Masa-masa Sulit Pangeran Diponegoro di Manado

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 09 April 2021 06:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 09 337 2391705 masa-masa-sulit-pangeran-diponegoro-di-manado-fFr6CAKplN.jpg Foto: Istimewa

Akan tetapi, secara pribadi Diponegoro tetap berusaha mengirim pesan kepada “kawannya yang mulia” itu. Terutama, ia meminta agar istri-istrinya, yang masih tinggal di Yogya dan istri-istri Kiai Mojo dan istri-istri para pengikutnya, dapat dipersatukan dengan suami-suami mereka di pengasingan.

Pangeran juga minta agar dua penasihat agama terdekatnya, Haji Badarudin dan Haji Ngiso, dapat bergabung di Manado, dan bahwa Van den Bosch hendaknya menjadi “pelindung” bagi anak-anaknya di Mataram .

Meski istri Kiai Mojo boleh diboyong ke Minahasa dan bukan karena rasa kasihan, semua permintaan Pangeran Diponegoro yang lain ditolak.

"Tidak satu pun istri-istri resminya yang lain yang ingin bergabung dengan dirinya di pengasingan. Dua haji penasihatnya pun sama. Mereka terlalu sibuk membangun karier masing-masing di Hindia Belanda pasca-perang. Penolakan mereka ini menegaskan sekali lagi betapa sulitnya kehidupan Diponegoro di pengasingan," paparnya.

Dunia Pangeran yang mendadak berubah menyempit menjadi hanya seluas empat kamar di Fort Nieuw Amsterdam, yang ia masuki setelah berkelana sendirian di bulan-bulan terakhir pelariannya di hutan-hutan Bagelen barat, menjadi dunia yang begitu menyiksa.

Belum sebulan sejak awal kedatangannya, Pangeran tidak berminat lagi untuk berkeliling ke desa-desa di sekitarnya. Dalam pandangannya, lingkungan Manado tidak cocok untuk dijelajahi dengan berkuda.

"Sejak itu ia juga minta untuk disapa sebagai 'Pangeran Ngabdulkamit', sebuah gelar yang kelak akan ia ganti lagi dengan cita rasa yang lebih asketik 'fakir Ngabdulkamit', yang dilakukan setelah ia datang di Makassar pada 11 Juli 1833," ucapnya.

Tetap setia dengan cita-citanya untuk hidup sederhana dengan satu tujuan, yakni menabung uang untuk suatu ketika berangkat naik haji ke Mekkah, Diponegoro menjadi sangat hemat dengan tunjangan bulanannya.

Pada akhir Agustus 1830, Pietermaat menjadi was-was, jangan-jangan Pangeran sedang mengumpulkan uang tabungan untuk perang baru karena jumlah uang tabungannya cukup besar.

Satu-satunya kemewahan yang dilakukan Pangeran hanyalah membeli di pasar setempat sarung keris berhiaskan emas untuk keris pusakanya, Kangjeng Kiai Bondoyudo.

(fkh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini