Kisah Unik Soekarno dan Hatta Santap Sahur di Rumah Laksamana Maeda

Fahmi Firdaus , Okezone · Sabtu 10 April 2021 07:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 09 337 2392290 kisah-unik-soekarno-dan-hatta-santap-sahur-di-rumah-laksamana-maeda-CxDMEkG0no.jpg Foto: Antara

BULAN Agustus 1945 merupakan bulan yang bersejarah bagi bangsa ini. Saat itu juga bertepatan dengan bulan suci Ramadhan 1364 Hijriah. Di bulan puasa itu pula, dua proklamator, Soekarno dan Mohammad Hatta plus Achmad Soebardjo mesti merampungkan teks proklamasi.

(Baca juga: Ketika Bung Karno Pesan 50 Tusuk Sate Ayam saat Bulan Ramadan)

Teks proklamasi yang dituliskan Bung Karno itu lantas diketik Sayuti Melik, di rumah Shoso atau Laksamana Muda (Laksda) Tadashi Maeda, seorang perwira tinggi Kaigun (Angkatan Laut) Jepang yang bersimpati dengan upaya kemerdekaan Indonesia.

Rumah Laksamana Maeda itu kini sudah beralih fungsi menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta Pusat.

(Baca juga: Mengenal Bank Emok, Rentenir Keliling yang Bikin Dina Gantung Diri dan Bunuh Dua Anaknya)

Di sebuah ruang besar di salah satu sudut rumah Maeda itu, Soekarno-Hatta dan Soebardjo berpikir keras bersilang pendapat dalam “pekerjaan lemburnya”. Karena yang mereka kerjakan menentukan arah bangsa Indonesia pascamerdeka.

Sementara para pemuda lainnya yang menunggu di ruang tamu, sembari menghitung waktu sampai memasuki waktu makan sahur. Baru sekira lewat pukul 4 subuh, teks proklamasi diselesaikan.

Bung Karno dan Bung Hatta pun bergiliran keluar ruangan, untuk santap sahur dengan menu seadanya yang disiapkan para asisten rumah tangga Maeda. Menu yang dihidangkan adalaha ikan sarden, telur dan roti tanpa nasi.

“Lewat pukul 04.00 subuh, perumusah naskah proklamasi rampung. Soekarno melangkah keluar setelah mengambil makanan di dapur untuk sahur. Hatta menyusul, seusai membuka sekaleng ikan sarden dan mencampurnya dengan telur,” tulis Rosihan Anwar dalam ‘Sutan Sjahrir: True Democrat, Fighter for Humanity 1909-1966’.

Usai santap sahur, kedua proklamator itu pulang dengan Hatta diantar mobil Soekarno. Hampir tidak ada percakapan yang keluar dari mulut mereka, karena lelah dan terkurasnya tenaga keduanya dalam beberapa hari terakhir.

“Semoga saja apa yang kita upayakan selama ini untuk Indonesia Merdeka, dapat berguna bagi anak cucu kelak,” cetus Bung Karno memecah keheningan.

“Ya, aku juga berharap demikian,” jawab Hatta sembari mengangguk pelan, sebagaimana dikutip buku ‘Hatta: Aku Datang karena Sejarah’ oleh Sergius Sutanto.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini