Siaga di Wilayah Rawan Bencana, Kepala BNPB: Sebaiknya Ada Siskamling

Binti Mufarida, Sindonews · Kamis 08 April 2021 09:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 08 337 2391232 siaga-di-wilayah-rawan-bencana-kepala-bnpb-sebaiknya-ada-siskamling-xmLuwW9t8f.jpg Ilustrasi (Foto:Dok Okezone)

JAKARTA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo meminta daerah rawan bencana untuk menggerakkan kegiatan masyarakat seperti Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling).

Doni mengatakan, kegiatan Siskamling yang menyelamatkan masyarakat di Alor Nusa Tenggara Timur dari kejadian bencana akibat cuaca ekstrem dampak siklon tropis seroja.

“Kemudian beberapa pelajaran menarik yang bisa kita petik dari kejadian ini adalah ketika ada curah hujan lebih dari 3 jam, kemudian mereka yang berada di posisi yang risikonya tinggi, yang antara lain misalnya berada di bawah tebing, kemudian berada di wilayah aliran sungai, atau di berada di wilayah lembah-lembah yang relatif merupakan kawasan yang rendah, maka sebaiknya dilakukan sebuah kegiatan seperti Siskamling secara bergantian, ada piket. Karena ini akan membantu untuk memberikan informasi kepada warga, agar siap siaga,” ungkap Doni dalam rapat koordinasi, Rabu (7/4/2021) malam.

Baca Juga: Penampakan Bendung Kambaniru Jebol Akibatkan Banjir Parah di Sumba Timur

Doni pun meminta agar wilayah rawan bencana segera melakukan evaluasi mandiri agar tetap siaga bencana. “Dan khusus daerah-daerah (rawan bencana) maka sudah harus ada evaluasi mandiri yang dilakukan oleh warga berdasarkan arahan dari Kepala Desa atau ketua RT dan RW,” ujarnya.

Baca Juga: NTT Ditimpa Bencana, MUI: Ini Peringatan Agar Kita Mawas Diri

Doni juga menceritakan bahwa ada peristiwa menarik di Alor dimana Ketua RT pada dini hari sebelum terjadinya banjir bandang telah memberitahukan warga agar mengungsi di tempat yang tinggi.

“Adalah menarik di salah satu tempat di Alor, di mana ketua RT nya pada dini hari sekitar pukul 3.00, itu membangunkan warga untuk segera melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Ketika sekitar jam 5 dini hari terjadi banjir bandang mereka semua berada di tempat yang lebih tinggi. Sehingga selamat tidak ada korban jiwa,” ungkap Doni.

Pelajaran ini, kata Doni, tentunya harus dijadikan referensi bagi seluruh pimpinan yang ada di daerah sampai dengan tingkat RT dan RW. “Termasuk juga tentunya mewaspadai pohon-pohon yang relatif gampang atau mudah, mudah patah untuk mengurangi risiko,” katanya.

Doni mengatakan hal-hal teknis ini harus sering diingatkan. “Biasanya kalau seandainya satu kali dua kali mungkin sering lupa. Tetapi kalau sering disampaikan secara terus menerus dan berulang kali ini akan menjadi budaya, akan menjadi kebiasaan,” tukasnya.

“Apalagi kita semua tahu bahwa peristiwa itu kemungkinan bisa terjadi pada periode tahun-tahun yang akan datang. Bukannya di NTT tetapi di banyak wilayah Indonesia lainnya,” paparnya.

(saz)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini