Kilas Balik Penemuan CVR Sriwijaya Air hingga Berhasil Diunduh KNKT

Fahreza Rizky, Okezone · Selasa 13 April 2021 13:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 13 337 2393862 kilas-balik-penemuan-cvr-sriwijaya-air-hingga-berhasil-diunduh-knkt-w0pMgMelgs.jpg Foto: Illustrasi Okezone.com

JAKARTA - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) berhasil mengunduh data percakapan data Cokcpit Voice Recorder (CVR) pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta. KNKT berhasil mengunduh rekaman percakapan itu pada 1 April 2021.

"Didapatkan rekaman percakapan selama 2 jam termasuk percakapan penerbangan yang mengalami kecelakaan. KNKT berhasil mengunduh seluruh 4 channel dari CVR, akan tetapi channel 4 pada CVR mengalami gangguan," kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono melalui keterangan tertulisnya kepada MNC Portal, Selasa (13/4/2021).

Baca juga:  Rekaman Percakapan Pilot Sriwijaya Air SJ-182 Terungkap

Meskipun demikian, berdasarkan rekaman yang ada tersebut, KNKT telah memiliki data penting bagi investigasi yang hasilnya nanti akan disampaikan dalam laporan akhir (Final Report).

Soerjanto lalu memaparkan rangkaian investigasi kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182 pada 9 Januari 2021 dalam rute penerbangan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta tujuan Bandar Udara Internasional Supadio, Pontianak menggunakan pesawat udara Boeing 737-500 registrasi PK-CLC yang diawaki oleh 2 pilot, 4 awak kabin dan 56 penumpang.

Baca juga: KNKT Berhasil Unduh Data Percakapan dari CVR Sriwijaya Air SJ-182

Tiga hari pasca terjadinya kecelakaan yaitu pada tanggal 12 Januari 2021, Flight Data Recorder (FDR) telah ditemukan dan hasil data yang telah diolah oleh KNKT telah diumumkan kepada publik melalui laporan awal investigasi (preliminary report) pada tanggal 10 Februari 2021.

"Sampai dengan berakhirnya proses pencarian para korban SJ-182 yang dipimpin oleh Basarnas pada tanggal 22 Januari 2021, CVR belum ditemukan. Untuk itu, KNKT melanjutkan proses pencarian CVR di sekitar area ditemukannya FDR," tutur Soerjanto.

 

Pada 26 Januari 2021 sampai dengan 14 Februari 2021, tim KNKT bersama dengan tim penyelam dari Pulau Pari (Kepulauan Seribu) melanjutkan pencarian CVR dengan pembuatan perimeter 50 x 50 meter di bawah air oleh para penyelam.

Proses pencarian CVR juga melibatkan metode penyemprotan lumpur di sekitar penemuan FDR oleh para penyelam, namun demikian proses ini tidak mendapatkan hasil. Kendala utama dalam proses pencarian CVR ini adalah cuaca dan jarak pandang yang terbatas di bawah air.

"Tanggal 15 sampai dengan 21 Februari 2021, tim penyelam dari Dinas Penyelamatan Bawah Air TNI AL (Dislambair TNI AL) bergabung dalam tim penyelam. Proses pencarian masih dengan menggunakan metode visual. Pencarian ini juga tidak mendapatkan hasil karena kendala cuaca dan jarak pandang di bawah air," ungkap Soerjanto.

Pada 22 Februari sampai dengan 12 Maret 2021, tim KNKT berkoordinasi dengan Sriwijaya Air untuk penggunaan metode penyedotan lumpur atau Trailing Suction Hopper Dredger (TSHD) oleh kapal King Arthur 8 yang saat itu masih berada di Teluk Lamong (Pacitan) Jawa Timur. Sebelum pelaksanaan penyedotan lumpur, tim penyelam yang dipimpin oleh KNKT melaksanakan penyelaman untuk pembersihan area dengan mengangkat puing-puing pesawat yag terlihat sekaligus melakukan pencarian dengan metode visual.

"Tanggal 15 Maret 2021, tim penyelam (termasuk penyelam dari Pulau Pari dan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu) melaksanakan pembersihan area," ucap Soerjanto.

Lalu, 25 Maret 2021, kapal TSHD King Arthur 8 sampai di perarian pulau Lancang Kepulauan Seribu. Mulai 25 Maret 2021 pencarian CVR dilakukan dengan cara penyedotan lumpur oleh kapal TSHD King Arthur 8 dengan area yang diperbesar yaitu 90 x 90 meter. Tanggal 30 Maret 2021 jam 20.05 WIB, CVR tersedot dari bawah air dan ditemukan di penampungan serpihan kapal TSHD King Arthur 8.

"Hingga saat ini, proses investigasi masih terus dilakukan oleh tim KNKT disertai dengan proses penelitian yang mendetail. KNKT menegaskan bahwa setelah ditemukannya semua bagian black box ini memberikan titik terang untuk dapat mengusut penyebab terjadinya kecelakaan yang meluluhlantakkan seluruh isi pesawat agar kecelakaan dengan penyebab yang sama tidak kembali terulang di kemudian hari," tutup Soerjanto.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini