Debris Flow Jadi Penyebab Adonara, Lembata & Alor Terdampak Parah Bencana Siklon Tropis Seroja

Binti Mufarida, Sindonews · Kamis 15 April 2021 19:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 15 337 2395338 debris-flow-jadi-penyebab-adonara-lembata-alor-terdampak-parah-bencana-siklon-tropis-seroja-gdCl9YZA94.jpg Ilustrasi banjir bandang NTT (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari mengungkapkan ada tiga Kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjadi terdampak paling parah bencana siklon tropis seroja.

Dia menyebut debris flow jadi penyebab tiga kabupaten itu menjadi lokasi paling parah banjir bandang dan longsor di NTT. Debris flow adalah aliran debris yang terdiri dari campuran material halus berukuran kecil (clay, lumpur, pasir) sampai material berukuran kasar (kerikil, bongkahan bebatuan) dengan sejumlah volume air.

“Sejak hari Minggu, kami dan tim melakukan survei udara di Adonara, Lembata dan Alor yang merupakan Kabupaten paling parah dan dampak dari bencana siklon tropis,” ungkap Aam panggilan akrabnya dalam Konferensi Pers Update Penanganan Bencana di Nusa Tenggara Timur, Kamis (15/4/2021).

Selain itu, Aam mengatakan bahwa korban terbanyak di Adonara khususnya di Kecamatan Ile Boleng. “Kemudian tim darat kami melakukan pendetilan dengan menggunakan Drone di Adonara, Lembata dan Alor ini. Dan kami sendiri ikut di Adonara dan melihat beberapa hal yang perlu kita ketahui bagaimana kita bisa menjelaskan begitu banyaknya korban yang ada di Adonara, khususnya Kecamatan Ile Boleng,” katanya.

Baca juga: Apa Beda Siklon Tropis Surigae dan Seroja? Ini Penjelasan BMKG

Aam pun menjelaskan bahwa kejadian debris flow atau banjir bandang dengan aliran air berkecepatan tinggi yang berisi batu-batu gunung menjadi salah satu penyebab mengapa di tiga Kabupaten ini terdampak terparah khususnya di Adonara.

Baca: BMKG Imbau Warga NTT Tak Termakan Informasi Hoaks Badai Seroja Susulan

“Ada dua kejadian yang dominan di Adonara pertama adalah debris flow. Debris flow ini mungkin selama ini kita kenal dengan banjir bandang, tapi di sini bukan banjir bandang. Debris flow ini adalah aliran dengan kecepatan tinggi yang berisi batu-batu gunung dari atas ke bawah,” paparnya.

Apalagi, kata Aam, di Adonara khususnya di kecamatan Ile Boleng menjadi terdampak paling parah dengan jumlah korban jiwa mencapai 55 jiwa dan 1 hilang. “Data terakhir per kemarin bahwa Kecamatan Ile Boleng itu korban jiwa meninggal 55 jiwa dan hilang 1 jiwa. Ini merupakan kecamatan yang mungkin mencatatkan jumlah kematian paling tinggi,” katanya.

“Sehingga kita perlu benar-benar melihat dan mempelajari mekanisme yang terjadi untuk mencegah kerugian bersama terutama di masa depan,” ungkap Aam.

(fkh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini