Kisah Pertarungan Ayam Maulana Hasanudin dan Prabu Pucuk Umun

Doddy Handoko , Okezone · Kamis 15 April 2021 06:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 15 337 2394925 kisah-pertarungan-ayam-maulana-hasanudin-dan-prabu-pucuk-umun-upGZcUgkiR.jpg Foto: Doddy Handoko

PENELITIAN yang dilakukan di lokasi Banten Girang di tahun 1988 pada program Ekskavasi Franco Indonesia, berhasil menemukan titik terang sejarah Banten. Walaupun dengan keterbatasan penelitian, namun banyak bukti baru yang ditemukan. 

Untuk mencapai Banten Girang dapat ditempuh melalui jalan ke arah Pandeglang sampai di Desa Sempu kemudian melewati jalan sekitar seratus meter menyeberangi Sungai Cibanten, di seberang sungai inilah terdapat situs Banten Girang.

“Maka dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten ternyata jauh lebih awal dari perkiraan semula dengan ditemukannya bukti baru bahwa Banten sudah ada di awal abad ke 11 – 12 Masehi,” ujar Abdu Hasan juru kunci petilasan Banten Girang yang terdapat makam Mas Jong dan Agus Jo.

Baca juga: Kisah Tionghoa Peranakan Muslim di Lasem, Sehari-hari Pakai Bahasa Jawa

Lokasi awal dari Banten tidak berada di pesisir pantai, melainkan sekitar 10 Kilometer masuk ke daratan, di tepi sungai Cibanten, di bagian selatan dari Kota Serang sekarang ini. Wilayah ini dikenal dengan nama “Banten Girang” atau Banten di atas sungai, nama ini diberikan berdasarkan posisi geografisnya.

Di Banten Girang terdapat makam Ki Mas Jong dan Agus Ju. Menurut sejarah, Ki Mas Jong dan Agus Ju adalah kakak adik yang pertama masuk Islam dari penduduk Banten Girang dan menjadi pengikut setia Sultan Islam pertama Sultan Hasanuddin. Makam ini terletak di Desa Karundang (Sempu) Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang. 

“Peziarah makam Ki Mas Jong lebih banyak orang yang ingin karier dan jabatannya mulus di kantornya. Mereka biasanya mencari wangsit di makam ini sampai pagi. Hal ini karena Ki Mas Jong dikenal sebagai Patih Raja Pucuk Umum,” terang Abdu. 

Selain itu banyak pula jawara yang ziarah ke makam Ki Mas Jong. Mereka diceritakan sebagai jawara pada masanya. Kepahlawan mereka dalam membela rakyat miskin sering jadi referensi masyarakat tentang jawara yang sebenarnya. Mereka itu dimitoskan masyarakat sebagai orang yang memiliki kadigdayaan yang luar biasa.

Keberadaan makam itu tak lepas dari seorang ulama yang sekarang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati, penduduk asli Pasai, bagian utara Sumatera setelah tinggal beberapa lama di Makkah dan Demak, pada saat itu telah menetap di Banten Girang, dengan tujuan utama untuk menyebarkan ajaran agama Islam. 

Baca juga: Asal-Usul Sunan Kalijaga dan Kidung Penolak Bala Kejahatan

Walaupun pada awalnya kedatangannya diterima dengan baik oleh otoritas setempat, tetapi Ia tetap meminta Demak mengirimkan pasukan untuk menguasai Banten ketika ia menilai waktunya tepat. Dan adalah puteranya, Hasanudin, yang memimpin operasi militer di Banten untuk menaklukkan Prabu Pucuk Umum.

Berkaitan dengan kekalahan Prabu Pucuk Umun oleh Maulana Hasanudin, dikatakan Abdu Hasan terdapat sebuah mitos yang diceritakan secara lisan dari satu generasi ke generasi lain. Cerita itu oleh masyarakat Lebak dikenal dengan nama tubuy yang merupakan cerita pantun yang dituturkan secara lisan.

Isi cerita ini mengacu kepada nama tempat yang sangat dikeramatkan di Banten Selatan dan dipergunakan untuk memperingati peristiwa kekalahan Prabu Pucuk Umun oleh Maulana Hasanudin. Menurut cerita ini, Prabu Pucuk Umun merupakan wakil Raja Sunda untuk daerah Banten dan leluhur para puun suku Baduy.

Dikisahkan dalam cerita tubuy, Maulana Hasanudin merupakan putra sulung Sunan Gunung Jati yang datang ke Banten untuk mengislamkan wilayah barat Kerajaan Sunda. Dalam melaksanakan tugasnya itu, Maulana Hasanudin disertai oleh dua orang pembantunya yang bernama Agus Jo dan Mas Jong.

Upaya mengislamkan Prabu Pucuk Umun tidak dapat dilakukan oleh Maulana Hasanudin secara langsung melainkan harus melalui pertarungan di antara keduanya.

Adu kesaktian ini dilakukan karena Prabu Pucuk Umun hanya bersedia memeluk Islam kalau kesaktiannya dikalahkan oleh kesaktian Maulana Hasanudin. Jenis pertandingan yang disepakati oleh kedua orang yang sama-sama sakti ini adalah mengadu ayam.

“Ayam Pucuk Umun diciptakan dari besi baja, berpamor air raksa, berinti besi berani, dan diberi nama Jalak Rarawe. Sedangkan ayam Maulana Hasanudin merupakan penjelmaan jin. Ayam putih ini berasal dari serbannya yang dihentakkan sekali dan diberi nama Jalak Putih,” katanya.

Kedua jenis ayam ini mencerminkan sifat masing-masing pemiliknya. Jalak Rarawe merupakan ayam yang terlihat sangat garang sebagai cerminan bahwa Prabu Pucuk Umun memiliki sifat dendam kesumat.

Sementara itu, Jalak Putih kelihatan tenang dan sabar yang mencerminkan keluhuran budi pekerti yang dimiliki oleh Maulana Hasanudin.

Dalam pertandingan itu, Jalak Rarewe dapat dikalahkan oleh jalak Putih dan bertepatan dengan kekalahan itu, si Jalak Putih kembali kepada wujud aslinya. Melihat kejadian itu, Prabu Pucuk Umun sangat kaget dan berseru.

“Ketahuilah Hasanudin bahwa kekalahanku kali ini hanya merupakan sebagian terkecil dari seluruh kesaktianku dan aku belum menyerah kalah, apabila kau sanggup susullah aku,” tantangnya. 

Dengan kekalahan itu, seharusnya Prabu Pucuk Umun takluk kepada Maulana Hasanudin dan memeluk Islam. Akan tetapi, perjanjian dengan Maulana Hasanudin dilanggar oleh Pucuk Umun. Ia tidak mau memeluk agama Islam dan memilih untuk memusnahkan dirinya dengan berubah menjadi burung beo.

Burung beo jelmaan Pucuk Umun itu kemudian terbang meninggalkan Maulana Hasanudin agar ia tidak ditangkap oleh Maulana Hasanudin. Ketika sedang terbang mengembara, Pucuk Umum melihat hamparan pasir sehingga merasa tertarik untuk turun kembali ke bumi. Ketika telah mendarat di bumi, burung beo itu menjelma kembali menjadi Prabu Pucuk Umun. 

Setelah dirinya menjadi manusia lagi, Pucuk Umun menemukan sisa-sisa rakyatnya yang tidak mau masuk Islam dan mendirikan perkampungan baru di daerah Banten Selatan, tepatnya di daerah Lebak.

“Berdasarkan cerita ini, sebagian masyarakat Lebak menamakan tempat Pucuk Umun menjadi burung beo sebagai Cibeo. Lalu tempat burung beo melihat hamparan pasir dan berubah kembali menjadi Pucuk Umun sebagai Cikeusik, dan tempat Pucuk Umun mendirikan perkampungan baru dinamai sebagai Cikartawana,” jelasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini