untuk Pasukan Baret Merah)

Pasukan ini malang melintang di berbagai operasi, baik dalam negeri maupun luar negeri. Salah satunya di Belanda.

Dikutip Okezone dalam buku Kopassus untuk Indonesia, karangan Iwan Santosa dan E.A Natanegara. Prajurit Kopassus terpilih memantau langsung kiprah warga keturunan Maluku di Parlemen Belanda.

Salah satunya Sam Formes, anggota parlemen dari Partai Greolinks. Dia diketahui aktif menjadi mediator untuk mengkader generasi penerus Republik Maluku Selatan (RMS) di Negeri Kincir Angin tersebut.

Secara keseluruhan didapati kekuatan pengikut RMS mulai berkurang karena terpecah belah. Apalagi dalam era demokrasi dan keterbukaan sekarang, tindak kekerasan untuk memaksakan kehendak, tidak lagi popular di Belanda dan Indonesia.

Saat itu, Suhartoyo bersama Tim Kopassus memantau langsung perayaan HUT RMS-ke55 tahun 2005 di Gedung Congres Centrum Den Haag dan HUT RMS ke-56 tahun 2006 di Gedung RAI Amsterdam.

Wakil Presiden RMS Watilette yang mewakili Presiden RMS Tutuhatunewa berusaha memotivasi anggota RMS untuk tetap memperjuangkan gagasan mendirikan negara sendiri. Watilette mengakui kondisi keuangan RMS sedang kritis sehingga harus meminta sumbangan dari anggota, Yayasan, organisasi dan gereja karena mereka sudah tidak lagi mendapat bantuan sumbangan dari Pemerintah Belanda.

Gangguan kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) tutut dipantau di Belanda. Meski jumlah aktivis OPM hanya sekitar 1.000 orang,” ujar Suhartoyo, kegiatan yang mereka lakukan mampu menarik perhatian publik.

“Semisal bulan Mei 2003, mereka mengadakan kongres Papua di Kota Leiden. Lalu pada tanggal 15 November 2005 mereka mendompleng acara peluncuran buku sejarah Papua karya Profesor PJ. Drooglever di Perpustakaan Negara di Den Haag. Mereka berusaha memasukan isu kemerdekaan Papua sebagai agenda pembahasan di Uni Eropa,” kata Suhartoyo

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini