Dahsyatnya Serangan Belanda Tak Patahkan Semangat Pejuang Indonesia Bertempur saat Puasa

Fahmi Firdaus , Okezone · Sabtu 10 April 2021 06:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 09 337 2392297 dahsyatnya-serangan-belanda-tak-patahkan-semangat-pejuang-indonesia-bertempur-saat-puasa-yU0k30ncTz.jpg Foto: wikipedia

OPERASI Produk (Operatie Product) atau yang dikenal di Indonesia dengan nama Agresi Militer Belanda I adalah operasi militer Belanda di Jawa dan Sumatera terhadap Republik Indonesia yang dilaksanakan dari 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947. Saat itu, bangsa Indonesia yang beragama Islam sedang menjalankan Ramadhan 1366 Hijriah.

(Baca juga: Mengenang Perjuangan Kolonel Sentot, Komandan Pasukan Setan yang Kebal Peluru)

Operasi Produk merupakan istilah yang dibuat oleh Letnan Gubernur Jenderal Johannes van Mook yang menegaskan bahwa hasil Perundingan Linggarjati pada tanggal 25 Maret 1947 tidak berlaku lagi.

Agresi yang “merobek-robek” Perjanjian Linggarjati antara RI dan Belanda, Oktober 1946. Jelang hari H Agresi pada 21 Juli 1947, tepatnya pada 20 Juli malam, Legercommandant Letjen Simon Hendrik Spoor memerintahkan serdadu elite-nya lebih dulu melakukan pengepungan dan penangkapan.

(Baca juga: Mengenal Bank Emok, Rentenir Keliling yang Bikin Dina Gantung Diri dan Bunuh Dua Anaknya)

Sejumlah kantor dan instansi pemerintah RI direbut. Termasuk Kantor Penghubung Tentara Republik Indonesia (TRI, kini TNI) di Jalan Cilacap Nomor 5, Jakarta Pusat. Para penghuninya ditangkapi dan dibuang ke Penjara Bukit Duri.

Baru pada 21 Juli Belanda menggelar operasi besar-besaran. Garis demarkasi di Bekasi, diterobos dengan bantun milisi lokal pengkhianat pimpinan H Pandji, HAMOT (Hare Majesteit's Ongeregelde Tropen).

Tidak hanya di Pulau Jawa, Belanda juga mengacak-acak wilayah republik di Sumatera, termasuk Aceh. Awalnya di Aceh, warga hanya dikagetkan datangnya sebuah pesawat Belanda yang terbang rendah untuk menyebarkan pamflet.

Pamflet propaganda bahwa pemerintah republik menghalangi kerjasama dan mengorbankan rakyat. Lantas TRI dan elemen-elemen perjuangan lainnya, segera membentuk kubu-kubu pertahanan di pesisir. Semangat perlawanan meski di bulan puasa, tetap gigih dan ini yang tak disangka Belanda. Mereka mengira karena tengah masuk bulan puasa, perlawanan tentara republik akan melemah.

“Jadikanlah ibadah puasa sebagai jembatan untuk mempertebal iman dan perjuangan,” cetus Residen Aceh dalam ‘Kronik Revolusi Indonesia Jilid III (1947)’ oleh Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo dan Ediati Kamil.

“Kita selalu digempur dengan cara besar-besaran oleh tentera Belanda. Jangan disangka kita akan lemah dalam menghadapi mereka karena kita sedang berpuasa. Kita kuat menghadapi mereka kapan saja dan di mana saja,” tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini