Fatwa MUI, Zakat Bisa Diperuntukkan bagi Penanggulangan Covid-19

Binti Mufarida, Sindonews · Senin 12 April 2021 16:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 12 337 2393335 fatwa-mui-zakat-bisa-diperuntukkan-bagi-penanggulangan-covid-19-hvQZfaA87a.jpg MUI. (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asrorun Niam Sholeh mengatakan, hari ini MUI mengeluarkan Fatwa Nomor 24 Tahun 2021. Fatwa ini berisi tentang panduan penyelenggaraan ibadah di bulan Ramadhan dan Syawal 1442 Hijriah. 

“Hari ini Majelis Ulama Indonesia melakukan pembahasan intensif mulai dari pagi sampai sebelum satu jam tadi, sudah menetapkan fatwa terbaru. Fatwa Nomor 24 Tahun 2021, tentang panduan penyelenggaraan ibadah di bulan Ramadhan dan Syawal,” ungkap Asrorun dalam dialog secara virtual dari Graha BNPB, Jakarta, Senin (12/4/2021). 

Dalam fatwa ini, Asrorun mengatakan bahwa kewajiban berzakat bagi muslim yang memenuhi syarat bisa didedikasikan dan juga diarahkan untuk penanggulangan Covid-19.

Baca juga: MUI Keluarkan Fatwa Panduan Penyelenggaraan Ibadah Ramadhan dan Syawal

“Misalnya ada kewajiban zakat bagi muslim yang memenuhi syarat. Maka ini bisa didedikasikan dan juga diarahkan untuk penanggulangan Covid-19, baik yang terdampak langsung maupun tidak langsung. Ini salah satu ikhtiar kita, ikhtiar lahirnya dan juga ikhtiar batiniah,” ungkap Asrorun.

Selain itu, Asrorun mengatakan bahwa Ramadhan di tengah pandemi Covid-19 saat ini harus dibangun dengan optimisme bakal lebih baik dari Ramadhan sebelumnya.

“Kita harus membangun optimisme bahwa Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang lebih baik dari tahun sebelumnya terkait dengan kondisi sosial kita,” harap Asrorun.  

Baca juga: MUI: Covid-19 Tidak Menghalangi Ibadah Ramadhan, Cuma Caranya Beradaptasi

Asrorun juga mengatakan bahwa kesadaran masyarakat terhadap protokol kesehatan juga tetap harus dijaga.

“Kesadaran masyarakat kita, jangan sampai kemudian komitmen pemerintah untuk melonggarkan aktivitas sosial ini disalahpahami oleh masyarakat,  sehingga boleh apa saja, tidak,” ucapnya.

“Aktivitas ibadah kalau bisa dilaksanakan dengan berjamaah, tetapi tanggung jawab untuk protokol kesehatan saat ibadah harus terus dilakukan,” pungkas Asrorun. 

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini