Kisah Tragis Budak Belian, Dijual 10 Dollar, Dicambuk dan Jadi Pemuas Nafsu

Doddy Handoko , Okezone · Senin 05 April 2021 06:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 05 337 2389321 kisah-tragis-budak-belian-dijual-10-dollar-dicambuk-dan-jadi-pemuas-nafsu-zaUexvKcDS.jpg Ilustrasi (Foto: Freepik)

PADA tahun 1814 terdapat iklan yang dimuat di sebuah dinding di pusat kota Batavia. Isinya melelang perabotan rumah tangga, barang-barang emas dan perak, beberapa gadis penarik, kereta dan kuda. Manusia dihargai sama dengan benda dan binatang. Dalam iklan lain disebut dijual beberapa budak belian perempuan yang pandai menari.

Biasanya budak belian yang pandai menari ini dibeli oleh tuan tanah Belanda yang suka membuat pesta atau para pengelola gedung-gedung pertunjukan seperti di gedung De Harmonie.

Ada pula iklan, berbunyi "Akan dijual seorang juru masak yang mahir, yang tidak kalah dengan siapa pun di Kota Batavia dalam hal membuat kue". Iklan ini terpasang pada sebuah dinding sudut Kota Batavia pada tahun 1816.

Baca Juga: Batavia atau Jakarta Pernah Dijuluki Kota Maut

Hendrik E. Niemejer dalam bukunya Batavia: Masyarakat Kolonial Abad XVII (2012) menuliskan tentang pembentukan Batavia, Niemejer mencatat bahwa kota ini dibangun dari puing-puing kehancuran Jayakarta pada 1619.

Penaklukkan Jayakarta menjadi penyebab penduduk asli meninggalkan Jayakarta, orang Jawa dilarang tinggal, dan di sekitar hutan masih dihuni banyak binatang buas. Kompeni yang ingin membangun Batavia sebagai kota dagang memilih untuk mendatangkan banyak budak.Para budak didatangkan dari berbagai wilayah baik dalam maupun luar negeri.

Di dalam negeri, Kompeni mendatangkan budak dari Maluku, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara. Sedang untuk budak dari luar negeri, Kompeni mendatangkan budak dari India, Sri Langka, hingga Filipina.

Sejarawan Betawi, Alwi Shahab menuliskan, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, JP Coen ketika membangun Batavia yang telah ditinggalkan oleh para penduduknya, melakukan perburuan terhadap masyarakat etnik di berbagai penjuru Nusantara. Gelombang pertama didatangkan budak-budak asal Bengali, Malabar dan budak-budak bekas peninggalan Portugis.

Baca Juga: Kisah Nama Batavia Lahir dari Serdadu VOC Mabuk dan Java Bier "Untuk Orang Kuat"

Yang masih dijumpai keturunannya di Tugu, Cilincing, Jakarta Utara. Kemudian perburuan dilakukan terhadap penduduk setempat dan daerah-daerah yang telah dikuasai Belanda.

Gubernur Jenderal Raffles (1781-1826), malah membawa serta budak-budak dari Cina. Pada abad ke-17 mayoritas penduduk Batavia adalah para budak dan Cina. Menurut statistik 1683, dari 14.259 orang Bali di Jakarta, hanya 981 orang saja yang statusnya merdeka. Selebihnya para budak.

Antara 1777 dan 1780, rumah Reinier de Klerk , pernah jadi Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada ,Jakarta Barat, digunakan sebagai kediaman resmi pejabat tinggi kolonial. Setelah de Klerk meninggal (1780), rumah ini dibeli Johannes Sieberg.

Ia kemudian menjadi Gubernur Jenderal (1801-1805) dan tinggal di gedung ini selama masa pemerintahan Prancis dan Inggris. Kemudian gedung ini kembali berpindah tangan kepada Jahoede Leip Jewgiel Igel, seorang Yahudi yang berasal dari Polandia.

Seperti juga de Klerk, Yahudi ini mempunyai empat anak dari hasil ‘kumpul kebo’ dengan budaknya. Waktu itu, banyak petinggi VOC yang memiliki gundik atau selir para budak tanpa dikawini.

Di rumah-rumah besar atau landhuis seperti di Gedung Arsip Nasional, banyak tinggal para pekerja berstatus budak belian. Nasib para budak tidak memiliki hak sama sekali dan diperlakukan seperti binatang, kerja tanpa dibayar. Banyak di antaranya yang dicambuk kemudian dipenjarakan hanya karena soal-soal sepele akibat pengaduan majikannya.

Boleh dikata hampir tidak ada hukum yang melindungi mereka. Yang menyedihkan, para budak yang sudah tua dan sakit-sakitan dibuang begitu saja agar sang majikan bebas memberi makan dan tidak menanggung risiko biaya bila budaknya mati.

Di salah satu gedung di Jl Kalibesar Timur, Glodok pernah menjadi tempat lelang dan jual beli budak. Demikian pula di bekas-bekas galangan kapal dan gudang-gudang yang kini masih tersisa di Pasar Ikan.

Seorang wanita dari Bali laku 50 hingga 100 dolar. Jauh lebih tinggi dari harga budak laki-laki yang berkisar antara 10-30 dolar. Seorang gadis yang sehat dan cantik pernah laku sampai 1.000 dolar. Pada masa Gubernur Jenderal de Parra (1761-1775), setiap tahun 4.000 budak diekspor ke Batavia.

Para keluarga Belanda benar-benar menikmati banyaknya para budak. Nyonya Cornelis Johana de Bevere (1689) dalam sebuah surat kepada keluarganya di Negeri Belanda menyatakan, ia dilayani 59 budak yang patuh dan semuanya tahu tugas mereka masing-masing. Mulai dari pembawa payung saat sang nyonya bepergian, tukang kipas, tukang masak, tukang kebun, tukang pasang lampu, hingga penjahit, dan tukang sepatu.

Banyak orang Cina yang memanfaatkan para budak sebagai gundik (istri piaraan) karena mereka datang ke Indonesia tanpa istri. Para serdadu kompeni juga memanfaatkan para budak sebagai teman hidup sementara. Setelah tak disukai, para budak ini dijualbelikan kembali, bersama anak-anak mereka.

Banyak di antara budak yang dijadikan sebagai PSK. Hasil dari uang haram seluruhnya masuk ke kantong si majikan. Budak yang paling beruntung yang dijadikan sebagai pembantu rumah tangga.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini