Mudik Dilarang, Epidemiolog: Tidak Efektif, Mengapa Terus Menyusahkan Masyarakat?

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 13 April 2021 08:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 13 337 2393668 mudik-dilarang-epidemiolog-tidak-efektif-mengapa-terus-menyusahkan-masyarakat-HwXC2oV7eZ.jpg Terminal Bus Pakupatan, Serang, Banten (Foto: Antara)

Penyekatan jalur itu berlaku mulai dari Lampung, Jawa, hingga Bali. "Kalau ada yang lolos masuk ke daerah tujuan, pemda lakukan penyekatan."

"Kalau ada (pengendara) yang tidak memenuhi syarat seperti berdinas atau keperluan penting lainnya, akan diputarbalikkan untuk kembali ke daerahnya."

Hal lain yang dilakukan yakni pengetesan secara acak atau random testing di lokasi-lokasi tertentu. "Kalau ada yang positif akan dirawat seperti halnya menemukan kasus positif, seperti dikarantina."

Namun demikian, jika ada pemudik yang lolos dari pengawasan dan tiba di kampung halaman, maka menjadi tanggung jawab kepala daerah untuk melakukan karantina selama lima hari. Kewajiban itu tertuang dalam surat edaran yang dikeluarkan Satgas Penanganan Covid-19.

Akan tetapi merujuk pada mudik lebaran tahun 2020, meskipun pemerintah melarang mudik lebaran tapi setidaknya ada satu juta pemudik yang keluar dari Jabodetabek.

Adita berharap, jumlah tahun ini berkurang. "Berkaca pada tahun lalu dengan pelarangan yang hampir sama, kira-kira masih ada satu juta orang masih bisa keluar dari Jabodetabek. Kami harap angka itu tidak terjadi lagi, kalau ada juga lebih kecil."

Apa kata calon pemudik?

Seorang pekerja di Jakarta, Achmad Arief Ramadhan, mengatakan akan tetap mudik meski dilarang pemerintah. Ia berkeras untuk mudik, karena tahun lalu ia tidak pulang kampung.

Untuk mengakali kebijakan pelarangan itu, ia akan mudik ke kampung halamannnya di Malang, Jawa Timur, lebih cepat yaitu pada 30 April.

"Betul, aku pulang lebih cepat untuk menghindari kebijakan itu dan aku memang wajib berusaha untuk balik karena tahun lalu enggak balik."

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini