Masjid Raya Sultan Riau, Bangun Pakai Putih Telur hingga Simpan Pasir dari Makkah

Doddy Handoko , Okezone · Kamis 08 April 2021 07:55 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 08 337 2391185 masjid-raya-sultan-riau-bangun-pakai-putih-telur-hingga-simpan-pasir-dari-makkah-NfA6lVm7iR.jfif Masjid Raya Sultan Riau (foto: Wikipedia)

Yang Dipertuan Muda Raja Abdul Rahman bersama dengan 5.000 orang memulai pembangunan pondasi masjid itu. Laki-laki dan perempuan bekerjasama selama 7 hari 7 malam, dari malam hari sampai subuh.

Selama 7 hari itu, para lelaki dilarang keluar kecuali penjaga keamanan. Setelah dikerjakan secara marathon pondasi masjid setinggi 7 hasta selesai selama 3 minggu.

Lalu pembuatan bangunan induk dipimpin oleh tukang yang terdiri dari orang India yang didatangkan dari Selat (Singapura). Saat itu tersohor cerita terlalu banyak tersedia telur untuk makanan bagi orang-orang yang bekerja. Sehingga tukang itu menyarankan supaya putih telur yang berlimpah dicampur dengan semen sebagaimana yang biasa dilakukan di India. Itulah sebabnya bangunan Masjid menjadi sangat kokoh.

Masjid ini dibuat dengan bentuk unik. Setelah orang menaiki tangga depan atau tangga samping terlihat sebuah halaman sebelum masuk ke bangunan utama.

Seluruh komplek masjid termasuk halaman atas panjangnya 54,40 meter dan lebarnya 32,20 meter. Bangunan induk tempat shalat panjangnya 29,30 meter dan lebarnya 19,50 meter,disangga oleh 4 buah pilar beton.

Lantai bangunan induk dibuat dari batu bata tanah liat empat persegi warna kemerah-merahan. Bumbungan masjid berbentuk kubah sebanyak 13 buah Bersama dengan 4 buah menara, jumlah bumbungan menjadi 17 yang diartikan sebagai 17 rakaat shalat dalam sehari semalam.

Keempat menara masjid tingginya 18,90 meter dari dasar tanah. Dinding dan pagar besi 2 buah menara di sebelah depan berbentuk bundar, ada tangga pusing (tangga berputar) untuk naik tingkat pertama dan tangga kayu untuk naik ke tingkat diatasnya. Di kedua menara ini dulu para muazzin menyerukan azan dari dalam masjid.

Dua buah menara sebelah belakang, dinding dan pagarnya dibuat bersegi-segi. Baik untuk tingkat pertama dan tingkat kedua tidak diberi tangga sehingga kedua menara itu senantiasa dikunci pintu-pintunya.

Konon, mimbar lama masjid pulau Penyengat dibuat dari besi tukang berukir, dindingnya logam berkerawang, di bagian atasnya memakai tutup dari papan berukir timbul yang disepuh dengan timah putih.

Lalu mimbar itu diganti dari kayu jati berukir. Mimbar ini memiliki kembaran, salah satunya diletakkan di masjid Daik di Pulau Lingga, Riau. Mimbar ini agak kecil dibandingkan dengan mimbar di masjid pulau Penyengat.

"Diduga kedua mimbar itu berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Pada tahun 1826, Raja Ahmad ayahanda Raja Ali Haji pergi ke Semarang dan Juana serta singgah pula ke Jepara untuk membeli keranda karena Raja Ali Sakit keras dalam perjalanan sehingga diperkirakan meninggal dunia," paparnya.

Di dekat mimbar itu disimpan seceper pasir yang kabarnya berasal dari tanah Makkah. Pasir ini dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua. “Sampai sekarang pasir ini sering dipakai untuk upacara jejak tanah,”ucapnya.

Ada dua buah Alquran tulisan tangan yang tersimpan dalam masjid Pulau Penyengat. Alquran yang pertama dipajang dalam sebuah peti kaca ialah hasil goresan tangan Abdurrahman Stambul, seorang penduduk pulau Penyengat yang pernah dikirim oleh kerajaan Riau Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu agama.

Sekembalinya dari belajar dia menjadi guru dan terkenal dengan khat gaya Istambul. Pada tahun 1867 dia menyelesaikan penyalinan Alquran yang dikerjakannya sambil mengajar.

Alquran tulisan tangan yang lain disimpan dalam lemari Khutub Khanah Marhum Ahmadi, bertahun 1166 Hijriah yaitu bersamaan dengan tahun 1752 M. Diluar bingkai tulis terdapat tafsir yang ditulis dengan huruf kecil-kecil. Alquran ini sudah dalam keadaan rusak.

Peninggalan lainnya dari masa Kesultanan Riau Lingga di Masjid Raya Sultan Riau ialah 25 helai hamparan permadani Istambul yang sebagian masih dapat dilihat.

Selain itu masih terdapat sebuah lampu gantung yang disebut “kraun” (berasal dari kata crown), terbuat dari kaca potong halus dan indah. Biasanya dipasang ketika memperingati hari-hari besar Islam. Lampu ini hadiah dari Gubernur Jenderal Belanda Jean Christian Baud.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini