Sidang Suap Ekspor Benur Lobster, PT ACK Raup Keuntungan Rp38 Miliar

Arie Dwi Satrio, Okezone · Kamis 15 April 2021 12:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 15 337 2395086 sidang-suap-ekspor-benur-lobster-pt-ack-raup-keuntungan-rp38-miliar-GJA4E1zKWU.jpg Sidang kasus suap ekspor benur. (Foto: Okezone.com/Arie Dwi)

JAKARTA - Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut, PT Aero Citra Kargo (ACK) memperoleh keuntungan sebesar Rp38 miliar dari jasa pengiriman (ekspor) benih bening (benur) lobster. Keuntungan itu diperoleh PT ACK hanya dalam kurun waktu lima bulan atau tepatnya sejak Juni sampai November 2020.

Hal itu terungkap saat JPU KPK Ronald Worotikan membacakan surat dakwaan untuk terdakwa Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, pada hari ini, Kamis (15/4/2021).

"Bahwa sejak PT ACK beroperasi pada bulan Juni 2020 sampai dengan bulan November 2020, PT ACK mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp38.518.300.187 yang diterima dari Suharjito dan perusahaan-perusahaan eksportir BBL lainnya," beber Jaksa KPK Ronald Worotikan. 

Selanjutnya, kata Jaksa, Nini selaku Finance PT ACK bertempat di kantornya, Komplek Ruko Komplek Great Western Resort (GWR) Ruko P 22 Serpong, Tangerang Selatan, setiap satu bulan sekali membagikan uang hasil keuntungan tersebut kepada pemilik saham yang seolah-olah sebagai deviden. Uang itu dibagikan dalam kurun waktu sampai dengan 12 November 2020. 

"Membagikan uang tersebut secara bertahap melalui transfer kepada pemilik saham PT ACK seolah-olah sebagai deviden," kata jaksa.

Baca juga: Edhy Prabowo Didakwa Terima Suap Rp25,7 Miliar dari Eksportir Lobster

Adapun, para pemilik saham PT ACK yang diduga menerima keuntungan yakni, Amri senilai Rp12 miliar. Kemudian, Achmad Bahtiar sejumlah Rp12 miliar. Serta Yudi Surya Atmaja, dengan nilai total senilai Rp5 miliar. 

"Bahwa uang yang menjadi bagian dari Amri dan Achmad Bahtiar selaku representasi dari terdakwa (Edhy Prabowo) yang berasal dari PT ACK dengan total sebesar Rp24.625.587.250, dikelola oleh Amiril Mukminin yang memegang buku tabungan dan kartu ATM milik Achmad Bahtiar dan Amri atas sepengetahuan terdakwa," ungkap jaksa.

Baca juga: KPK Sita Dokumen Transaksi Perbankan Nurdin Abdullah di Bank Sulselbar

Berdasarkan surat dakwaan Edhy Prabowo, PT ACK awalnya merupakan perusahaan milik Siswadhi Pranoto Loe yang sudah tidak aktif. Namun kemudian, perusahaan itu kembali diaktifkan dan diduga digunakan oleh Edhy Prabowo dan sekretaris pribadinya, Amiril Mukminin saat dibukanya keran ekspor benih bening (benur) lobster.

Sebelumnya, Edhy Prabowo didakwa menerima suap dengan nilai total sekira Rp25,7 miliar dari para eksportir benih bening (benur) lobster. Suap itu diduga untuk mempercepat proses persetujuan pemberian izin budidaya lobster dan izin ekspor benih bening lobster kepada para eksportir. 

Edhy Prabowo diduga menerima suap sejumlah 77.000 dolar AS atau setara Rp1,1 miliar dari Pemilik PT Duta Putera Perkasa Pratama (PT DPPP) Suharjito. Uang suap Rp1,1 miliar dari Suharjito itu diterima Edhy melalui Sekretaris Pribadinya, Amiril Mukminin dan Staf Khususnya, Safri.   

Kemudian, Edhy juga diduga menerima uang sejumlah Rp24,6 miliar dari Suharjito dan eksportir lainnya. Uang itu diterima melalui berbagai perantaraan yakni, Sekretaris Pribadi Edhy, Amiril Mukminin; Staf Pribadi Iis Rosita Dewi, Ainul Faqih; Stafsus Edhy Prabowo, Andreau Misanta Pribadi; serta Pemilik PT Aero Citra Kargo (ACK), Siswadhi Pranoto Loe. 

Sehingga, nilai total keseluruhan uang dugaan suap yang diterima Edhy Prabowo dari sejumlah eksportir melalui berbagai perantaraan berkisar Rp25,7 miliar. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini