Kisah Pasukan Siliwangi Jalan Kaki 600 Km, Ditembaki Belanda, Wanita dan Anak Hanyut di Sungai

Doddy Handoko , Okezone · Senin 12 April 2021 06:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 12 337 2393003 kisah-pasukan-siliwangi-jalan-kaki-600-km-ditembaki-belanda-wanita-dan-anak-hanyut-di-sungai-SWxnGhLDv4.JPG Ilustrasi pasukan Siliwangi.(Foto:Dok Okezone)

JAKARTA - Film Darah dan Doa (The Long March [of Siliwangi] atau Blood and Prayer) ialah sebuah film Indonesia karya Usmar Ismail yang diproduksi pada tahun 1950. Film ini merupakan film Indonesia pertama yang secara resmi diproduksi oleh Indonesia sebagai sebuah negara.

Kisah film ini berasal dari kidah nyata. Skenario ditulis penyair Sitor Sirumorang. Film menceritakan seorang pejuang revolusi Indonesia yang jatuh cinta kepada salah seorang gadis Jerman di tempat pengungsian.

Baca Juga: Jayabaya Bisa Disejajarkan dengan Archimedes atau Isaac newton

Film ini mengisahkan perjalanan panjang (long march) prajurit divisi Siliwangi RI, yang diperintahkan kembali ke pangkalan semula, dari Yogyakarta ke Jawa Barat setelah Yogyakarta diserang dan diduduki pasukan Kerajaan Belanda lewat aksi polisionil.

Operatie Kraai (Operasi Gagak), tentara Belanda berhasil menguasai Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia saat itu.

Baca Juga: Siapa Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan yang Legendaris?

Pejuang Siliwangi melaksanakan perintah Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam Perintah Siasat No.1 pada Mei 1948: harus kembali bergerak ke Jawa Barat dan melakukan perlawanan.

Setelah penyerbuan Belanda ke Lapangan Udara Maguwo, Yogya, sandi 'Aloha' disebar. Tanpa sempat beristirahat dari operasi penumpasan PKI Muso di Madiun, Jawa Tengah, pasukan Siliwangi sudah bersiap dan bergerak kantong perlawanan, atau werhkreise, yang sudah disusun Jenderal Soedirman.

Jika saat 'hijrah', divisi Siliwangi mendapatkan perlindungan dan pengawalan dari Belanda , setelah perjanjian Renville yang harus menyerahkan Jawa Barat. Kini, mereka harus berpergian secara senyap. Apalagi, serangan Belanda bisa terjadi di mana saja.

Rombongan hijrah prajurit dan keluarga tentara itu diakhiri pada tahun 1950 dengan diakuinya kedaulatan RI.

Dalam buku" Long March Siliwangi" karya Himawan Soetanto diceritakan perjalanan panjang (long marc) tentara siliwangi ke kampung halamannya harus ditempuh dengan banyak pengorbanan. Bukan hanya kehilangan harta dan benda, darah dan nyawa harus dikorbankan.

Perjalanan pasukan penuh dengan bahaya dan rintangan tersebut terekam dalam ingatan Kolonel TB Simatupang. Dia tak sengaja ikut dalam Long March Siliwangi bersama Batalyon Daeng, di bawah pimpinan Letnan Kolonel Daan Yahya.

Simatupang, yang baru lolos dari penangkapan Belanda di Yogyakarta, melihat langsung kesulitan yang dialami Divisi Siliwangi. Medan yang dilalui benar-benar tidak masuk akal, tak jarang memakan korban jiwa.

"Batalyon-batalyon pada awal tahun 1948 dihijrahkan dari Jawa Barat, banyak keluarganya yang menyusul dan mencari suami-suaminya di daerah 'hijrah' di Jawa Tengah, setelah pasukan Siliwangi harus kembali ke Jawa Barat, tidak ada jalan lain, mereka ikut kembali," tulis Himawan Soetanto.

Seperti halnya para pasukan, istri dan anak mereka juga ikut berjalan kaki menuju kantong gerilya. Mereka harus melalui jalan yang gelap gulita, menyeberangi sungai deras, mendaki bukit-bukit licin dan curam, termasuk menghadapi hewan-hewan liar dan buas.

Sepanjang 600 km, mereka berjalan kaki, menghadapi kelaparan, penyakit hingga serangan militer Belanda dan teror pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Dalam perjalanan, ada anak-anak dan perempuan tewas terbunuh oleh bom pesawat-pesawat Belanda.

Pimpinan Markas Besar Tentara (MBT) membagikan sarung baru kepada seluruh pasukan. Sarung itu bukan saja sebagai selimut penghangat tidur namun juga bisa digunakan saat mereka harus menyeberang Sungai Serayu.

Dengan sambungan sarung yang beruntai mereka bisa menyeberangi sungai yang berarus deras itu. Proses penyeberangan membawa meminta korban, anak-anak dan perempuan yang hanyut oleh hantaman arus sungai yang deras. Beberapa bocah dan perempuan yang ikut dalam rombongan hanyut.

Para ibu yang baru melahirkan di tengah perjalanan harus rela memberikan bayi-bayi itu kepada penduduk desa yang dilewati. Daripada bayi-bayi itu menderita dan menjadi ‘beban’ selama perjalanan, lebih baik diselamatkan oleh para penduduk. Kurang lebih 40 hari lamanya, mereka menyusuri ratusan kilometer untuk kembali Jawa Barat.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini