Bertemu Keturunan Belanda & Prajurit Pangeran Diponegoro di Kota Lasem

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 10 April 2021 06:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 10 337 2392317 bertemu-keturunan-belanda-pangeran-diponegoro-di-kota-lasem-uxMSdNdnjM.jpg Rumah yang miliki pohon sawo di depan rumahnya (Foto: Doddy Handoko)

JAKARTA - Kota Lasem terletak di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Lasem kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang setelah kota Rembang.

Kecamatan Lasem mempunyai luas wilayah mulai dari pesisir laut Jawa hingga ke selatan. Di sebelah timur terdapat gunung Lasem. Letaknya yang dilewati oleh jalur pantura, menjadikan kota ini sebagai tempat yang strategis dalam bidang perdagangan dan jasa.

Lasem disebut kota awal pendaratan orang Tiongkok di tanah Jawa dan terdapat perkampungan Tionghoa. Selain itu, Lasem juga dikenal sebagai kota santri, kota pelajar dan salah satu daerah penghasil buah jambu dan mangga. Selain itu hasil dari laut seperti garam dan terasi. Ada juga batik sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang merah hati.

Di Lasem tidak mengherankan melihat peranakan Tionghoa hilir mudik. Tapi ada hal lain yang jaramg diketahui orang. Di Lasem ditemukan seorang keturunan Belanda yang pernah jadi sekuriti sekolah dan kini jualan makanan di pasar.

Baca juga: Masa-masa Sulit Pangeran Diponegoro di Manado

Ia adalah Joko Daryanto Wahyono Putro atau biasa disebut Joko Londo. Sebelum pandemi Covid-19, ia bertugas mengatur arus lalu lintas di jalan depan SDIT Mutiara Hati Lasem.

Baca juga: Kisah Pangeran Diponegoro Tulis Babad dalam Ruang Panas di Benteng Rotterdam

Arus lalu lintas di Pantura itu ramai, sehingga Joko yang bertugas sebagai anggota sekuriti dibuat sibuk saat jam-jam masuk atau pulang sekolah. Ia bertugas sebagai sekuriti selama 12 tahun.

Banyak orang yang tak menyangka kalau Joko memiliki darah Belanda. Apalagi dilihat cuma sekilas, sebab penampilannya yang kalem dengan bahasa Jawa yang fasih, akan membuat orang menganggap dia orang Jawa asli.

Tapi jika dicermati dengan seksama, garis keturunan Belanda masih terlihat. Perawakan badannya yang tinggi besar serta bentuk wajah yang relatif berbeda dengan orang Jawa pada umumnya. Yakni hidung mancung, rongga mata dalam serta dagu lancip.

"Kakek saya orang Belanda. Namanya Scoot William. Kebetulan dia semasa hidupnya justru membantu perjuangan rakyat Indonesia. Hingga akhirnya menikah dengan nenek saya, Soeparti Sastroadmodjo. Kata nenek, kakek dimakamkan di Pati," jelasnya.

Ia juga memiliki darah bangsawan dari orangtuanya. Hanya saja sang ayah Wahdjono Sastroadmojo, yang berasal dari Yogyakarta tak ingin membanggakan gelar kebangsawanannya. Sehingga dia memilih untuk bergabung sebagai anggota polisi (Brimob) di Semarang.

"Ayah sempat menjabat sebagai Kapolsek di Pancur, Rembang sekitar tahun 1980-an," kata dia. Sehingga, tentunya hal itu harus membuat Joko dan ketujuh saudaranya, terbiasa tinggal berpindah-pindah tempat.

Ayah Joko ingin keluar dari bangsawan dan mendatarkan diri menjadi Brimob. Lalu ditugaskan untuk berjuang dari Semarang sampai Rembang. Ayahnya juga pernah tugas di Timor Timur serta Irian Jaya.

Joko pernah bergabung di sebuah perusahaan kontraktor pembuatan kilang papan lapis. Karena itu, pria yang tinggal di Kampung Dorokandang, Lasem ini sudah terbiasa keluar masuk hutan di kawasan Kalimantan Barat hingga Serawak Malaysia.

"Saya memiliki warung makan bersama sang istri di Pasar Lasem,"ucapnya.

Meski sang kakek orang Belanda, namun dia justru berpesan agar anak keturunannya tidak belajar Bahasa Belanda. Sebab, mereka adalah orang Indonesia.

"Dulu katanya kakeknya pernah berpesan agar kita semua tidak usah belajar bahasa Belanda. Karena orang Indonesia. Makanya sampai sekarang tidak ada satupun dari saya dan saudara yang lain, yang bisa bahasa Belanda," tuturnya.

Selain seorang keturunan Belanda di Lasem juga ditemukan pula keturunan Prajurit Diponegoro bernama Akhlis Budiman.

Medan gerilya perang Pangeran Diponegoro 1825-1830 ternyata sampai ke wilayah Rembang-Lasem. Pasukan Diponegoro di daerah Rembang di bawah pimpinan Tumenggung Sasradilaga, yang semula berhasil memukul mundur pasukan Belanda, lambat-laun mulai terjepit dan akhirnya pada tanggal 3 oktober 1828 menyerah kepada Belanda.

Tentang Lasem dituliskan P. Diponegoro dalam Serat Babad Diponegoro Maskumambang XXXIII, ”China ing Lasem sedaya, mapan sampun sumeja manjing agami, Den Sasradilaga dadya supe weling aji anjamahi Nyonyah China pan punika ingkang dadi marganeki apes juritira” (Carey: 2008).

Di Lasem masih dijumpai keturunan prajurit Diponegoro yang tinggal di desa Sumber Girang bernama Achlis Budiman. Ia mengetahui kisah kakek Karjono, leluhurnya itu dari cerita turun-temurun keluarganya. Jika diurut silsilah kakek Karjono dengan dirinya 6-7 turunan ke bawah.

Baca juga: Kisah Pangeran Diponegoro Mabuk Laut & Deman saat Berlayar

“Dari cerita keluarga, kakek Karjono datang naik kuda dari arah selatan ke arah desa Sumber Girang sekarang. Dulu daerah sini kemungkinan masih semak belukar,” katanya.

Baca juga: Diponegoro Dipenjara, Dijaga 200 Serdadu dan Hampir Dibuang ke Belanda

Ia semakin yakin kakeknya pengikut Diponegoro ketika mengetahui bahwa prajurit Diponegoro mempunyai sandi dalam berkomunikasi dengan sesama simpatisan dengan menanam pohon sawo, tanaman kemuning, pohon kepel, dan membuat sumur di kanan rumah.

“Bekas rumah kakek saya itu ada pohon sawo di depan rumah 2 buah dan sumur di sebelah kanan rumah. Pohon Kemuning dan Kepel mungkin sudah ditebang,” paparnya.

"Cerita tentang Simbah Kyai Karjono terputus, karena yang berkaitan dengan keberadaannya telah hilang atau dihilangkan, termasuk bekas rumah induk, yang tinggal hanya pohon sawo tua dan sumur tua,” ungkapnya.

Ia menceritakan kakeknya dulu mempunyai tanah yang luas kemungkinan diberi warga karena tanah disitu dianggap angker. Menurut infonya luas tanah mulai rondan gandeng ke selatan, Sampson sampai SD 3 ke Barat sampai perempatan jamu Jago, sekitar 1 hektar. Ia menduga tanah itu dirampas oleh Belanda lalu dibagikan ke warga lain. Mereka berdua juga aktif sebagai penggiat sejarah di Yayasan Lasem, Kota Cagar Budaya (LKCB).

Pascaperang Jawa, pengikut Diponegoro menyebar ke berbagai penjuru karena dikejar-kejar pasukan kompeni. Metode perjuangan mereka akhirnya berubah. Para pengikut Diponegoro tersebut berjuang di wilayah pendidikan, yakni mendirikan surau, pesantren untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat sekitar. Sebagai penanda bahwa mereka ada bekas pasukan Diponegoro, maka di depan surau atau pesantren itu ditanami dua pohon sawo.

Peter Carey menuliskan dalam bukunya "Takdir dan Kuasa Ramalan" bahwa pengikut Diponegoro terdiri dari berbagai kalangan. Termasuk para ulama dan kiai. Rinciannya, 108 kiai, 31 haji, 15 syekh, 12 penghulu, serta 4 kiai guru.

Baca juga: Kisah Pangeran Diponegoro Disuguhi Roti Putih dan Kentang Welanda

Setelah pimpinan mereka ditangkap Belanda, para pengikut itu menyebar dan mendirikan basis-basis perlawanan dengan mendirikan surau dan pesantren. Lagi-lagi, sebelum menyebar, mereka terlebih dahulu bersepakat bahwa menandai tempat baru mereka dengan dua batang pohon sawo.

Baca juga: Penggambaran Kepala Raksasa Perwira Belanda di Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro Karya Raden Saleh

Sementara itu Gus Sidiq, ulama dri Lasem mengungkapkan bahwa pesantren Al Fahriyah, dan Pesantren Al Wahdah, Sumbergirang Lasem dan Langgar Tengah Ngemplak Lasem juga ada penanda dua pohon sawo. “Untuk yang Langgar tengah sekarang tinggal satu pohon,” ucapnya.

Satu diantara keturunan ke7 Pangeran Diponegoro, Roni Sodewo di Kulonprogo, Yogyakarta pernah menjelaskan bahwa ciri-ciri sandi trah Diponegoro dan pengikut Diponegoro untuk komunikasi di rumahnya ditanam pohon Kemuning, atau pohon Sawo di depan rumah membuat sumur di sebelah kanan rumah dan di belakang rumah menanam pohon Kepel. 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini