Seluk Beluk Abdi Dalem Keraton Surakarta hingga Berpangkat Kangjeng Raden Tumenggung

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 09 April 2021 06:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 08 337 2391704 seluk-beluk-abdi-dalem-keraton-surakarta-hingga-berpangkat-kangjeng-raden-tumenggung-sVjoqTmKgc.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Abdi dalem adalah orang yang mengabdikan dirinya kepada keraton dan raja dengan segala aturan yang ada. Abdi dalem berasal dari kata abdi yang merupakan kata dasar dari "mengabdi" dan dalem atau ndalem yang bisa diartikan sebagai kata ganti untuk penyebutan "Sunan atau Sultan".

Abdi dalem ada dua macam yakni abdi dalem garap yang bekerja di dalam keraton, sedangkan abdi dalem anon-anon atau penghargaan, abdi dalem ini tidak bekerja di dalam karaton namun memiliki kewajiban hadir pada saat acara pokok di Karaton.

"Acara itu antara lain tinggalan Jumenengan Dalem (ulang tahun naik tahta raja), Grebeg Pasa, Grebeg Besar, Mahesa Lawung, Grebeg Mulud (Sekaten), Mapag tanggal 1 Suro (kirab malem 1 Suro), Malem Selikuran dan Labuhan," ujar seorang abdi dalem Keraton Surakarta, Surojo, Jumat (8/4/2021).

Dikatakannya, menjadi abdi dalem adalah suatu niat nyata dari sesorang untuk mengabdi di keraton dalam rangka nguri-uri budaya yang bersumber dari keraton.

Ada beberapa jalur untuk menjadi abdi dalem. Menjadi Siswa Pawiyatan Pambyawara, setelah lulus atau babaran kemudian diberikan pilihan yakni menjadi abdi dalem garap, menjadi abdi dalem anon-anon atau tidak menjadi abdi dalem namun tetap ingin mengabdikan diri untuk mengembangkan adat dan budaya yang bersumber dari Keraton Surakarta.

Baca juga: Cerita Penari Keraton yang Ikut Terkurung Bersama 2 Putri Raja

Bagi yang berminat menjadi abdi dalem maka akan dilakukan observasi dari yang bersangkutan oleh keraton untuk dinilai kelayakannya ditetapkan sebagai abdi dalem, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan maka yang bersangkutan untuk diangkat sebagai abdi dalem dengan menyesuaikan tingkat pendidikan dan jabatan di masyarakat.

Baca juga: Kaum Muda Dominasi Pendaftaran Abdi Dalem Keraton Yogyakarta

Setelah usulan diterima, maka yang bersangkutan mengajukan permohonan dilampiri KTP dan pas poto dengan memakai busana Jawi (beskap/atela), setelah selesai proses administrasi yang bersangkutan sebelum diberikan pangkat kekancingan dipanggil ke karaton untuk disumpah setia pada keraton di depan Pengageng Karaton dengan menggunakan pakaian sesuai pangkat yang akan diberikan .

"Misalnya pangkat Lurah sebutannya Mas Lurah, pangkat mantri dengan sebutan Mas Ngabehi, pangkat Panewu juga sebutan Mas Ngabehi atau Raden Ngabehi, pangkat Bupati Anom sebutannya Raden Tumenggung, pangkat Bupati sepuh sebutannya Kangjeng Raden Tumenggung," paparnya.

Ini adalah pangkat maksimal sebagai abdi dalem, jika abdi dalem tersebut sangat berjasa pada adat dan budaya karaton, maka dapat diangkat sebagai Sentono dengan pangkat Riya, sebutannya Kangjeng Raden Arya Tumenggung, Riya inggil sebutannya Kangjeng Raden Arya, Riya Arya Sebutannya Kangjeng Raden Riya Arya.

Jika memiliki darah raja dapat diangkat menjadi Kangjeng Pangeran, sedangkan cucu atau buyut raja dapat diberikan pangkat Pangeran wayah atau Pangeran Buyut dengan sebutan Kangjeng Pangeran Harya. Untuk menantu bisa diberikan pangkat Kangjeng Raden Mas Harya dan Kangjeng Pangeran atau Kangjeng Pangeran Harya.

Setelah selesai disumpah para abdi dalem kemudian diberikan kekancingan sesuai dengan pangkat yang telah ditetapkan dan biasanya untuk anon anon bergabung dalam paguyuban abdi dalem tertentu dan mengadakan upacara selamatan atas pemberian pangkat sebagai abdi dalem.

"Sumpah abdi dalemn antara lain Melu Gawa Gawene Karaton Sing Wis Kadhawuhaken Apa Dene Kang Durujg Kadhawuhake," ucapnya.

Berikutnya, jalur kegiatan melestarikan adat dan budaya yang bersumber dari keraton Surakarta, dari informasi.

"Inilah abdi dalem yang ada di daerah mengajukan usulan orang dianggap berjasa untuk diberikan anugerah kepangkatan sebagai abdi dalem dengan meminta persetujuan yang bersangkutan kesediaan diangkat sebagai abdi dalem," tuturnya.

Lalu, Jalur Lumintir atau meneruskan jabatan orangtua, biasanya abdi dalem garap diberikan tempat atau rumah dalam Cepuri Baluwarti. Setelah orang tuanya pensiun atau meninggal maka anak-anaknya akan meneruskan pengabdian sebagai abdi dalem karena rumah di Baluwarti (di dalam beteng) adalah rumah untuk badi dalem yang masih aktif bertugas sebagai abdi dalem garap.

(fkh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini