Ketika Jenderal Soedirman Pimpin Gerilya Pakai Tandu dengan Satu Paru-paru

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 09 April 2021 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 08 337 2391703 ketika-jenderal-soedirman-pimpin-gerilya-pakai-tandu-dengan-satu-paru-paru-ECfsMeYGWN.jpg Panglima Besar Jenderal Soedirman di atas tandu (Foto: istimewa)

JAKARTA - Tentara Belanda selalu gagal memburu Jenderal Besar Soedirman saat bergerilya di hutan Jawa. Bahkan, ia pernah luput dari musuh yang hanya berjarak sekitar 10-20 meter. Padahal jika saat itu penyakitnya kambuh dan membuatnya batuk-batuk, pastilah musuh akan mendengar dan menangkapnya.

Namun penyakitnya saat itu tidak kambuh. Lalu, anehnya tidak ada satu pun musuh yang melihat Soedirman bersembunyi di antara ilalang yang pendek.

Dalam buku Biografi: Jenderal Soedirman, ditulis saat Ibu Kota Republik yang berada di Yogyakarta direbut Belanda, Presiden dan Wakil Presiden ditawan. Saat itu Presiden Sukarno sempat menyuruh Sudirman meletakkan senjata, tetapi ia menolak dan memutuskan bergerilya.

Penyakit paru-paru yang dideritanya karena sejak remaja, Soedirman perokok berat. Rokok Soedirman kretek tak bermerek. Disebutnya tingwe alias nglinthing dewe, yang artinya ”meramu sendiri”.

Kebiasaan mengisap tembakau membuat Soedirman mengalami gangguan pernapasan. Kondisi kesehatannya semakin menurun sejak pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun, Jawa Timur, pada 1948.

Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, putra bungsu Soedirman mendapat cerita itu dari ibunya , Alfiah, bahwa pada akhir September 1948, Soedirman mengeluh tak bisa tidur selama di Madiun. Soedirman begitu terpukul menyaksikan pertumpahan darah di antara rakyat Indonesia.

Peristiwa Madiun membuat batin Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia ini nelangsa. Selain kelelahan berat, tertekan batinnya karena peristiwa itu.

Malam itu, kondisi kesehatan Soedirman turun. Namun, ia tetap mandi dengan air dingin. Saran sang istri agar mandi air hangat tak ia indahkan. Ia terkapar di tempat tidur.

Baca juga: Kisah Pilot Jepang Terbangkan Jenderal Soedirman dengan Pesawat Pembom

Kendati sakit, kegemarannya merokok tetap tak bisa ia hilangkan. Sesekali, sembari terbaring, Soedirman mengisap rokok kretek. Melihat itu, istrinya hanya diam, tak berani melarang.

Tim dokter tentara mendiagnosis ia menderita tuberkulosis, infeksi paru-paru. Tak percaya akan hasilnya, keluarga meminta pemeriksaan ulang oleh dua dokter tentara senior, Asikin Wijayakusuma serta Sim Ki Ay. Dan jawabannya sama dengan observasi pertama. Soedirman pun dibawa ke Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.

Baca juga: Kisah Soedirman, Jenderal Muda yang Digembleng Muhammadiyah

Menurut Soegiri, bekas ajudan Soedirman, obat yang dibutuhkan atasannya hanya ada di Jakarta. Untuk sampai Yogyakarta, obat itu harus diboyong melalui jalur penyelundupan. Di lain pihak, Soedirman butuh penanganan cepat.

Akhirnya tim dokter memutuskan operasi penyelamatan dengan membuat satu paru-parunya tak berfungsi. Pasca-operasi, menurut Soegiri, tim dokter berbohong kepada Soedirman. Mereka mengatakan operasi itu cuma mengangkat satu organ kecil di paru-paru yang menghambat saluran pernapasan.

Sedangkan kata Teguh, dokter memberitahukan ibunya perihal operasi itu. Sejak itu Soedirman bernapas hanya dengan separuh paru-paru.

Pada tanggal 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer II dan menduduki Yogyakarta.

Di saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di kraton, Soedirman beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya dengan ditandu selama tujuh bulan.

Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu. Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto.

Ketika Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949. Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno.

Kemudian, penyakit TBC yang diidapnya kambuh. Soedirman pun pensiun dan pindah ke Magelang. Soedirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Perlawanan gerilyanya ditetapkan sebagai sarana pengembangan esprit de corps bagi tentara Indonesia, dan rute gerilya sepanjang 100 kilometer (62 mi) yang ditempuhnya harus diikuti oleh taruna Indonesia sebelum lulus dari Akademi Militer.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini