Ketika Bung Karno Berlinang Air Mata Tandatangani Vonis Mati Kartosoewirjo

Doddy Handoko , Okezone · Selasa 06 April 2021 06:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 06 337 2389940 ketika-bung-karno-berlinang-air-mata-tandatangani-vonis-mati-kartosoewirjo-oC7ELdjs6I.jpg Presiden Soekarno (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Sekarmaji Marijan Kartosoewirjo memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII) di Tasikmalaya pada tanggal 7 Agustus 1949.

"Harus diakui, kawan yang menjadi lawan paling tangguh bagi Sukarno adalah Kartosoewirjo. Dengan semangat dan jiwa militan, ia bahkan bisa melebarkan gerakan dan pengaruhnya hingga ke sebagian Pulau Jawa, Aceh, dan Sulawesi Selatan. Bersamaan dengan itu, Kartosoewirjo dengan DI-TII-nya memilih hutan-hutan di pegunungan Jawa Barat sebagai basis perjuangan melawan pemerintahan Sukarno,"kata Roso Daras, penulus buku 'Sukarno, Serpihan Sejarah yang Tercecer', Selasa (6/4/2021).

Prajurit TNI berhasil mendesak DI/TII, dan membuat Kartosoewirjo tak berdaya saat dijemput di Gunung Geber, Jawa Barat pada 4 Juni 1962. Sisa pasukan carut-marut tanpa imam besar yang sudah tertangkap.

Baca juga: Bulan Ramadhan, Bung Karno dan 50 Tusuk Sate

Sandi operasi penumpasan gerakan DI/TII oleh pasukan TNI adalah “Bharatayudha”. Sebuah sandi yang sarat makna.

Baca juga: Kisah Bung Karno Dilempar Granat oleh Teroris Anak Buah Kartosoewirjo

"Dalam epik Mahabharata, perang Bharatayudha adalah perang antaradua kelompok bersaudara: Pandawa dan Kurawa. Mereka sama-sama keturunan Bharata. Satu kelompok adalah putra Pandu Dewanata, sang pewaris tahta Kerajaan Astina. Kelompok ini dinamakan Pandawa. Kelompok yang lain adalah para putra Destarata, adik Pandu Dewanata," paparnya.

Akan halnya Bung Karno dan Kartosoewirjo. Keduanya adalah satu tumpah darah, darah Ibu Pertiwi bernama Indonesia. Jika Pandawa dan Kurawa sama-sama berguru kepada Begawan Drona, maka Bung Karno dan Kartosoewirjo pun sama-sama pernah berguru kepada HOS Cokroaminoto di Surabaya.

"Konflik bathin dan pesan moral yang tinggi menyelimuti peperangan akbar itu. Bagaimana ketika seorang putra harus tega menghabisi nyawa pamannya. Bagaimana ketika seorang adik harus tega menghabisi nyawa kakaknya. Wejangan-wejangan Bathara Kresna kepada Arjuna agar menegakkan dharma kesatria, bahkan diabadikan dalam Kitab Bhagawad Gita "ungkapnya.

Tak terkecuali ketika Bung Karno harus membunuh sahabat karibnya sendiri, saudara seperguruan, teman seperjuangan, Kartosoewirjo. Sebab, pengadilan memang memutuskan hukuman mati baginya. Bung Karno selaku Presiden harus menandatangani berkas vonis mati bagi kawannya.

Di sinilah batinnya berperang. Sejak ditangkap hingga tiga bulan kemudian, Bung Karno selalu menyingkirkan berkas kertas vonis mati atas diri Kartosoewirjo. Keesokan hari, manakala di antara berkas yang harus ditandatangani bertumpuk di atas meja kerja, dan ia dapati kembali berkas vonis mati bagi Kartosoewirjo, ia pun menyingkirkannya.

"Begitu berulang-ulang, hingga klimaksnya Bung Karno begitu frustrasi dan ia lempar berkas vonis tadi ke udara dan bercecer di lantai ruang kerjanya," ucapnya.

Adalah Megawati sang putri, yang secara khusus dipanggil pulang dari Bandung. Kepada sang ayah, Megawati bertutur laksana Kresna kepada Arjuna. Ia menggambarkan luhurnya hakikat pertemanan sejati.

Mega pula yang menyadarkan sang ayah, agar menepati dharmanya sebagai kepala negara, kepala pemerintahan, serta tidak mencampur-adukkan antara hakikat persahabatan dengan tugas dan fungsinya sebagai kepala negara.

September 1962, terpekur lama Bung Karno di meja kerjanya. Ia melambungkan memori masa muda di Surabaya, saat berasyik-ceria menebar canda bersama Kartosoewirjo.

"Ia mengingat hari-hari pergerakan menentang penjajahan Belanda maupun Jepang bersama-sama. Ia terngiang diskusi-diskusi politik, agama, kebangsaan dan apa saja yang begitu hangat. Hari itu, ia harus menggoreskan tanda tangan di atas berkas vonis. Coretan tanda tangannya, sama arti dengan akhir dari kehidupan Kartosoewirjo,"bebernya.

Bung Karno pandangi kembali selembar foto Kartosoewirjo. Ia tatap berlama-lama, sambil berlinangan air mata.

Dan benar adanya, ketika ia menerima laporan ihwal tertangkapnya Kartosoewirjo beberapa bulan sebelumnya, satu pertanyaan Bung Karno adalah, “Bagaimana matanya?”

Ketika tidak ada satu pun yang bisa menjawab, maka keesokan harinya, petugas menyodorkan foto Kartosoewirjo.

Demi melihat foto sahabat yang memusuhinya, Bung Karno tersenyum dan berkata, “Sorot matanya masih tetap. Sorot matanya masih sama. Sorot matanya masih menyinarkan sorot mata seorang pejuang.”

"Tegar hatinya untuk menandatangani berkas vonis mati bagi rekannya,"tukasnya.

(fkh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini