Wapres: Tak Percaya Covid-19 hingga Aksi Bom Bunuh Diri Contoh Cara Berpikir Sempit

Felldy Utama, iNews · Minggu 04 April 2021 12:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 04 337 2389089 wapres-tak-percaya-covid-19-hingga-aksi-bom-bunuh-diri-contoh-cara-berpikir-sempit-1W1qXVGBO6.jpg Wapres KH Ma'ruf Amin (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin menyebutkan contoh-contoh cara berpikir sempit yang tidak terbuka dengan perubahan zaman. Hal itu diungkapkan Wapres saat menjadi pembicara di acara Webinar Nasional IKADI & BNPT, Minggu (4/4/2021).

"Contoh sederhana cara berpikir sempit adalah tidak percaya bahwa Covid-19 adalah nyata, atau percaya pada teori-teori konsipirasi tanpa mencoba untuk memahami fenomena dengan akal sehat, dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan," ujar Ma'ruf.

Baca juga: Ma'ruf Amin: Kerukunan Antarumat Beragama Kunci Keharmonisan Bangsa

Tak hanya itu, kata dia, cara berpikir sempit juga merupakan salah satu penyebab munculnya sifat egosentris, tidak menghargai perbedaan pendapat serta tidak mau berdialog. Menurutnya, cara berpikir sempit juga bisa melahirkan pola pikir yang menyimpang dari arus utama atau bahkan menjadi radikal, sehingga dapat menjurus pada penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan masalah.

"Contoh paling aktual dari cara berfikir radikal terorisme yang menyimpang itu adalah peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar pada tanggal 28 Maret 2021," ujarnya.

Ma'ruf memandang, tindakan ini tidak sesuai dengan ajaran islam karena islam tidak mengajarkan kekerasan dan pemaksaan kehendak (ikrahiyyan) di dalam dakwahnya dan juga dalam memperjuangkan aspirasi melawan ketidakadilan.

Baca juga: Serangan Bom Makassar, Ma'ruf Amin: Pemerintah Terus Upayakan Kontra Radikal

Sebaliknya, islam mengajarkan cara-cara yang santun (layyinan), dan dilakukan dengan cara-cara nasihat yang baik (mau’izhah hasanah), serta berdialog dengan cara-cara yang terbaik (mujadalah billati hiya ahsan).

"Cara berfikir sempit seperti itu menghambat dan kontra produktif terhadap upaya membangun kembali peradaban Islam. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab mengapa banyak negara berpenduduk muslim masih mengalami ketertinggalan dalam bidang ekonomi, pendidikan, iptek dan bidang lainnya," tutur dia melanjutkan.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini