KPK Buka Peluang Jerat Kembali Sjamsul Nursalim dan Istrinya, Asalkan...

Raka Dwi Novianto, Sindonews · Selasa 13 April 2021 09:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 13 337 2393694 kpk-buka-peluang-jerat-kembali-sjamsul-nursalim-dan-istrinya-asalkan-fg5tlod7Oi.jpg Foto: Illustrasi Okezone.com

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka peluang untuk kembali menjerat Sjamsul Nursalim dan Itjih Nursalim, dalam kasus dugaan korupsi penerbitan SKL BLBI. Meski sudah ada penerbitan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dalam kasus itu.

Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron menjelaskan SP3 hanya berlaku terhadap penyidikan perbuatan yang dilakukan Sjamsul dan Itjih bersama-sama mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung.

Baca juga: Ini Alasan Pemerintah Tak Libatkan KPK dalam Satgas Hak Tagih BLBI

Sebab, penyidikan itu dihentikan sebagai konsekuensi atas putusan Kasasi Mahkamah Agung (MA) melepaskan Syafruddin dari segala tuntutan hukum.

"Ini adalah memutus, bahwa untuk yang perkara bersama dengan SAT itu sudah dihentikan, tetapi untuk perbuatan lain seandainya kita menemukan bahwa selain ada mispresentasi, ternyata ada, misalnya penggelembungan, mark up, atau penaikkan nilai aset-aset yang terpisah dari perbuatan SAT, itu masih perbuatan yang terbuka, bisa dilakukan proses hukum," ujar Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron dalam keterangannya, Selasa (13/4/2021).

Baca juga: Presiden Jokowi Bentuk Satgas Hak Tagih BLBI, Ini Respon KPK

"Artinya kita tidak akan kemudian terbatas dengan azas ne bis in idem karena perbuatannya terpisah. Tapi kalau perbuatan yang bersama-sama dengan SAT, kita harus hormat dan taat kepada putusan kasasi SAT," tambahnya.

Maka dari itu, KPK tidak menutup diri jika publik atau penyelidik menemukan bukti baru dalam kasus BLBI. Lembaga antikorupsi itu sangat bisa untuk menjerat kembali Sjamsul Nursalim dan istrinya Itjih Nursalim sepanjang tidak berkaitan dengan putusan yang dijatuhkan MA terhadap Syafruddin.

"Kalau ternyata kemudian baik KPK ataupun pihak publik kemudian bisa memberikan kontribusi baru bahwa ternyata ada perbuatan lain, lain perbuatan yang dinyatakan dan sudah diputus oleh kasasi ini, maka sesungguhnya ini masih terbuka. Asalkan konstruksinya adalah perbuatan tunggal, tidak berkaitan lagi dengan SAT atau perbuatan lain yang di luar dari yang sudah diputuskan oleh kasasi," ungkapnya.

Ghufron kembali menerangkan terkait putusan MA terhadap Syafruddin Arsyad yang diduga perbuatannya bersatu atau bersama-sama dengan Sjamsul maupun Itjih Nursalim. Menurutnya, perbuatannya terbukti, tetapi bukan merupakan tindak pidana dan kerugian negaranya tidak ada dalam perspektif tindak pidana.

"Seandainya pun ada dalam putusan tersebut, harus dianggap bahwa kerugian tersebut merupakan kerugian dalam perspektif onrechtmatige daadq Pasal 1365 BW (Burgerlijk Wetboek-ed), artinya dalam perspektif keperdataan," jelasnya.

Lalu, Ghufron mengungkapkan cara mengembalikan atau memulihkan kerugian negara dari kasus tersebut yakni dengan prespektif perdata.

"Kalau memang perbuatan Sjamsul maupun Itjih Nursalim dalam perspektif pada saat melakukan mispresentasi itu sebagai bagian dari unsur dari perbuatan melawan hukum sebagai 1365, itu tentu memungkinkan, tapi pelaksanannya adalah dari Jaksa Negara, yaitu teman-teman dari Kejaksaan Agung Republik Indonesia," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini