Doni Monardo: Beri Mitigasi Bencana Gempa dengan Kearifan Lokal

Avirista Midaada, Okezone · Minggu 11 April 2021 23:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 11 337 2392965 doni-monardo-beri-mitigasi-bencana-gempa-dengan-kearifan-lokal-6Wo5RJLjiX.jpg Kepala BNPB Doni Monardo (Foto: Satgas Covid-19)

MALANG - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengingatkan potensi kegempaan yang terjadi di selatan Pulau Jawa. Apalagi di selatan Pulau Jawa terdapat lempeng yang masih aktif.

Hal ini disampaikan Doni Monardo saat meninjau korban gempa di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, pada Minggu sore (11/4/2021).

"Kami ingatkan adalah wilayah pantai selatan Pulau Jawa adalah salah satu yang berisiko tinggi, selain pantai barat Pulau Sumatera," ungkap Doni Monardo.

Dirinya menyatakan, warga tidak boleh panik saat gempa terjadi dan terus meningkatkan literasi kebencanaan. Namun Doni mengingatkan warga agar tetap waspada bilamana terjadi gempa, apalagi gempa yang berpotensi tsunami.

"Warga tidak boleh panik, tetap tenang, dan program pelatihan yang telah dilakukan oleh pemerintah provinsi, kabupaten kota yang dibantu BMKG. BNPB serta Basarnas didukung TNI Polri, ini harus lebih sering dilakukan. Tidak membuat warga panik, tetapi ini Bagian dari kesiapsiagaan dan kewaspadaan kita," paparnya.

"Karena sebagian wilayah nasional kita, adalah daerah yang punya risiko tinggi untuk mengalami gempa dan tsunami," imbuhnya.

Doni menyarankan ada satu trik khusus kearifan lokal yang bisa digunakan warga di pesisir selatan Kabupaten Malang, untuk mengantisipasi gempa yang berpotensi tsunami. Penanda dengan kearifan lokal ini perlu mengingat agar masyarakat tak perlu lagi menunggu instruksi dari pemerintah desa atau pihak terkait untuk mengevakuasi mandiri.

Hal ini disebut Doni, agar mengurangi potensi korban bencana saat gempa terjadi pada malam hari. Dimana bila bencana gempa terjadi pada siang hari, warga bisa bersiaga untuk mengevakuasi diri. Namun bila bencana gempa terjadi pada malam hari itu yang bakal menjadi penanda.

"Maka sebaiknya warga menyiapkan sejumlah kaleng. Kaleng bekas yang ditempatkan di tempat tidur. Sehingga ketika ada goyangan, kaleng itu akan jatuh. Dan itu adalah alarm untuk warga Sehingga tdiak perlu harus menunggu pemberitahuan dari pemerintah dan juga dari desa atau RT RW, warga bisa langsung mengevakuasi diri," paparnya.

Pihaknya juga menyebutkan sistem siskamling juga dirasa Doni bisa meminimalisir terjadi korban saat bencana terjadi pada malam hari. Dimana di satu lingkungan tersebut, perlu ada orang yang berjaga, yang kemudian memberi peringatan ke warga lainnya bila terjadi potensi bencana.

"Diharapkan ada piket seperti siskamling, setiap malam warga berjaga, untuk antisipasi resiko yang muncul. Apakah curah hujan yang tinggi, atau mungkin gempa yang besar. Dengan adanya piket ini, akan bisa menyelamatkan banyak jiwa," jelasnya.

"Contoh sudah banyak, beberapa daerah apakah itu di Sulawesi, termasuk di NTT. Seorang ketua RT, dini hari membangunkan semua warganya agar mengungsi ke tempat lebih tinggi. Apa yang terjadi seluruh warganya akhirnya bisa selamat, tidak ada korban jiwa," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini